
"Namanya El, bad boy idaman kampus. Ada ya seorang bad boy jadi idaman?" batin Mora.
Kini gadis itu sedang berjalan menuju rumahnya. Di sepanjang perjalanan, ia memikirkan banyak hal tentang apa saja yang dilaluinya di kampus barunya hari ini.
Zemora Afrazela, seorang gadis cantik berdarah campuran indonesia dan Amerika. Gadis yang akrab disapa Mora ini terlahir dari keluarga sederhana yang harmonis. Kedua orang tuanya bernama Anna Fahzela dan Erwin Afrandika. Mora adalah sosok perempuan yang pekerja keras. Mora yang kini berkuliah di Harvard University karena ia mengikuti program beasiswa berprestasi. Sebelumnya ia berkuliah di Universitas Indonesia di negara kelahirannya. Mimpinya yang ingin berkuliah di luar negeri pun terwujud melalui beasiswa yang ia raih dengan kerja kerasnya.
Mora pun sampai di rumahnya yang berjarak satu kilometer dari kampus. Ia tinggal sendiri di sana karena kedua orang tuanya berada di Indonesia. Rumah yang Mora tempati adalah milik mendiang nenek dari ibunya. Sesampai di rumah, Mora membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
...****************...
Sepulang kuliah El langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Di perjalanan ia terus saja terbayang wajah gadis itu. Apalagi tatapannya yang selalu lekat di ingatan pria itu. Di tambah lagi dengan kedatangan mahasiswi baru yang wajahnya mirip dengan gadis yang ditemuinya dekat danau waktu itu.
"Brum...brumm" suara motor sport kesayangannya itu telah tiba di pekarangan rumahnya. El memarkirkan motornya di garasi. Ia melangkah masuk ke rumahnya yang merupakan peninggalan satu-satunya dari orang tuanya. Rumah yang terbilang mewah dan besar yang hanya dihuni oleh dirinya sebatang kara.
El merasa hidupnya tak ada gunanya. Ia bertahan hidup dan menunggu maut menjemputnya. Jikalau ingin bunuh diri, sudah El lakukan sejak dulu, tetapi ia tak ingin mengakhiri hidupnya dengan cara kotor itu.
Tak ada siapapun yang menemaninya semenjak ia duduk di bangku kelas 3 SMA. Sebenarnya Brayn dan orang tuanya sudah meminta El untuk tinggal bersama mereka karena kedekatan orang tua mereka membuat Brandon Remicco dan Elis Valisha yang merupakan orang tuanya Brayn menganggap El sudah seperti anaknya sendiri. Namun, El tidak ingin merepotkan sahabat dan orang tua sahabatnya itu. Ia lebih baik tinggal sendiri dari pada harus bergantung dengan orang lain.
El tiba di kamarnya, dan ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Ia menghela nafas panjang.
"Hidup ku begini-begini saja," gumamnya.
"Aku seperti mayat hidup! Hatiku sudah mati begitupun jiwaku, hanya ragaku yang masih bergerak," batin El meratapi dirinya.
Ia bangkit dan duduk di pinggir kasurnya sembari menundukkan kepalanya.
"Arrggghhhhh..... sial!" teriaknya lalu meraih dan melemparkan vas yang ada di meja samping kasurnya. Vas itupun hancur berkeping-keping berserakan di lantai kamar El.
Merasa gerah El pun memutuskan untuk mandi tanpa menghiraukan serpihan-serpihan kaca yang berhamburan di lantai kamarnya itu.
El mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower. Ia menikmati setiap tetes air yang membasahi tubuhnya. Mendinginkan kepalanya yang sempat ingin meledak.
...****************...
"Drrrtttt....drttt" suara ponsel El di atas kasur.
El baru saja menyelesaikan mandinya.
"Pasti Brayn," tebak El dalam hati.
Ya, karena sahabatnya itulah yang biasanya menelpon El dimana pun, kapanpun, dan jam berapa pun. El meraih ponselnya di atas kasur dan menggeser tombol hijau.
Panggilan tersambung.
"El..."ucap Brayn dari seberang sana.
"Hmm," balas El hanya dengan deheman.
"Sedang apa?" tanya Brayn.
"Apa kau ga ada kerjaan lain ha? Pertanyaan bodoh mu itu ga penting!" ucap El dengan suara dinginnya.
"El bisakah kau tidak berbicara dingin dengan sahabatmu ini?" kesal Brayn karena El selalu dingin dengannya.
__ADS_1
"Cepat katakan apa perlu mu?" El balik bertanya tanpa menghiraukan ucapan Brayn.
Brayn menghela nafas, "Baiklah El, aku ingin mengajakmu menemaniku ke toko bunga," ucap Brayn.
"Ga ada orang lain yang bisa kau ajak? Kenapa harus aku?" bantah El.
"Ayolah El, besok adalah hari ibu aku ingin menghadiahi mamaku sebuket bunga," rengek Brayn.
El diam sejenak. Ya besok tanggal 22 Desember yang dimana bertepatan hari ibu. Seketika wajah El berubah muram. Ia teringat semasa ibunya hidup ia tak pernah memberikan bunga ataupun sekedar ucapan kepada sang ibu. Hingga tanpa sadar air matanya menetes.
"El! heyy... apa kau masih mendengarkan ku?" tanya Brayn karena beberapa menit El diam saja namun panggilan masih tersambung.
