
"Drrrttttt.....drrttt," bunyi ponsel bergetar.
"Hoam... ck! Siapa yang berani menggangguku pagi-pagi begini!" kesal El.
Ia pun meraih ponselnya yang ada di meja samping tempat tidurnya. Dengan mata yang masih setengah terbuka, ia membaca nama yang tertera di ponselnya.
"Brayn, ck! Dasar bocah pengganggu!" umpatnya.
El menggeser tombol hijau dan panggilan pun tersambung.
"Woy! Lo ga kuliah?" suara dari seberang telpon.
Sontak El menjauhkan ponsel dari telinganya. Pasalnya orang yang di seberang telpon sana teriak agak kencang hingga membuat El menjauhkan ponselnya.
"Berisik!" balas El dengan nada dinginnya.
"Pertanyaan ku belum kau jawab El!" kesal Brayn.
"Untuk apa kau mengurusi ku! urus lah urusanmu sendiri!!" ucap El lalu mematikan sambungan telponnya.
...****************...
"Sialan dimatiin!" umpat Brayn.
"Dia ga tau apa ini udah jam berapa!" gumamnya kesal.
"Terserahlah, kalau dia terlambat bukan salahku!" ucapnya lagi.
Brayn pun melangkah pergi menuju kelasnya.
...****************...
Setelah memutuskan sambungan telpon dari sahabatnya itu, El kembali memejamkan matanya dan meletakan sembarang ponselnya di atas kasur.
"Emangnya sekarang jam berapa sih?" batinnya.
El pun meraba-raba kasur mencari ponselnya. Ia melihat jam di ponselnya. Tertera di ponselnya sudah menunjukan pukul 07.25 EST
"Baru jam segini," ucapnya enteng.
Ya, begitulah kehidupan sehari-hari pria tampan itu. Padahal jam 07.30 EST sudah jam masuk kelas. Namun, pria itu selalu saja telat dan sesekali ia sering tidak mengikuti jam perkuliahan alias bolos. Tentunya itu membuatnya sering mendapat surat panggilan dari kampusnya.
Elzo Samuell yang akrab dipanggil El ini adalah salah satu mahasiswa idaman para kaum wanita di kampusnya. Padahal pria satu ini tidak ada perawakan bagusnya, hanya saja wajahnya yang memang sangat tampan. Atau zaman sudah berubah? entah kenapa perempuan kini lebih menyukai lelaki rupawan yang berandalan atau dikenal bad boy. Mungkin cowok bad boy kelihatan keren di mata mereka atau ada alasan lainnya yang mungkin persepsi yang berbeda dari setiap orang.
Sekarang El berada di tingkat 2. Sudah dua semester dilaluinya. Tak sedikit pula kasus yang ia buat di kampusnya. El memang tak suka mengurusi hidup orang lain, namun saat sudah berkaitan dengan keluarga atau orang yang dia cintai maka pria itu tak segan-segan membunuh orang itu. Ia tidak suka jika orang-orang terdekatnya diusik.
Kini jam sudah menunjukan pukul 07.45 EST. El baru saja tiba di kampusnya. Ia memarkirkan motor sport nya di tempat parkiran mahasiswa. El menyampirkan ransel hitamnya di bahu kanannya. Ia berjalan menuju kelasnya yang di mana kelasnya sama dengan Brayn.
__ADS_1
Brayn Remicco yang akrab dipanggil Brayn adalah sahabat kecilnya El. Mereka berdua tumbuh bersama sedari mereka masih di kandungan. El dan Brayn lahir di hari yang sama hanya saja berbeda jam, dengan El yang lahir lebih dulu kemudian Brayn. Entah kebetulan atau memang sudah takdir. Kedua orang tua mereka juga sudah berteman sejak lama. Keduanya sangat dekat bahkan tak jarang orang-orang mengira mereka bersaudara. Brayn memiliki wajah yang tampan tapi lebih imut, sedangkan El sangat dingin dan cuek.
