
"Hoaam, sudah jam berapa ini?" gumam El kemudian meraih ponselnya di atas meja di samping kasurnya. Dengan mata yang masih setengah tertutup El menatap jam di layar ponselnya.
"Jam tujuh." gumamnya dan meletakan sembarang ponselnya di atas kasur, kemudian kembali memejamkan matanya.
Baru lima menit ia memejamkan mata, ponselnya bergetar.
"drttt....drtttt"
"Siapa lagi yang mengganggu pagi-pagi begini?!" batin El kesal masih memejamkan mata. Ia membiarkan ponselnya berdering dan tidak berniat untuk melihat ataupun mengangkat ponselnya sama sekali. Tak lama suara getaran ponselnya berhenti El melanjutkan tidurnya.
"drrttttt.....drtttttt...."
"Bangs*t! Mau gue bunuh ni orang?!" kesal El dan mengambil kasar ponselnya di kasur.
"Nomor ga di kenal, siapa?" batin El kemudian ia menggeser tombol hijau.
Panggilan tersambung.
"Halo, selamat pagi," suara seorang gadis dari ponsel El.
"Siapa?" tanya El dingin.
"Emm, maaf mengganggumu. Aku Mora..." jawab gadis itu.
"Mora? Bagaimana bisa dia dapat nomor ponselku?" batin El.
"El, apa aku boleh minta tolong?" tanya Mora hati-hati karena ia tahu saat ini ia berhadapan dengan siapa. Seorang bad boy dingin yang sudah seperti kulkas sepuluh pintu. Dinginnya berkali kali lipat.
"Tunggu, Lo dapat nomor gue dari mana?" tanya El.
"Eh, itu bukannya kamu yang kasih waktu itu." jawab Mora.
"Ha, gue yang kasih? kapan? kok gue lupa si", batin El sambil mengingat-ingat.
"Astaga!!!!" gumam El sambil menepuk pelan jidatnya.
.
.
.
*Flashback On*
Beberapa hari yang lalu El pernah bertemu dengan Mora saat Mora sehabis pulang bekerja. Mora yang bekerja part time di toko bunga milik ibu temannya itu baru saja keluar dari toko dan hendak pulang kerumahnya. Biasanya ia akan naik angkutan umum karena jarak toko dengan rumahnya lumayan jauh. Namun, hari ini Mora pulang terlambat.
Sudah jam enam sore dan nampaknya angkutan umum yang melewati jalan itu sudah tidak ada lagi. Nadine temannya Mora sudah menawarkan untuk mengantarkannya, tetapi Mora menolak ia memilih untuk berjalan kaki saja.
Di perjalanan ia tak sengaja bertemu dengan El yang habis keluar dari minimarket yang di lewatinya.
"Eh, Lo?" ucap El.
"Ehh, hai El." sapa Mora.
"Mau kemana Lo?" tanya El dengan wajah datarnya yang menatap Mora dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Rambut panjangnya yang diikat satu, memakai kaos merah muda yang sudah sedikit basah di area lehernya dan celana joger hitam juga sepatu kets hitam. Gadis itu membawa totebag di tangannya. Nampak bulir-bulir keringat membasahi wajah putihnya.
"Mau pulang El," jawab Mora.
El melihat ke sekeliling Mora dan Mera mengikuti arah pandang El, "Sendiri?" tanya El lagi.
"Iya." jawabnya.
"Dari tempat kerja Lo?" tanya El dan hanya di jawab oleh anggukan Mora.
__ADS_1
El beberapa hari ini memang sering memperhatikan Mora yang bekerja part time di toko bunga yang pernah ia datangi bersama Brayn. Namun, biasanya El melihat Mora naik angkutan umum saat pulang bekerja. Hari ini di jam yang sama, El tadi melewati toko bunga itu dan ia tidak melihat Mora di sana. Tentu saja Mora tidak ada karena ia hari ini terlambat pulang dan setelah El pergi tak lama dari itu Mora baru keluar dari toko tempatnya bekerja.
"Naik." titah El setelah beberapa saat ia sudah berada di atas motor.
"Ha?" ucap Mora bingung dengan sikap El.
"Naiklah, gue antar Lo pulang." ucap El.
"Ga usah El, aku-" ucap Mora yang di potong oleh El.
"Ga ada penolakan!" ucapnya dingin.
"Baiklah, maaf merepotkan mu." ucap Mora kemudian naik ke motor sport El. El pun melesatkan motornya membelah jalanan menuju rumah Mora.
"Terima kasih ya El." ucap Mora lalu tersenyum.
El menyodorkan sebuah kertas yaitu kartu namanya, "Hubungi gue jika butuh bantuan." ucap El lalu segera pergi setelah Mora menerima kartu nama yang diberinya.
*Flashback Off*
.
.
.
"Ohh iya, Lo mau minta tolong apa?" tanya El.
"Aku hari ini ga bisa masuk karena sakit. Apa aku boleh menitipkan tugasku?" ucap Mora.
"Oh boleh. Nanti gue ke rumah Lo sebelum ke kampus." ucap El.
"Makasih banyak ya El. Maaf aku ngerepotin kamu terus." ucap Mora lega karena El mau membantunya.
"Kenapa aura dinginnya pun masih tetap kerasa walau cuma lewat ponsel gini." batin Mora.
"Kalau begitu aku tutup dulu ya. Sekali lagi makasih El." ucap Mora dan buru-buru menutup panggilannya.
