
putri Xixi menikmati sarapan paginya bersama dengan raja dan ratu, serta pangeran pertama..
sedangkan pangeran ke-empat tidak jadi bergabung dengan mereka, karena ia lebih memilih untuk mengantar selirnya kembali ke kediamannya setelah keributan itu..
""mulai saat ini kamu jangan sampai mencoba untuk dekat atau mencari masalah dengan putri xixi"".. ucap pangeran ke-empat sambil mengolesi obat luka, ke lutut Jing Zhou yg sedikit lecet..
"jadi kamu lebih membelahnya, aku tidak mencari masalah, aku hanya ingin dekat dengannya"" dengan wajah yang sedih
"bukannya aku membelahnya, tapi wanita itu, sangat licik, aku tidak ingin kamu terluka karenanya" ucapnya dengan lembut duduk di tepi ranjang dekat Jing Zhou, kembali memeluk tubuh Jing Zhou.
"terimakasih, atas perhatiannya, lalu mengapa, kemarin malam kamu tidak menemuiku, di malam pertama kita" sambil membalas rangkulan pangeran ke-empat
"aku memiliki banyak tugas istana yg harus aku selesaikan malam itu juga, aku minta maaff karena tidak datang kemarin malam". dengan penuh keyakinan
"bagaimana jika kita melakukannya sekarang"..
tanyanya, sambil mencoba mencium bibir pangeran ke-empat, namun dengan cepat ia menghindari ciuman Jing Zhou, tiba-tiba ia mengingat ciuman panas antara putri Xi xi, dan dirinya semalam.
"maaff tapi ini masih pagi hari, aku juga baru ingat kalau saat ini ibu ratu mengajakku, sarapan bersama, lebih baik kamu persiapkan diri, nanti malam aku akan bermalam denganmu" lalu kembali tersenyum sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Jing Zhou
di plaviun teratai, kediaman sang ratu. pangeran pertama dan putri Xi xi yg sudah selesai sarapan, bersamaan keluar, dari ruangan tersebut... pangeran ke-empat yg hendak memasuki ruangan tersebut, berpapasan dengan putri xixi, dan pangeran pertama, yg baru saja keluar dari ruangan itu..
"kebetulan sekali, pangeran ke-empat baru saja tiba, padahal semuanya telah selesai". ucapnya dengan sinis.
"aku peringatkan kepadamu, supaya pangeran pertama Jangan terlalu dekat dengan seorang wanita yang sudah bersuami".. sambil memandangi ke dua jarak orang tersebut yg agak dekat...
putri Xixi memandang ke arah pangeran pertama, lalu menuduk hormat, setelah itu ia kembali menatap pangeran ke-empat, dengan tatapan tak suka, lalu pergi begitu saja meninggalkan ke dua lelaki tampan itu, yg berdiri masih memperhatikan langkah putri Xi xi , ramput panjang yang tertiup oleh angin pagi, membuatnya semakin cantik, hingga menghilang dari pandangan mata keduanya..
"kamu liatkan, perempuan cantik itu, lebih hormat kepadaku, dia sangat cantik, aku tidak sabar mengambil nya dari kamu, dan menjadikannya milikku" ucapnya dengan penuh percaya diri
"kamu jangan pernah mencoba untuk merebutnya dariku, karena itu tidak akan pernah bisa terjadi".. sambil mengepalkan tangannya, dengan penuh kemarahan..
__ADS_1
"kamu ini egois sekali, ingin memiliki 2 wanita cantik, sekaligus, tpi kamu harus ingat, aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya, apalagi dengan selir kesayanganmu itu, terus mencari masalah dengannya" perintahnya dengan santai..
"kamu jangan pernah membawa bawah selirku ke dalam hal ini, ia tidak ada hubungannya dengannya, lagi pula dia hanya wanita yg poloss yg harus terlibat dalam istana ini" dengan kemarahan yang masih jelas di wajahnya..
"huu, aku lebih suka jika wanita polos yg kamu maksud itu, terus bersamamu, sehingga membuatku lebih banyak kesempatan untuk dekat dengan Wanitaku itu"" jawabnya dengan santai, sambil berlalu dari hadapan pangeran ke-empat
pangeran ke-empat yg merasakan sesak di dadanya akibat kemarahannya, segera kembali ke paviliun emas, kediamannya, diikuti oleh Lee Ran..
setelah tiba di kediamannya ia pun masuk kedalam ruang bacanya, dengan penuh kekesalan.. Lee Ran yg memerhatikan tingkah atasannya itu, yg penuh dengan kekacauan setelah pertemuan dengan pangeran pertama tadi..