"kling" suara notif ponsel milik El.
El merogoh sakunya, melihat pesan masuk beberapa detik lalu. Siapa lagi yang mengirim pesan kalau bukan sahabatnya itu. Seperti itulah setiap hari, Brayn akan merusuh El di chat saat pria itu belum juga tiba di kelas. El membuka pesan dari Brayn.
"El kau dimana? Kau tahu hari ini mata kuliah Bu Devi kan? Bu Devi tadi menanyakan mu! kau membuat ku repot setiap hari menjawab pertanyaan dari dosen itu!!!" ketik Brayn dalam pesannya.
El tersenyum samar sampai senyum itu tidak terlihat. Ocehan Brayn di chatnya membuat El kasihan pada sahabatnya itu karena ulahnya. Tapi bukan El namanya kalau tidak berbuat ulah. El hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Ia pun memasukan kembali ponselnya ke saku celananya. El kembali melangkah ke arah kelasnya namun belum sampai tangga menuju kelasnya ia berbelok ke arah kiri yang dimana menuju ke kantin. El merasa perutnya butuh asupan karena dirinya tidak sempat sarapan tadi.
El duduk di salah satu bangku yang ada di kantin itu. Ia mengedarkan pandangannya ke arah post jualan yang paling pojok. Matanya bertemu pandang dengan Pak Ujang pemilik post jualan langganannya. Seolah sudah menjadi rutinitas, Pak Ujang sudah mengerti tatapan mahasiswa langganannya yang satu ini.
"Sebentar ya kasep," ucap pak Ujang sambil tersenyum ke arah El.
El membalas dengan senyuman tipis. Hanya kepada orang-orang tertentu dia akan bersikap ramah. Seperti yang dilakukannya saat ini ke Pak Ujang. Beliau sudah dianggap El seperti bapaknya sendiri. Pasalnya El sekarang tinggal sebatang kara tanpa kedua orang tuanya. Pak Ujang sudah lama berjualan di kantin Harvard university ini. Biasanya ia berjualan bersama sang istri yaitu Bu Ratna. Kedua pasangan itu belum mempunyai anak maka dari itu Pak Ujang dan istrinya juga menganggap El seperti anaknya. Setelah menghabiskan sarapannya, El menuju ke kelasnya.
...****************...
"Permisi," ucap El dingin.
Sontak seluruh orang yang berada di kelas itu menatap ke arah pintu.
"Dari mana saja El?" tanya Bu Devi.
"Telat bangun," jawabnya dingin.
"Duduklah! Saya akan memberi tugas tambahan untukmu setelah jam perkuliahan saya selesai," ucap Bu Devi tegas.
Matahari sudah hampir di atas kepala menandakan hari sudah siang. Tepat pukul 12.00 EST waktunya untuk istirahat dan perkuliahan kembali dimulai pukul 13.00 EST. Seperti biasa, El akan menghabiskan waktunya di bawah pohon rindang di taman belakang kampus. Ia memejamkan mata sembari menikmati udara sejuk di bawah pohon itu.
Hari menjelang pukul satu siang, perkuliahan akan kembali seperti biasa. Namun, siang ini Harvard university dihebohkan dengan kedatangan mahasiswa baru yang katanya cantik. Terutama para pria yang mendengar kata cantik langsung kepo ingin melihat apakah benar mahasiswa baru yang datang adalah seorang gadis cantik.
"Woah... bidadari," ucap salah satu pria yang melihat paras cantik maba itu.
"Mimpi apa gue semalam, ada ya cewek secantik itu?" timpal yang lainnya sembari terus menatap mahasiswi baru itu.
Semuanya yang ada di sana heboh. Para pria tak henti mengagumi kecantikan gadis itu. Namun, jangan lupakan juga ada cibiran halus dari cewek-cewek yang iri karena gadis itu mendapat banyak pujian. Mendengar keriuhan tersebut, El yang sedang berada dalam ketenangannya pun terganggu.
