Penakluk Hati Bad Boy

Penakluk Hati Bad Boy
Bab 6 : Antara Hati dan Pikiran El


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 12.00 EST. Seluruh mahasiswa/i di Harvard University seperti biasa akan istirahat makan siang hingga pukul 13.00 EST. Namun hari ini kelas El tidak ada mata kuliah setelah istirahat siang. Kini El berada di tempat favoritnya di kampus itu. Ia sedang bersandar di bawah pohon sambil memejamkan mata dengan earphone yang terpasang di telinganya. Ia menikmati lagu favoritnya yaitu berjudul Fight Song dari Rachel Platten. Lagu itu sangat menggambarkan kehidupannya, bagaimana saat ini ia merasa sendirian dan kehilangan banyak hal di masa lalunya dan ini menjadi sebuah lagu penyemangat hidupnya meski dalam keadaan yang buruk.


"Prove I'm alright song..." gumam El dengan mata yang masih tertutup.


(Lagu pembuktian bahwa aku baik-baik saja...)


Hingga lagu itu berakhir, El membuka matanya menatap lurus kedepan. Ia melepaskan earphone dari telinganya dan segera beranjak menuju ke kelas untuk mengambil tas. Setibanya di kelas, mata El mengedar ke seisi ruang kelasnya. Hanya ada satu mahasiswi yang masih duduk di kursinya sambil membaca sebuah buku. Saking fokusnya ia tidak menyadari kehadiran El di sana.


"Oh no! ga mungkin MC cowok nya mati secepat itu?" ucap Mora sedikit kuat dengan matanya yang membelalak menatap buku yang di bacanya.


El yang mendengarnya pun mengernyitkan dahinya.


"Apa yang dia baca sampai ekspresinya begitu?" batin El.


El melangkah mendekatinya. "Love Scenario," ucap El membaca judul yang tertera di cover buku milik gadis itu.


"Ehh?" gadis itu terkejut akan kehadiran El di sana.


"Gue cuma mau ambil tas. Sorry ganggu." ucap El dingin.


"Oh, ga apa-apa kok ga ganggu juga." ucap gadis itu.


Setelah menggambil tas, El segera menuju keluar kelas.


"Eh, sebentar. Makasih ya buat minumnya tadi." ucap gadis itu lalu tersenyum manis.

__ADS_1


El yang melihat senyuman itu langsung memalingkan wajahnya. Entah mengapa baginya senyuman gadis itu sangat manis dan membuatnya tersipu.


"Ya, sama-sama...Mora. Gue duluan ya." Ucap El sedikit lembut lalu bergegas meninggalkan kelas.


"Ternyata dia bisa juga bicara lembut begitu meskipun masih agak dingin sih." kekeh Mora dalam hati.


...****************...


El sudah tiba di rumahnya. Baru beberapa langkah ia masuk, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hmm, ada apa?" ucap El dingin.


"Kau sudah di rumah?" suara seorang laki-laki dari seberang telepon.


"Bukan urusanmu." ucap El.


Ya lelaki itu adalah Brayn sahabatnya El.


"Lalu harus bagaimana?" tanya El dingin.


"Jangan dingin seperti itu." ucap Brayn.


"Aku memang sudah begini dari dulu." ucap El.


"Mana ada! Dulu kau sedikit lebih hangat El." sergah Brayn.

__ADS_1


"Sudah jangan bahas masa lalu!" ucap El semakin dingin dan tanpa sadar ia mengepalkan tangannya. Kemudian El langsung memutuskan sambungan panggilannya.


...****************...


El berdiri dibawah kucuran air shower. Mendinginkan kepalanya yang mulai memanas tadi karena sahabatnya. Memori masa lalu El terputar kembali di pikirannya. Bersama buliran air shower yang membasahi wajahnya, El menitikan air mata. Sudah kurang lebih empat tahun ia jalani hidupnya yang berawal dari luka yang tak kunjung pulih.


Setelah menumpahkan kesedihannya, El berganti pakaian dan kemudian berjalan ke balkon kamarnya. Ia mengambil sebatang rokok dan korek. Di sesapnya rokok itu kemudian di hembuskan asapnya. Saat ini ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Di sela-sela pikirannya yang kembali mengingat kejadian masa lalu terselip bayangan wajah gadis cantik yang beberapa hari ini El merasa nyaman berada di dekat gadis itu. Namun, rasa sakit yang dialaminya membuat ia trauma untuk memulai sebuah hubungan dengan gadis manapun. Tetapi setelah sekian lama dari kejadian kelam itu El tidak pernah merasakan hatinya berdetak ketika bersama wanita dan ketika Mora hadir entah mengapa hatinya berdesir.


"Aku sudah lama tidak merasakan perasaan seperti ini. Apa aku harus mulai membuka hati?" batin El. "Tapi, aku benci dengan kejadian itu yang membuat diriku sendiri tak percaya lagi akan cinta! aku tak ingin itu terjadi lagi!!!" teriak El dalam hati.


"Aku tidak boleh hanyut dalam perasaan hatiku. Karena hati adalah musuh terbesar di dalam diri. Ia bisa saja memberikan kebahagiaan tapi dia bisa menjadi penghianat yang memberiku rasa cinta lalu membuatnya menjadi kecewa dan rasa sakit." ucap El dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ayo El. Kubur rasa sukamu itu, jangan sampai kau mengulang kesalahanmu yang dulu. Terlalu percaya pada hati sendiri itu juga tidak baik. Terkadang kita harus tetap menggunakan logika. Tapi nyatanya hati memiliki kekuatan yang besar untuk menguasai diri ini." batin El.


Pergelutan antara El dengan hatinya yang kini merasakan sesuatu yang berbeda kepada Mora. Apakah itu rasa cinta? Jika iya, entah kenapa saat ini El belum siap untuk menerima perasaan dirinya sendiri. Ia mengakui bahwa dirinya kini mulai tertarik dengan Mora. Namun, apakah perasaannya terhadap Mora bisa berakhir bahagia? atau malah lebih buruk dari peristiwa kelam di masa lalunya?


Semua yang El pikirkan itu membuatnya tidak tahu harus bagaimana. Jujur saja, hatinya tak sanggup bila harus mengulang rasa sakit yang sama atau malah lebih sakit dari yang pernah ia rasakan.


"Luka lama pun belum pulih, apa jadinya ia jika harus menerima rasa sakit itu lagi." pikir El.


El kembali masuk ke kamarnya dan ia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mulai memejamkan mata. Masih berkecamuk bersama hati dan pikirannya, hingga ia terlelap.


...----------------...


See You Next Chapter 👋

__ADS_1


Salam Manis Author


RaSgta~


__ADS_2