"Huaa, jantungku. Dia sangat menyeramkan dan kadang-kadang mengesalkan juga."ucap Mora sambil mengatur napasnya karena sedari tadi ia sangat tegang berbicara dengan El di telpon.
...****************...
Pukul 07.20 EST, El sudah sampai di depan rumah Mora. Ia turun dari motornya dan masuk ke teras kecil rumah Mora yang didesain sederhana dan modelan rumah zaman dahulu. Ya karena itu adalah rumah neneknya yang sudah hampir 40 tahun berdiri di sana. El mengetuk pintu.
"Dia sudah datang? cepat sekali." batin Mora yang mendengar ketukan pintu. Mora pun berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
Cklek
"El, ini tugasku. Maaf ya jadi merepotkan mu." ucap Mora sambil menyodorkan tugasnya.
"Ga kok, santai aja." ucap El sambil menerima tugas Mora.
"Lo sakit apa?" tanya El yang melihat wajah Mora sedikit pucat.
"Demam biasa kok tapi aku ingin istirahat dulu makanya izin ga masuk kuliah." jelas Mora.
"Lo pasti belum sarapan kan? Nih..." ucap El sambil menyodorkan plastik yang berisi sekotak bubur ayam.
"Loh El, kok bawa bubur ayam segala?" ucap Mora sungkan kepada El. Mora merasa tidak enak karena telah banyak merepotkan laki-laki itu.
"Ga apa, gue pergi dulu ya." ucap El lalu bergegas pergi.
...****************...
"El, Lo mau kemana?" tanya Brayn yang melihat El buru-buru menaiki motornya.
__ADS_1
"Ada urusan." ucap El dan kemudian melajukan motornya.
"Ada urusan apa dia? tumben buru-buru gitu." gumam Brayn.
"Ah, sudahlah. Lebih baik aku pulang." batinnya.
El kini sudah berada di depan sebuah rumah seorang gadis. Ia mengetuk pintunya dan muncul seorang gadis dari balik pintu tersebut.
"Loh, ada apa El?" tanya Mora yang terkejut mendapati El mendatangi rumahnya.
"Gue ga di suruh masuk dulu gitu?" ucap El sewot.
Mora mematung menatap El penuh heran. Laki-laki itu tak biasanya bersikap sewot melainkan hanya dingin dan juga cuek. Mora yang mematung dengan pikirannya tak menyadari bahwa El sudah masuk kedalam rumahnya dan mendaratkan bokongnya di sofa empuk di ruangan tamu. Mora membelalakan matanya setelah menyadari dan melihat El sudah duduk di sana.
"Rumah Lo bagus juga ya." ucap El santai sambil bersandar di sofa.
"Ada apa kau kesini El?" tanya Mora yang kemudian duduk di sofa depan El.
"Emang gue ga boleh main ke rumah Lo?" tanya El dengan yang berubah datar.
"Ya, boleh sih. Tapi kan-"
"Udah cepet sana Lo ganti baju. Gue mau bawa Lo ke suatu tempat." ucap El.
"El aku lagi izin sakit gimana kalo ada yang liat aku jalan-jalan. aku nanti dibilang sakit bohongan lagi." ucap Mora.
El langsung beranjak dan meletakan punggung tangan kanannya di dahi Mora, sontak Mora mengernyitkan dahinya dan memundurkan sedikit tubuhnya. El menatap Mora intens begitupun dengan Mora yang membatu menatap El.
"Kalo sakit ga bagus di rumah terus. Lo harus cari udara segar biar cepat sembuh." ucap El dengan lembut sambil menatap Mora.
Mora yang mendapati perlakuan lembut dari El pun membuatnya salah tingkah.
"Buruan ganti baju, nanti makin sore." titah El.
Mora pun berlari cepat ke kamarnya tanpa menjawab El. Ia sudah tidak tahan lagi dengan serangan yang di berikan El. Jantungnya sudah hampir copot melihat El yang menatapnya seperti itu dan bersikap lembut padanya.
"Huaaa, kenapa dia bisa ganteng banget sih?" teriak Mora dalam hati. Mora mengatur napasnya dan menatap dirinya di cermin.
"Masa sih aku suka sama dia?" gumamnya.
"Bodo lah. Cepat ganti baju sebelum dia berubah menjadi sedingin kulkas sepuluh pintu." gumam Mora dan langsung bergegas mengganti pakaiannya.
"Ayo, aku sudah siap." ucap Mora yang barusan keluar dari kamarnya.
El menatap Mora dengan kagum. Seorang gadis didepannya bagaikan bidadari. Dress hitam selutut dengan rambut yang diikat setengah membuat Mora terlihat dewasa dan elegan.
"Kenapa menatapku?" tanya Mora.
"Ga apa-apa." jawab El.
"Lo cantik," gumamnya.
"Ha? kenapa El?" tanya Mora yang mendengar sekilas gumaman El.
"Ga, ayo berangkat." ucap El lalu berjalan keluar dan disusul oleh Mora.
...----------------...
Maaf ya aku baru up, semoga kalian enjoy baca ceritanya🤗 Lanjut lagi di bab berikutnya nanti ya. siapa nih penasaran si El mau bawa Mora kemana? ayo tebak yang bisa jawab author kasih setangkai bunga hehe😅😁
See You Next Chapter 👋
Salam Manis Author
RaSgta~
__ADS_1