"Berisik! ribut-ribut apa sih?!" gumam El kesal karena mengganggu ketenangannya.
El pun beranjak dari duduknya. Ia meraih ranselnya dan berjalan menuju kelasnya. Sesampainya di depan kelas...
"El! Lo dari mana aja? Tadi kan gue bilang tungguin gue ke WC bentar, terus ke kantinnya bareng. Tiba-tiba Lo udah ga ada aja, terus gue-" ucap Brayn terpotong oleh suara dingin El.
"Berisik! Ga usah ngoceh!" ucap El kemudian melangkah masuk ke kelas.
"Gue belum selesai ngomong El!" ucap Brayn sambil menyusul El dan menepuk bahunya.
__ADS_1
"Ga usah pegang-pegang!" menepis pelan tangan Brayn di bahunya.
"Dasar kutub!" sindir Brayn.
El memutar malas bola matanya. Kemudian ia duduk di kursinya. Tak ada sedikitpun rasa penasaran El akan keriuhan di lapangan tengah kampusnya. Ia lebih memilih bersandar bertumpukan lengannya di atas meja sambil memejamkan matanya.
Tak lama kemudian mahasiswa/i yang berkerumun tadi kembali ke kelas masing-masing karena dosen sudah masuk dan akan memulai perkuliahan. Bu Laura, salah satu dosen yang akan mengajar di kelas El siang ini datang bersama mahasiswi baru yang ternyata akan menempati kelasnya.
"Siang semuanya!" Sapa Bu Laura saat masuk kelas dan seorang gadis mengikutinya.
"Siang Bu!" balas mahasiswa/i di kelas kecuali El yang kini masih nyaman memejamkan mata.
Seisi kelas menyambut kedatangan mahasiswi baru itu. Walaupun terlihat beberapa yang biasa saja.
"Silahkan perkenalkan dirimu," ucap Bu Laura kepada gadis itu dan disambut oleh anggukan dari gadis tersebut.
"Hallo semuanya! perkenalkan nama saya Zemora Afrazela, biasa dipanggil Mora. Salam kenal semua!" ucapnya diakhiri senyum yang sangat menawan membuat para lelaki yang melihatnya akan meleleh.
"Ya Tuhan, jantungku," ucap salah satu mahasiswa yang terpesona dengan senyuman Mora.
"Oh tidak! Setelah ini aku pasti akan diabetes. Manis sekali!" timpal yang lain.
Bu Laura hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan mahasiswanya itu.
"Sudah-sudah. Baik Mora, silahkan duduk di tempat yang kosong ya," ucap Bu Laura.
"Baik Bu, terima kasih," ucap Mora dan ia pun menghampiri kursi kosong yang hanya tersisa satu di kelas itu.
Saat Mora meletakan tasnya di meja El merasa terusik dan ia pun mendongakkan kepalanya menatap seseorang di sampingnya. Ya, kursi kosong itu tepat di samping El. Mata El bertemu dengan mata coklat gadis itu. El terdiam sejenak sambil matanya menatap netra gadis itu.
"Hai! aku duduk di sini ya," ucap Mora lalu tersenyum ramah.
El memutus pertemuan matanya dengan Mora. Ia hanya mengangguk tanda setuju, lalu ia mengalihkan pandangannya keluar jendela di sampingnya. Mora pun duduk di sampingnya. Perkuliahan pun dilanjutkan kembali.
"Apa aku pernah bertemu dengannya?" batin El sambil sesekali melirik gadis di sampingnya.
...----------------...
NOTE: EST (Eastern Standard Time), karena latar cerita saya di AS jadi mohon maaf sebelumnya saya mengubah beberapa detail kecil seperti zona waktunya.
Penasaran gimana kelanjutan kisahnya? yuk pantengin terus ya novel ku, jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan vote yaa...
Thanks sudah mampir❤️🥰🤗
See You next Chapter 👋
__ADS_1
Salam Manis Author
RaSgta~