
Singwan dan Dwinda merencanakan akan tinggalkan Desa ini, karena banyak orang yang di temui oleh mereka,mengkhianati mereka seperti Kepala Desa, dan Para Pengemis, tapi mereka ingat ada penduduk desa yang ada di gua, mereka merencanakan mau kembali ke gua itu. Dimana goa itu ada sebagian penduduk Desa Datang Mati.
Sesampainya disana, mereka di kagetkan karena melihat semua penduduk yang di goa mati. Singwan dan Dwinda pun hanya bisa diam sesaat. Singwan marah dan berkata
"Kurang ajar !!! siapa yang membunuh mereka semuaaaa !!! mereka hanya penduduk biasa, siapa orang yang biadab ini??? "
"Kamilah orang yang biadab,mereka pantes mati, mereka tidak ada gunanya " kata orang yang berteriak dari luar goa
Singwan dan Dwinda keluar melihat 2 orang, berdiri di depan goa.
" Siapa kalian!!!??" kata Dwinda
"ku Zek pemimpin perampok Siringgit di sini" kata Zek.
"Ku Angga, Anggota parampok Siringgit!!!" kata Angga.
"Jadi kalian membunuh mereka semua, kurang ajar " kata Singwan
Singwan yang emosi lalu mencabut pedang, langsung menyerang, Zek melawan serangan Singwan, terjadi pertempuran. begitu juga dengan Dwinda dan Angga. Terjadi pertempuran sengit, mereka seimbang,Singwan metelepati Dwinda, lalu berkata
" Dwinda kita kalahkan dengan jurus Sepasang Kekasih Mabuk Asmara."
( keterangan: jurus Sepasang Kekasih Mabuk Asmara adalah sebuah jurus seperti jurus Mabuk, tapi mabuknya itu bukan karena minuman tapi tatapan cinta dari hati. Jurus ini harus memakai rasa cinta tulus, dan prisipnya jurus keserasian gerakan,yang bisa menyerang atau bertahan.)
Singwan dan Dwinda pun menyerang, Zek dan Angga,mereka kewalahan menghadapi jurus itu. Akan tetapi Singwan dan Dwinda tiba-tiba tak bisa gerak karena dari jarak jauh Sean melempar biji untuk menotok semua bagian tubuh dari Singwan dan Dwinda. Sean pun turun dari pohon dengan dan ketawa. Sean berkata
" dasar Pendekar bodoh!!!, kalian memang sakti, tapi lengah."
"ya, tapi kesaktian kalian kalah dengan otakku, sekarang kalian bersiap untuk mati." kata Zek
__ADS_1
Akan tetapi saat Zek mau membunuh Dwinda dan Singwan, tiba - tiba dengan kecepatan tinggi ada menyerang dan membunuh para Perampok, dan menculik Dwinda. Melihat Dwinda di culik dengan cepat, hanya terlihat sekilas bayangan tak bisa apa-apa karena Singwan ditotok seluruh anggota badanya. Singwan hanya bisa berteriak
" Dwinda....!!!!"
Singwan terus berusaha lepas dari totokan, tapi tak bisa, Singwan lemas . Setelah tiga jam , Singwan lepas dan langsung berlari mengejar Sipenculik. Singwan ke Desa Hadir Mati, akan tetapi Desa itu telah rata dengan tanah, karena seluruh rumah di desa itu habis di lalap api. Singwan kebingungan karena harus mencari Dwinda. Singwan mencoba metelepati Dwinda, tapi nihil, dia pun berlari lagi kegua,untuk mencari petunjuk, tapi ada satu pun petunjuk.Singwan pun meninggalan Desa Datang Mati.
Di tempat lain, Dwinda yang di culik berada dalam kamar yang besar, dan melihat ada orang menculiknya, dan samping orang yang menculiknya seorang wanita cantik, lalu Dwinda bertanya
"siapa kalian?"
