Penakluk Hati Bad Boy

Penakluk Hati Bad Boy
Bab 8 : Bad Boy VS Playboy


__ADS_3

El memarkirkan motornya. Ia mengajak Mora untuk duduk di dekat pinggir danau favoritnya.


"Tunggu-" ucap Mora menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya El mengernyitkan dahinya.


"El…" ucap Mora sambil menatap El.


"Iya, Lo kenapa?" tanya El sedikit panik melihat wajah Mora sedikit memucat.


"El jadi itu kau?" tanya Mora.


"Ha? Maksud Lo?" tanya El bingung.


"Waktu itu aku pernah melihatmu disini. Apa itu benar kau?" tanya Mora.


El tersenyum tipis, "Gue kira hanya gue yang ingat. Ternyata Lo juga masih ingat."


"Ya, sehari setelah aku pindah kesini aku diajak temanku ke danau ini," ucap Mora.


"Waktu pertama aku bertemu denganmu di kampus, sebenarnya aku sudah ga asing dengan wajahmu. Tapi ku rasa kalian hanya mirip dan orang yang berbeda." sambung Mora.


"Tapi gue malah yakin Lo adalah orang yang sama waktu itu." ucap El.


"Kok bisa yakin gitu?" tanya Mora.


El berjalan dua langkah kedepan, "Entahlah, hati gue mengatakan Lo adalah gadis yang sama dengan yang gue temui di danau ini dan ternyata itu benar." ucap El.


El menoleh kebelakang, "Kemari," titah El.


Mora melangkah mendekati El. El duduk di hamparan rumput yang beberapa senti didepannya adalah danau. Mora masih berdiri di samping El.


"Duduk" ucap El.


"Kau ga takut jatuh ke danau itu? Ini terlalu dekat El" ucap Mora yang melihat jarak antara mereka dengan danau tinggal beberapa senti lagi.


El terkekeh, "Kalau Lo duduk dengan diam ga bakalan jatuh."


"Baiklah." ucap Mora lalu duduk agak jauh dari El.


"Lo ngapain jauh-jauh gitu? Emang gue bau ya?" tanya El sambil mengendus-endus tubuhnya.


"Ah, enggak kok-"


"Sini dekatan," ucap El.


Mora langsung bergeser mendekati El. El tersenyum tipis.


"Kamu suka ke sini ya El?" tanya Mora dan hanya dijawab anggukan oleh El.


"Indah," ucap Mora sambil melihat hamparan air berwarna biru kehijauan di depannya.


Mora sedikit menunduk dan tangannya menggapai air danau, "Wah, airnya sejuk banget."


"Awas tangan Lo di lahap buaya," ucap El iseng.


Reflek Mora langsung menjauhkan tangannya dan membelalakan matanya, "Ada buaya disini?" tanya Mora.


"Pfftt," kekeh El.


"Kau membohongiku El?" tanya Mora dengan penuh selidik.

__ADS_1


"Tidak. Mana kita tahu di danau yang luas ini ada buaya atau tidak?" ucap El.


"Benar juga. Lebih baik kita jangan dekat-dekat deh. Ih serem nanti di lahap buaya." ucap Mora lalu beranjak dan menjauh dari pinggir danau.


El tertawa geli melihat tingkah Mora. Ia pun menyusul Mora.


...****************...


Pukul 07.15 EST, El sudah tiba di kampusnya. Hari ini ia tak hanya datang seorang diri, tetapi ia datang bersama gadis yang beberapa hari ini selalu bersamanya. Yap, gadis itu adalah Mora. Pagi ini El memaksa Mora untuk berangkat ke kampus bersama. Meskipun Mora sudah menolak dengan cara dan alasan apapun, tetap saja El ingin menjemput gadis itu dan berangkat ke kampus bersama. Alhasil Mora mengikuti keinginan El, toh hanya berangkat bareng saja dan tidak ada hal yang aneh.


"El, tumben Lo bareng Mora?" tanya Brayn.


"Suka-suka gue lah," ucap El dingin.


"Ohh, jangan-jangan Lo suka ya sama Mora?" ejek Brayn.


"Bukan urusan Lo!" sahut El.


"Ayo ke kelas. Ga usah ladenin bocah ingusan ini." ucap El lalu menggandeng tangan Mora dan berjalan menuju ke kelas.


Brayn membolakan matanya mendengar ucapan El, "Enak saja! Gue bukan bocah ingusan lagi!!" kesal Brayn.


"Tapi dulu Lo bocah ingusan Bray." sahut El tanpa menghentikan langkahnya.


"Sial! Sahabat lakn*t!" umpat Brayn.


El yang mendengarnya pun terkekeh. Sedangkan Mora hanya diam sambil sesekali menatap El.


"Dua sejoli ini emang ga pernah akur," batin Mora.


"Kenapa?" tanya El yang mendapati Mora menatapnya.


"Ah, tidak." ucap Mora lalu mengalihkan pandangannya.


"Kau duluan saja. Aku mau ke toilet dulu," ucap Mora.


"Oke, gue tunggu di kantin." ucap El.


