Penakluk Hati Bad Boy

Penakluk Hati Bad Boy
Bab 12 : Hubungan Cea dengan El


__ADS_3

Hari pertama liburan, El baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Pukul 06.30, sangat aneh sekali pria satu ini sepagi itu dia mandi tak seperti biasanya. Dari semalam El tak hentinya mengembangkan senyum di bibirnya. Hati pria itu kini sedang dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran. El menuju ke balkon menikmati pemandangan indah yang disuguhkan oleh Sang pencipta.


"Sepertinya aku harus segera memperjelas hubunganku dengan Mora. Jangan sampai nanti dia di ambil orang! Bagaimana pun Mora itu gadis yang cantik, baik, pintar, pokoknya perfect, pasti banyak yang menyukainya!" gumam El.


El melirik jam di ponselnya.


"Masih sangat pagi." batin El.


El meraih ponselnya, ia mencari nomor seseorang dan menghubunginya.


"Hallo Bray, Lo di mana?"


"Pagi banget Lo udah nelpon gue! hoamm" ucap Brayn yang masih mengantuk.


"Banyak bacot, Lo dimana?!" tanya El geram.


"Di rumah lah. Emang pagi-pagi gini gue mau kemana oncom!" jawab Brayn tak kalah geram.


"Lo ga nginep di rumah pacar Lo? kan libur kesempatan tuh!" ucap El sambil terkekeh pelan.


"Lo gila?!! habis gue di cincang nyokap gue!" ucap Brayn sambil melotot.


"Ya jangan sampai nyokap Lo tau lah," ucap El.


"Lo yang banyak bacot El! Lo ngapain nelpon gue pagi-pagi?!" kesal Brayn.


"Eh iya, gara-gara Lo ni!" ucap El.


"Lah kok gue? Lo yang mulai oncom!" ucap Brayn semakin kesal.


"Udah-udah, jam 8 ketemuan di tempat biasa. Yang telat traktir!" ucap El kemudian menutup panggilan.


"Woi set*n si El, Emaknya ngidam apa sih anaknya begitu heran dah!" ucap Brayn kesal kemudian ia melirik jam di ponselnya.


Pukul 07.35. Brayn semakin kesal karena sahabatnya itu berbuat seenaknya. Ya jelas ia akan telat. Belum lagi perjalanan dari rumahnya cukup memakan waktu. Setelah siap jam delapan kurang lima menit, Brayn sudah pasrah. Pasti dia yang akan telat dan berakhir mentraktir sahabatnya itu.


...****************...


El sudah duduk di kursi biasanya. Sambil menunggu sahabatnya, ia sudah memesan satu cangkir americano. Tak lama, Brayn tiba dan menghampiri sahabatnya itu.


"Delapan lewat 5 menit." ucap El melirik jamnya kemudian melihat sahabatnya yang baru saja tiba.


Dengan wajah kesal Brayn duduk di depan El sambil menatap tajam sahabatnya.


"Apa Lo liat-liat?" ucap El dengan wajah menyebalkan. Pria bad boy satu ini memang sering membuat sahabatnya itu darah tinggi. Meskipun begitu sifat mereka yang seperti itu membuat keduanya sangat dekat.


Keduanya mengobrol santai sambil menikmati minuman dan cemilan yang baru saja dipesan oleh Brayn. Di sisi lain, seorang gadis baru saja turun dari Alphard hitam miliknya. Gadis itu terlihat masih muda dan dengan style casual nya membuat gadis itu terlihat cantik meski separuh wajahnya tertutup masker.



Gadis itu masuk kesebuah Caffe&Resto yang dimana tempat favoritnya dan kedua sahabat kecilnya dulu. Sepertinya ia sedang ingin bernostalgia. Gadis itu duduk di salah satu kursi di sana dan memesan beberapa cemilan dan minuman kesukaannya sejak dulu hingga sekarang.


"Silahkan dinikmati kak," ucap pelayan yang baru saja meletakan pesanan gadis itu di meja.


"Terima kasih kak," balasnya.

__ADS_1


Gadis itu menyeruput secangkir americano kesukaannya dan juga seseorang yang selama ini mengisi hatinya.


"Rasanya ga pernah berubah," batinnya.


"Apa dia masih sering ketempat ini ya?" batinnya lagi.


Di sisi lain dua sejoli yang sedang asik bercerita tentang kisah cintanya masing-masing.


"Eh, cewek yang dekat sama Lo itu siapa sih?" tanya El.