"Ehh, baiklah," ucap El sembari menghapus air matanya yang menetes.
"Sungguh?? Kau mau menemaniku?" ucap Brayn bersemangat.
"Hmm, jangan sampai aku berubah pikiran," ucap El kembali dingin.
"Ehh, iya iya. Jangan begitu, sekarang aku otw ke rumahmu," ucap Brayn dan El langsung memutuskan sambungan panggilannya.
...****************...
Mobil Brayn tiba di depan sebuah toko bunga. Brayn keluar dari mobilnya dan disusul oleh El dari pintu sebelahnya. El menatap tampak depan toko bunga itu.
"Apa yang kau lihat El?" tanya Brayn.
"Tidak," jawab El dingin.
"Eh, kan aku yang minta ditemani. Kenapa dia yang jalan duluan," gumam Brayn dan langsung menyusul El yang sudah di ambang pintu.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu tuan?" ucap salah satu pegawai di sana.
El tak menghiraukan. Ia pun menyusuri toko itu sambil melihat banyak bunga indah di sana.
"El kau kenapa tidak menungguku!" kesal Brayn ketika sampai di pintu masuk toko.
"Eh, selamat datang tuan. Ada yang bisa dibantu?" tanya pegawai yang tadi kepada Brayn.
"Ah iya, aku mencari sebuket bunga cantik untuk mamaku," ucap Brayn.
"Oh, tentu kami punya banyak pilihan di sini tuan. Silahkan ikut saya untuk memilih," ucap pegawai wanita itu dengan senyum ramah.
Brayn mengikuti pegawai itu untuk memilih bunga yang akan dihadiahkan untuk mamanya. Setelah Brayn menemukan yang pas ia pun menyuruh pegawai untuk membungkusnya dengan cantik lalu ke kasir untuk membayar. Sedangkan El masih dengan kegiatannya.
BRUKKK
"Ehh, maaf tuan" ucap seorang gadis yang sedang membawa sekeranjang bunga tak sengaja menabrak El.
El melirik gadis itu, "gadis ini kan...?" gumam El terpotong karena Bryan menghampirinya.
"El apa yang sedang kau lakukan?" ucap Brayn lalu menoleh ke gadis di sebelah El.
"Eh, Mora?" ucap Brayn sedikit kaget.
__ADS_1
Mora tersenyum kikuk, "Eh iya tuan maaf tadi aku tak sengaja menabrak mu," ucapnya.
El stay dengan wajah datarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kau buat apa di sini Ra?" tanya Brayn.
"Aa..aku-" Belum selesai Mora berbicara seorang gadis sebaya dengannya menghampiri mereka.
"Mora di mana bunga-bunganya," ucap gadis itu.
"Eh, tuan. apa masih ada yang bisa di bantu?" ucapnya lagi setelah melihat Brayn yang barusan membeli bunga di toko milik ibunya itu.
Nadine Clovendra, sahabatnya Mora saat masih SMA. Saat ini ia memutuskan untuk tidak berkuliah dan fokus membantu ibunya di toko bunga milik ibunya. Mora bekerja part time di toko bunga milik ibu sahabatnya itu dari beberapa hari yang lalu ketika ia akan berkuliah di Harvard University.
"Eh tidak, aku sudah selesai memilih bunga. Terima kasih sudah membantuku tadi," ucap Brayn kepada Nadine.
"Sama-sama tuan," ucap Nadine diakhiri senyuman.
"Oh iya Mora tadi kau belum menjawab pertanyaan ku," ucap Brayn.
"Mora bekerja part time disini," ucap Nadine lalu tersenyum.
"Eh, iya benar." timpal Mora.
Brayn mengangguk kecil. El masih sama di posisinya. Diam tak bergeming, hanya saja netranya itu tak lepas menatap Mora. Brayn tak sengaja melihat satu tangkai bunga mawar yang sangat indah dan dia mengambilnya.
"Bungkus ini satu," ucap Brayn.
"Sudah siap tuan. Ini bunganya," ucap Nadine lalu memberikan bunga tersebut kepada Brayn.
Brayn berjalan mendekati Mora. Mora yang melihat pergerakan Brayn mendekatinya pun bingung apa yang ingin dilakukan pria itu.
"Ini untukmu," ucap Brayn sambil memberikan bunga mawar merah yang baru saja di belinya tadi.
"Eh, untuk ku?" ucap Mora kikuk lalu mengambil ragu bunga yang di berikan Brayn.
"Iya, Bunga mawar cantik untuk gadis yang cantik," ucap Brayn diakhiri kedipan mautnya.
Mora tersipu malu, "Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Apa apaan yang dilakukan pria bodoh ini!" batin El kesal.
Entah kenapa melihat kejadian tadi hati El seketika memanas. Ia pun bergegas menuju mobil dan meninggalkan Brayn yang masih melanjutkan rayuan-rayuan recehnya. Sadar El meninggalkannya, Brayn langsung pamit pergi dan segera menyusul El.
...----------------...
Ya ampun tong, Cemburu Lo tong! hahaha kayaknya benih-benih cinta mulai muncul di hati El uhuyy๐๐
Yuk pantengin terus kisah selanjutnya....
See You Next Chapter ๐
Salam Manis Author
__ADS_1
Rasgta~