
El langsung masuk ke dalam mobil. Ia pun bingung dengan sikapnya sendiri. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba amarahnya melonjak.
"Ada apa denganku? Kenapa aku harus kesal dengan yang dilakukan Brayn tadi kepada gadis itu?" batin El.
"Hahh... Sudahlah El jangan dipikirkan." batinnya lagi sambil menetralkan kembali emosinya.
Cklek
"Hey, kau ini selalu saja meninggalkan ku!" kesal Brayn kemudian duduk di kursi kemudi dan menutup pintu mobil.
El hanya melirik sekilas Brayn yang kesal padanya dan kemudian ia menyibukkan diri dengan ponselnya.
"El apa menurutmu Mora cantik?" tanya Brayn tiba-tiba.
"Kenapa dia ini tiba-tiba bertanya seperti itu? apa dia menyukai gadis itu?" batin El sambil menatap sinis Brayn. Entah kenapa El merasa kesal dengan pertanyaan Brayn yang seakan sahabatnya itu tertarik dengan gadis itu.
"Kenapa kau malah menatapku begitu?" tanya Brayn mengernyitkan dahinya.
"Tidak." ucap El lalu membuang muka.
"Ha..Tidak? Tidak cantik maksudmu?" ucap Brayn.
"Sudahlah! Untuk apa menanyakan hal yang tidak penting!" ucap El dengan sedikit kesal.
"Kau ini kenapa sih sensi sekali seperti wanita yang sedang datang bulan. Aku hanya bertanya saja!" dengus Brayn yang kemudian mendapat tatapan sinis dari El.
"Cepat antar aku pulang!" titah El.
__ADS_1
"Iya..iya. Ga usah marah-marah nanti cepat tua!" celetuk Brayn tak digubris oleh El.
Brayn menjalankan mobilnya untuk mengantar El.
...****************...
Keesokan harinya, tidak seperti biasanya El tiba di kampus lebih awal. Pukul 07.30 EST, ia sudah berada di parkiran kampus. Entah ada angin apa pagi ini El tidak menghabiskan waktunya di kantin untuk sarapan. Ia malah berjalan dengan santai menuju kelasnya. Dan kini El telah berada di kursinya. Mora yang juga sudah datang dua menit sebelumnya sudah duduk di kursinya dan sedang membaca buku mata kuliah yang sebentar lagi akan dimulai. El sesekali melirik gadis di sebelahnya yang sedang fokus dengan bukunya itu.
"Gadis yang rajin," gumam El lalu tersenyum tipis.
Tak lama, seorang pria dengan tubuh agak gemuk, memakai kacamata kotak dan rambutnya yang sudah sedikit memutih itu masuk ke kelasnya.
"Selamat pagi!" ucap pria itu dengan suara tegasnya lalu duduk di kursi pengajar.
Prof. Hellen, merupakan salah satu dosen di Harvard University yang terkenal killer. Semua mahasiswa menjawab sapaan dosen tersebut lalu mereka semua langsung fokus pada perkuliahan.
"Hey boleh gue pinjam catatan lo?" ucap El tiba-tiba dengan nada dinginnya.
"CK! Lo tuli?!" sentak El dengan suara agak kuat.
"Eh, kau bicara denganku?" ucap Mora sedikit kaget.
"Ada apa itu? kenapa ribut dikelas saya!" ucap prof. Hellen.
Seketika suasana kelas hening mendengar suara berat dosen killer itu. Ia menatap tajam kedua orang yang tengah gaduh di belakang sana. Mora menundukkan kepalanya dan El tetap santai melipat tangannya di depan dada dengan wajah datarnya.
"Kalian berdua keluar dari kelas saya!" ucap dosen itu.
__ADS_1
El dengan santai meninggalkan kelas, karena itu adalah hal yang biasa untuk El. Sedangkan Mora, ini kali pertamanya ia dikeluarkan dari kelas. Gadis itu kini duduk termenung di perpustakaan.
"Haisshh, gara-gara dia aku jadi dikeluarkan dari kelas!" kesal Mora.
Ia menyandarkan kepalanya di atas meja dengan bertumpukan lengannya. El yang tadi penasaran mengikuti Mora hingga tiba di perpustakaan. Ia duduk tak jauh dari tempat Mora duduk. Mora duduk membelakanginya hingga ia tak menyadari kehadiran El di sana. Beberapa mahasiswa/i memperhatikan El yang sedang duduk. Pasalnya El tak pernah masuk perpustakaan. Ini adalah kejadian langkah bagi mereka yang melihat El di sana.
"Kenapa dia hanya diam di situ?" batin El yang sedari tadi memperhatikan pergerakan Mora.
Mora masih di posisinya. El terus menatapnya dengan intens.
BRAAKKKK
.
.
.
...----------------...
Hayoloh kenapa tuhh🤔😲
Yaelah author gantungin dulu yaa hehe
PAPAY~
See You Next Chapter👋
__ADS_1
Salam Manis Author
RaSgta~