Penakluk Hati Bad Boy

Penakluk Hati Bad Boy
Bab 2 : Netra coklat itu apakah gadis yang sama? (Revisi)


__ADS_3

El mengedarkan matanya menatap ke luar jendela. Waktu terasa sangat lambat hingga pria itu bosan dengan pemaparan dosen di kelasnya. Sedangkan Mora, ia sangat telaten memperhatikan pemaparan dosen dan sesekali mencatat hal penting di bindernya.


Mora melirik sekilas pria disampingnya.


"Apa dia ga mencatat sama sekali?" batinnya.


Mora kembali fokus dengan kegiatannya tanpa memikirkan pria di sampingnya. Begitupun El yang kini sudah sangat muak berada di dalam kelas.


"Huftt! kapan jam kuliah wanita tua ini berakhir?!" batinnya menatap sinis Bu Laura yang masih memaparkan materi.


"Lebih baik aku keluar saja!" batinnya lagi.


Kemudian El beranjak dari kursinya. Suara decitan yang muncul akibat pergesekan antara kaki kursi dengan lantai membuat Bu Laura menghentikan pemaparannya dan menatap El.


"Ada apa El?" tanya Bu Laura.


"Permisi ke toilet," ucap El dingin dan melangkah keluar setelah mendapat persetujuan Bu Laura.


Sebenarnya El tidak akan benar-benar ke toilet melainkan ke tempat favoritnya di kampus itu. Kini ia sudah berada di taman belakang kampus. Namun, kali ini El tidak duduk di bawah pohon kesukaannya. Ia duduk di salah satu kursi yang berada di pojok taman. El mengeluarkan sekotak rokok dari sakunya kemudian ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Pria itu sangat menikmati sesapan rokok di tangannya sambil memejamkan mata. Pikirannya berkelana.


...****************...


Jam menunjukan waktu perkuliahan hari ini telah berakhir. Brayn bergegas membereskan bukunya ke dalam tas dan hendak mencari keberadaan sohibnya yang tadinya izin ke toilet tetapi tidak juga kunjung kembali. Pria itu tak henti mengoceh dan mengumpat sahabatnya yang selalu berulah. Brayn sudah sangat paham bagaimana watak seorang El. Dingin, kejam dan keras. Apapun yang ingin ia lakukan maka akan dia lakukan walaupun itu membuatnya terkena masalah.


"Entah apa yang ada di kepalanya itu! Tadi pagi sudah mendapat tugas tambahan dari Bu Devi dan sekarang mendapat surat panggilan dari Bu Laura! Oh Tuhan, kenapa aku punya teman bad boy seperti dia?!"geram Brayn.


Mora yang masih duduk di kursinya sambil membereskan tasnya tak sengaja mendengar perkataan Brayn. Ia pun beranjak dari kursinya dan menuju ke tempat Brayn.


"Hey! apa kau tahu kemana perginya pria yang duduk di sampingku tadi?" tanya Mora.


Brayn menoleh, "Oh, dia bolos. Biasanya di taman belakang kampus. Bocah itu memang begitu. kau jangan heran jika dia berulah. Namanya El, bad boy idaman kampus." jelas Brayn.


Mora mengangguk kecil.


"Itu tasnya bagaimana?" ucap Mora sambil menunjuk tas El yang masih di atas meja.

__ADS_1


Brayn mengikuti arah telunjuk Mora dan berdecak kesal.


"Haishhh... menyusahkan!" kesalnya lalu mengambil tas El dan bergegas ke luar kelas.


"Ehh, tunggu..." ucap Mora.


Brayn membalikan tubuhnya menghadap Mora. Seakan ia bisa membaca ekspresi Mora yang ingin tahu namanya, Brayn langsung bersuara.


"Brayn Remicco, kau bisa memanggilku Brayn." ucapnya diakhiri senyuman.


Mora mengangguk dan membalas dengan senyuman.


"Yasudah, aku duluan ya Ra." ucap Brayn lalu bergegas pergi.


"Ya, hati-hati." ucap Mora.


Mora pun juga meninggalkan kelas tak lama setelah Brayn pergi.


...****************...


"Huftt..." El menghela nafas, "Kenapa akhir-akhir ini wajahnya selalu melintas di pikiranku? dan lagi... kenapa bisa mirip dengan mahasiswi baru itu?" gumam El.


Ya beberapa hari terakhir ini El selalu terbayang wajah seorang gadis yang pernah ia temui di suatu tempat. Hanya pertemuan sesaat dengan gadis itu, namun entah mengapa El terus terbayang wajahnya. Tatapan matanya sama seperti Mora yang menatapnya tadi. Namun, dari ekspresi Mora tadi seakan memang tidak pernah bertemu dengan El. Apa sebenarnya Mora adalah orang yang sama dengan gadis yang ditemuinya waktu itu?


Pikiran El kini memutar kejadian waktu itu.


*Flashback On*


Saat itu, hari hampir menjelang malam. El masih betah duduk di bangku tepi danau kesukaannya. Air yang biru kehijauan membawa suasana tenang.


El menghela nafas panjang.


"Sial!" teriak El.


Untung saja tempat itu sepi jadi tidak ada yang mendengarkan teriakan El. El akan selalu ke sana saat suasana hatinya sedang sangat buruk. Kejadian beberapa jam yang lalu membawanya ke danau itu untuk menenangkan diri. Setelah dirinya sedikit lebih baik El memutuskan untuk pulang kerumahnya.

__ADS_1


Saat ia hendak pergi dari sana, tak sengaja kedua netranya bertemu dengan netra coklat pekat dengan tatapan lembut milik seorang gadis yang tak dikenalinya. Beberapa saat El masih menatap netra coklat itu begitu juga dengan gadis itu. Gadis itu tersenyum membuat hati El sedikit berdesir. Sadar dengan tatapannya, El memutus pertemuan mata mereka dan segera pergi dari sana.


*Flashback Off*


...****************...


"Woy El! apa kau tak menginginkan tas mu lagi?" teriak Brayn yang membuyarkan lamunan El.


El sedikit terkejut, lalu ia kembali menetralkan ekspresi wajah nya.


"Mengganggu ketenangan ku saja! apa kau sudah tidak menginginkan kepalamu berada di tempatnya lagi?!" ucap El dingin.


"Eh, jangan gitu dong bro. kalau aku tidak ada siapa yang akan menjadi temanmu ha?" ucap Brayn.


"Gue ga butuh teman." gumam El namun masih terdengar oleh Brayn.


"Ayolah El, jangan seperti itu. Kau sudah ku anggap sebagai keluarga. Jangan terus berpikir kalau kau hanya hidup sendirian." ucap Brayn yang kemudian duduk di samping El.


Suasana menjadi hening sejenak.


"Sampai kapan kau terus begini El?" tanya Brayn.


"Entahlah," jawab El dingin lalu ia beranjak dari duduknya dan meraih tasnya kemudian melangkah pergi.


"Hei kau mau kemana El?" teriak Brayn yang masih duduk di tempatnya.


El tak menjawab, ia masih terus melangkah meninggalkan taman belakang kampus.


"Selalu saja begini! Gue ditinggalin terus sama bocah itu. Haishh... untung sahabat, kalau bukan sudah ku lempar ke kolong jembatan dekat simpang warung Bu inem!" kesal Brayn dan kemudian beranjak untuk menyusul El.


...----------------...


See You Next Chapter 👋


Salam Manis Author

__ADS_1


RaSgta~


__ADS_2