"pangeran apa yg harus saya lakukan.?"tanyanya dengan ragu ragu
"awasi putri Xi xi, jangan sampai ia dekat dengan pangeran pertama" jawabnya sambil duduk di depan meja. lalu, mengambil selembar kertas dan menulisnya dengan tinta.
Lee Ran pun segera berlalu dari hadapan pangeran ke-empat, melaksanakan apa yang di perintahkan sang atasannya..
setelah kejadian siang itu berlalu, putri xixi pergi ke danau sakura, tempat yang ia datangi sebelumnya karena menurutnya hanya tempat itulah yang mampu membuat hatinya nyaman,
putri Xixi yg hampir mendekat ke arah danau , pandangannya tertuju pada seorang lelaki yang menakjubkan wajahnya yang berseri, angin lembut yang membelai rambutnya, menambah ketampanan di wajah indahnya, lelaki itu tak lain adalah pengeran pertama..
"mengapa kamu ada di sini".. sapa putri Xi xi, rupanya lelaki itu baru mengetahui keberadaan wanita cantik itu, ia lalu memandang ke arah Putri xixi berada
"apakah kamu baru tahu, bahwa di sini adalah tempatku"... sambil tersenyum
..... belum sempat Putri xixi, mengucapkan sesuatu, suara petir tiba tiba menggema di atas langit, dan di susul, oleh hujan deras, membasahi alam... membuatnya terhenti untuk berbicara kepada pangeran pertama.
dengan cepat pangeran pertama mengeluarkan jubahnya, yg ia pakai, lalu menaruhya di atas kepala, putri xixi.
jubah kebesaran itu melindungi seluruh tubuh putri xixi, dari derasnya air hujan.
keduanya pun bergegas menuju paviliun, yg tak jauh dari tempat mereka, paviliun Tersebut adlah Milik pangeran pertama yg biasa di datangi pangeran pertama,
__ADS_1
serta di gunakan untuk menginap.
tanpa mereka sadari seorang yg berdiri di dalam derasnya hujan, terus mengawasi mereka, sampai keduanya masuk kedalam paviliun Tersebut, kemudian orang itu menghilang di balik derasnya hujan..
...***...
"pangeran, putri Xi xi pergi ke kediaman pangeran pertama". Lee Ran yg tiba2 muncul menghadap pangeran ke-empat..
"terus awasi dia, jangan sampai mereka melakukan hal-hal yang melewati batas"ucapnya dengan santai.
kemudian Lee Ran pun mengangguk sambil berlalu dari hadapan pangeran ke-empat..
...***...
matahari mulai terbenam di ufuk barat, namun hujan deras tak kunjung reda, pangeran ke-empat yg mulai gelisah, segera bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, menuju serambi kamarnya, lalu berdiri , dengan perasaan gelisah ia memandang Hujan deras, yang masih mengguyur bumi, yang tak kunjung selesai mengalir..
"aku tau, kamu tidak mendorongnya, tapi kamu tau aku mencintainya, tapi mengapa, kamu selalu membuatku gelisah" ucapnya kepada diri sendiri, tidak ada yg mendengarnya, kecuali hujan deras yang menjadi saksi bisu atas kegundahannya.
tak terasa malam sudah semakin larut, namun Hujan masih enggan untuk berhenti, pangeran ke-empat masih berada di atas serambi kamarnya, pandangannya pun tak pernah lepas dari kejauhan, tempat kediaman putri xixi, yg masih nampak gelap, seperti alat penerang, belum dinyalakan, bertanda penghuninya belum pulang..
"sebaliknya aku tidur saja, aku akan menunggu besok pagi, laporan dari Lee Ran" iapun segera meninggalkan serambi, lalu masuk ke dalam ruangan kamarnya untuk membaringkan tubuhnya, dan lelap dengan mimpinya.
tidak peduli dengan Jing Zhou yg mulai gelisah menunggu kedatangan nya sejak tadi..
putri Xixi
Pangeran ke-empat (Xi fanng)..
__ADS_1
Jing Zhou