"Lo pasti kenal sama dia!" ucap Brayn.


"Seuniv sama kita?" tanya El lagi.


"Engga, dia ga kuliah." ucap Brayn.


"Eh iya, gimana Lo sama Mora?" tanya Brayn.


"Ya gitu," ucap El singkat.


"Gitu gimana? udah jadian?" tanya Brayn.


El menggelengkan kepalanya tanda belum.


"Yaelah El! Lo gimana sih udah jelas Mora suka sama Lo, kenapa Lo ga nembak dia? nanti di ambil orang nangis Lo!" ucap Brayn.


"Gue bingung gimana nembaknya," ucap El dengan wajah memelas.


"Hmm, gue ada ide!" ucap Brayn.


"Sini gue bisikin," ucap Brayn.


(Secret)


"Nah gitu, gimana bagus kan?" ucap Brayn dengan wajah bangga.


"Hemm, boleh juga. Thanks ya bro!" ucap El sambil Tos ala-ala mereka.


Seorang gadis mendengar semua ucapan dua sejoli itu. Penasaran, ia pun menoleh ke asal suara.


"E-El, Brayn?" gumamnya terkejut ketika melihat orang yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Benar kan itu mereka?" batinnya melihat lagi untuk memastikan.


Ternyata yang dilihatnya benar. Dua orang laki-laki yang sempat hadir memberi warna dalam hidupnya.


*Flashback On*


"Ayo brayn kejar aku!" ucap Cea sambil berlari.


"Awas saja aku akan menangkapmu!" ucap Brayn yang mengejar Cea.


"Ahahah, coba saja jika dapat!" ucap Cea sambil tertawa.


"Cea sudah jangan berlarian nanti kamu jatuh!" ucap El yang melihat kedua sahabatnya asik berkejar-kejaran.

__ADS_1


"BRUKKHHH"


Cea terjatuh dan pingsan.


"Cea!!" teriak el dan bergegas menghampiri Cea.


"Kalau Cea sampai kenapa-kenapa, gue ga Kan maafin Lo!" ucap El serius sambil menatap tajam Brayn.


Wajah Cea yang sudah pucat membuatnya sangat khawatir. El membawa Cea ke dalam rumahnya.


"Bu!! Ibu!" teriak El.


"Kenapa El? kok teriak-teriak gitu?" tanya ibunya.


"Ya ampun! Cea kenapa? coba baringkan di sofa dulu" ucap ibunya lagi melihat Cea yang pingsan di gendongan El.


El membaringkan tubuh Cea di sofa. Ibunya mengambil minyak angin dan mendekatkan ke lubang hidung Cea.


"Bu? Cea ga kenapa-kenapa kan?" tanya El khawatir.


"Semoga saja tidak, coba tolong bilang bibi buatkan teh hangat untuk Cea." ucap ibunya.


El hanya mengangguk dan bergegas ke dapur. Beberapa saat kemudian ia sudah membawa secangkir teh hangat dan diletakkannya di meja.


"E...El," ucap Cea tersadar.


"Cea, mana yang sakit? Apa perlu ke dokter?" ucap El sambil menggenggam tangan Cea.


Cea terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang lebih tepatnya orang yang Cea sukai sejak pandangan pertama. Kini mereka yang berusia 10 tahun, keduanya sama-sama saling suka.


"Apaan sih El. Aku ga apa-apa kok," ucap Cea.


"Beneran?" tanya El dengan sorot mata penuh perhatian.


"Iya, Cea bakal baik-baik aja selama El ada di samping Cea" ucapnya lalu tersenyum manis.


El tersipu malu mendengar ucapan Cea, "Aku menyukaimu Cea!" batin El.


Keduanya memperlihatkan kasih sayang mereka selama beberapa tahun hingga duduk di bangku SMA.


*Flashback Off*


Cea memalingkan wajahnya, menghindar agar mereka berdua tidak melihatnya.


"Tadi mereka menyebut nama Mora? siapa dia? apakah seseorang yang kini El cintai?" batinnya bertanya-tanya.


Belum siap untuk bertemu seseorang yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan, Cea pun segera pergi dari tempat itu setelah membayar pesanannya.


...----------------...


Gimana readers??? cerita author ngebosenin ga sih??? semoga aja kalian suka ya sama alurnya dan terus setia membaca dan menunggu kelanjutan kisah El dan Mora😉🤗


See You Next Chapter 👋


Salam Manis Author

__ADS_1


RaSgta~


__ADS_2