Mora pun pergi ke toilet dan El langsung berjalan menuju kantin. Saat selesai dari toilet, Mora bertemu dengan seorang pria di jalan menuju ke kantin.


"Hai cantik," ucap pria itu dan hanya dibalas senyuman oleh Mora. Mora melanjutkan jalannya.


"Sombong sekali! Aku ini kakak tingkat mu harusnya kau lebih sopan!" ucap pria itu sedikit menekan kata-katanya.


Mora berhenti dan menoleh, "Maaf kak, saya harus bersikap sopan yang seperti apa?" tanya Mora dengan wajah datar.


"Smirk, menarik!" gumam pria itu.


"Bagaimana kalau pulang nanti kau ikut aku jalan-jalan?" tanya pria itu sambil mendekati Mora.


"Maaf, saya ga punya waktu." ucap Mora lalu melanjutkan jalannya.


Pria itu mengepalkan tangannya dan menyusul Mora yang berjalan sedikit cepat.


Kelvin Leonando, seorang pria tampan dengan notabene playboy yang sekarang berada di tingkat 3 di Harvard University. Beberapa hari ini ia sering melihat Mora bersama dengan musuhnya yaitu El. Padahal El biasa saja terhadapnya, tetapi kelvin malah menganggap El musuh karena banyak yang menolaknya karena kehadiran El. Kelvin yang dulunya menyandang julukan pria idaman kampus, kini julukan tersebut diberikan oleh para mahasiswi kepada El. Oleh karena itu Kelvin bermusuhan dengan El si bad boy.


Ketika Mora sampai di dekat area kantin tiba-tiba seseorang dari belakangnya menarik tangannya.


"Lo! Lepasin tangan gue!" titah Mora sambil menarik tangannya.


"Kenapa sih marah-marah? Cantik kalau Lo nurut itu lebih baik." ucap Kelvin sambil menatap mata Mora.

__ADS_1


"Apaan sih!" sahut Mora.


"Ayolah, nanti sepulang kuliah Lo harus ikut gue titik ga pake koma." ucap Kelvin sambil melipat tangannya di depan dadanya.


"Lo kok maksa! Gue ga mau! Lo tu siapa emangnya maksa-maksa gue?" balas Mora sewot.


Melihat keributan yang ada di sana, El yang sedang duduk di kantin pun tidak asing dengan suara gadis yang sedang beradu mulut dengan seorang pria. El pun mendekati keributan tersebut.


"Mora?" ucap El.


"Eh, El. Sorry ya aku lama, gara-gara kakak tingkat nyebelin ini!" ucap Mora sambil melirik sinis Kelvin.


"Lo apain dia!?" tanya El dingin.


"Apa urusannya sama Lo?" jawab Kelvin sinis.


"Apa mau Lo?" tanya El lagi yang kini menatap sengit Kelvin.


"Cihh... bocah kayak Lo ga pantes jadi idaman di kampus ini!" ucap Kelvin.


El tertawa sedikit kuat mengejutkan semua orang yang melihatnya, "Gara-gara gitu doang? Lo ga terima?" ucap El menatap remeh Kelvin.


"Gue lebih baik dari Lo! Harusnya itu posisi gue sebelum Lo datang dan merebutnya!" ucap Kelvin menekan kata-katanya.


"Lebih baik Lo bilang? haha... Ga ngaca ya Lo! Seorang playboy ga ada yang dicap baik!" ucap El diakhiri senyum yang tidak bisa diartikan.


Emosi Kelvin pun memuncak mendengar ucapan El yang merendahkan dirinya. Kelvin melayangkan satu pukulan cukup kuat di wajah El.


BUGGHHHH


El yang tidak ada persiapan pun mundur selangkah akibat pukulan yang cukup keras. Mora yang melihatnya terkejut.


"El.." ucap Mora penuh khawatir.


El menatap Kelvin dengan tatapan membunuh, "Cuma segitu doang kekuatan Lo!" remehnya.


Kelvin mengepalkan tangannya dengan erat. Emosinya sudah diujung tanduk. Kelvin pun melayangkan pukulannya kembali tetapi berhasil ditangkis oleh El.


"Ga ada apa-apanya dibanding gue!" ucap El.


"Sial Lo!" ucap Kelvin penuh amarah.


BUGGGHHHHHH


Satu pukulan sangat kuat El berikan di perut Kelvin hingga pria itu tersungkur.


"Akkhhh," teriak Kelvin merasakan sakit akibat pukulan El.


El ingin menyerangnya lagi namun ditahan oleh Mora.


"Sudah El, nanti kamu yang dapat masalah." ucap Mora dengan wajah khawatir.


El menatap Mora beberapa detik, lalu beralih ke Kelvin yang masih tersungkur memegang perutnya. El menghampiri Kelvin dan berjongkok di depannya.


"Cihh... lemah! Jangan macam-macam sama gue kalau Lo ga mau lebih parah dari ini!" ucap El penuh penekanan.


El pun membawa Mora pergi dari sana. Sedangkan Kelvin dibantu oleh beberapa teman kelasnya untuk diobati di ruang kesehatan kampus.


...----------------...


See You Next Chapter 👋

__ADS_1


Salam Manis Author


RaSgta~


__ADS_2