"hormat saya Tuan Putri Dwinda, saya Kun, anak Perdana Menteri Marjan, yang di fiknah oleh Jendral Riu,aku ingin memperbaiki nama ayahku, dan mengembalikannya kerajaan pada Raja Surya Naga yang masih hidup." kata Kun
"apa!!! ???Yang Mulia Ayahda masih hidup" Kata Dwinda yang kaget.
" ya bukan hanya Yang Mulia saja, masih hidup, tapi Panglima Heru juga masih hidup. dan orang yang masih setia masih ada, jadi kita harus kembalikan Kerajaan Naga." kata Zul.
"Kamu mengetahui semua itu dari mana?" kata Dwinda.
" Mengapa kamu tak mengajak Singwan Putra dari Panglima Heru? " Kata Dwinda
" Pesan dari Panglima, jangan melibatkan anaknya ke urusan ke kerajaan lagi, biarkan dia menjadi orang biasa." kata kun
" apakah kamu memiliki bukti Ayahmu tidak bersalah" kata Dwinda
" aku dan istri ku ini korban dari kelicikan Raja Riu. Ayah istri ku ini, yang di katakan sebagai Penyihir oleh Raja Riu. Dan Istriku ini saksi hidup kejadian mengapa bisa Ayahku dan Ayah istri di fiknah oleh Raja Riu.Dia bisu karena melihat peristiwa yang menakutkan itu.Dari Yummi ini aku mengetahui bagaimana ayahku dan di fiknah." kata Kun
" Sekarang aku mengerti, dan harus kembali Ke kerajaan untuk mencari jalan agar bisa ketemu Ayah dan mengembalikan Kerajaan Naga pada Ayahku. Apa Rencana mu Kun." Kata Dwinda
" Tuan Putri Dwinda, ini rencana ku " Kata Kun yang berbisik pada Dwinda.
__ADS_1
Dwinda mendengar rencana itu kaget, dan berkata
"bolehkah aku berpikir dulu, apakah istrimu tahu rencana ini.?"
" boleh Tuan Putri berpikir dulu, dan istri sudah setuju." kata Kun
Dwinda yang kini berada di kamar sendirian berpikir,tentang rencana Kun dan bagaimana dengan Singwan?"
Sementara itu Singwan yang terus berjalan mencari Dwinda, akhirnya sampai di sebuah hutan ,yang ditengah hutan itu ada taman alami dan ada gubuk di pinggir danau, jadi Singwan berniat untuk istirahat di gubuk itu. Singwan pun masuk ke gubuk itu, belum sampai di tengah gubuk tiba-tiba di belakang ada berteriak suara wanita
" hai maling!!!, "
Singwan pun berpaling kebelakang, bertapa kagetnya dia karena melihat gadis cantik dan seorang nenek tua yang membawa pedang siap menyerang Singwan.
" tenang aku bukan maling,aku hanya pemuda yang sedang mencari seseorang, namaku Singwan,dan kebetulan masuk dalam gubuk ini. maaf aku," kata Singwan
" Dari cara kamu bicara dan pakaian kamu seperti kamu seorang pendekar, siapa guru ?" kata nenek itu
" aku murid nenek Rida dan Kakek Suwe" Kata Singwan
" apa??? kamu murid sahabatku yaitu pendekar Sepasang " kata nenek itu
" ya nenek" kata Singwan
" aku nenek Wong, dan cucuku Lung, aku dan guru mu adalah sahabat di dunia persilatan, tapi kini aku berhenti jadi pendekar, karena usia, biarkan nantinya cucuku ini yang melanjutkan Ilmu ku, aku dulu di kenal dengan Pendekar Bunga . apakah Rida dan Suwe masih hidup?" kata nenek Wong
"Mereka sudah meninggal di bunuh anak buah Siringgit "
"apa di bunuh Siringgit ,dasar perampok jahanam" kata nenek Wong
__ADS_1
( BERSAMBUNG)