
Bab 17
“Kau saja yang pergi, aku malas berurusan dengan gadis itu lagi, dia membuatku sangat pusing, lihat betapa dia membuang uang ku begitu banyak saat di pelelangan, dia membeli patung aneh, perhiasan, bahkan hewan yang tak jelas sekalipun ia membelinya dengan harga yang tinggi, benar-benar membuatku muak!” umpat alex menghembus kesal.
Acara pelelangan ini sangat banyak diminati oleh Kalangan orang-orang kaya yang gemar menghamburkan uangnya, terutama para gadis yang menjadi pendamping lelaki-lelaki kaya yang berada di acara tersebut, acara pelelangan biasanya mewajibkan para pengusaha untuk membawa pendamping atau pasangannya dalam acar hingga acara usai nanti.
Dan alex sendiri memang memiliki pendamping setiap kali memenuhi acara pelelangan ini, hanya saja gadis yang dibawa alex selalu menghamburkan uangnya tampa sebab, alex memang tak terlalu memikirkan keuangan nya yang memang cukup banyak jika dikatakan bisa melampaui orang pengusaha sekali pun, namun jika melihat cara gadis itu membeli barang yang hampir tak memiliki kegunaan nya alex cukup kesal dengan tingkah gadis itu, seolah-olah uang itu adalah kepemilikan pribadinya.
Alex memiliki kebiasaan saat membeli barang di pelelangan ia selalu menjualnya kembali pada pengusaha yang lain dengan nominal harga yang tinggi, namun semakin alex melihat perkembangan penjualan barang-barang yang semakin menurun ini, membuat alex kesal dengan barang-barang yang nominalnya tinggi namun taka ada kegunaannya saat gadis itu membelinya.
Al hasil barang-barang yang di beli alex sia-sia terpajang di gudang tanpa mengembalikan uang yang ia keluarkan, gadis yang alex bawa tampa beban hanya memporoti keuangan alex, ia selalu berkata bahwa ini untuk kebaikan alex kedepannya, semakin memikirkan itu alex semakin marah dan ingin mencabik-cabik kulit wanita itu hingga menyisakan tulang.
“Kau ganti saja pasangan mu saat pelelangan nanti, tidak perlu membawa Helena untuk mendampingi mu di acara pelelangan kali ini.”
“Itu akan sangat sulit, gadis itu adalah pilihan ibuku, sangat merepotkan jika sudah berurusan dengan nya,” keluh alex lagi kemudian menutup matanya sambil menyenderkan tubuhnya pada kursi.
“Kalau begitu katakana saja pada ibu jika kau sudah menemukan gadis yang lain untuk kau bawa ke acara pelelangan nanti, jika ibu mu mendengar perkataan mu seperti ini, ia akan mengijinkan mu untuk membawa gadis yang kau pilih dari pada pilihan ibumu.”
“Haa,” Alex menghembuskan napasnya panjang, kemudian membuka mata dan melirik kearah tom. “Kau mengatakan hal seperti itu seolah-olah aku tak pernah memikirkan rencana konyol mu, aku sudah pernah melakukannya, dan ibu memang mengizinkan ku memilih pasangan selain pilihan ibu, namun gadis gila itu malah membuat maslah dengan gadis pilihan ku, ia bahkan memotong jarinya untuk memuaskan hasrat nya dan mendapat apa yang dia inginkan.”
“Hahaha sungguh wanita gila yang serakah, sekarang apa yang akan kau lakukan, acaranya 2 hari lagi, tidak sempat bagimu untuk menyingkirkan gadis gila itu,” ucap tom sembari memainkan alisnya.
__ADS_1
“Ya aku akan memikirkan nya nanti.”
“Kaka aku datang,” Una membuka pintu dengan kasarnya hingga membuat kedua lelaki tempat itu menoleh kearah pintu, una berlari menuju alex dan kemudian melompat dan memeluknya.
“Jangan berlari, kau bisa saja terjatuh jika tidak berhati-hati,” ucap alex yang sudah dibalas anggukan oleh una.
“Aku kangen kakak," Una bermanja-manja ditubuh kekar Alex.
"Maaf sudah mengganggu kesibukan tuan dan kak tom, Una berlari kencang sekali jadi saya sulit menangkapnya," jelas kayla yang dibalas deheman sesaat oleh Alex.
Alex melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat untuk meningkatkan Una bersamanya, Kayla menunduk memberi hormat untuk beranjak pergi dari ruangan itu, namun sebelum kakinya benar-benar melangkah keluar, Kayla sudah dihentikan oleh suara lelaki yang berada disisi nya.
"Tunggu sebentar, tetap lah disini," ucap tom menatap Kayla datar.
menghentikan langkah gadis itu. "Ada apa kau menghentikannya?"
"Bawa dia saja untuk acara kali ini, dia cukup bagus untuk rencana mu nanti," Tom melirik kearah Kayla dan menatap dari unjuk kaki hingga ujung rambutnya.
"Tidak...tidak aku Tidak setuju, jangan menambah beban di kepala ku, jika kau menginginkan nya, bawa saja dia, untuk mu saja, aku bisa mencari gadis yang lain," ucap Alex menolak mentah-mentah ajakan tom
Tom memalingkan wajah nya kearah Alex, dia menatap datar sesosok lelaki yang sedang memangku boca kecil di pahanya.
__ADS_1
"Hey! aku tau beberapa hari ini kau sering berdebat dengan gadis ini, kau sudah lebih akrab dengannya bukan, setidaknya hal itu akan mendukung mu untuk bisa membujuk ibu mu untuk mengizinkan gadis ini pergi bersama mu, dan lagi seperti nya gadis ini bisa diandalkan untuk menyingkirkan Helena, apa kau tidak mau seperti itu?"
Tom menjelaskan secara terperinci tentang apa yang dia rencanakan, namun dia tak berpikir Kayla bisa saja menolak ajakannya, Kayla memang bekerja dan melayani kedua tuannya, bukan berarti apa pun yang di katakan tuannya adalah sebuah perintah atau keinginan semata. Kayla bekerja dengan pembagian tugas yang tak menentu, walau begitu bukan berarti Kayla menjadi boneka tuannya sebagai sebuah kebutuhan pokok.
Kayla menyatukan alisnya, mungkin jika itu sebuah lalat yang lewat pasti sudah terjepit dan mati.
Kayla memperhatikan kedua lelaki yang sedang terduduk dan membincang- bincang tentang dirinya, seolah-olah pembicaraan ini tidak disadari oleh kepemilikan nama orang tersebut, Kayla terus mengerut kan keningnya ia merasa sedikit marah tentang pembicaraan yang sedang mereka lakukan. entah mengapa rasanya ingin memukul dan menampar kedua lelaki gila ini.
Berbicara mengenai diri nya, tapi tak menganggap dirinya ada di ruangan itu, apakah itu cukup baik saat dibicarakan, setidaknya bicaralah bersama orang yang sedang Kelian ghibah.
"Mohon maaf sebelumnya jika saya lancang, tapi bukankah cukup tidak sopan jika membicarakan saya Tampa mengajak saya berbicara," keluh Kayla tanpa rasa takut dibibir nya.
Tom tertawa keras saat mendengar ucapan Kayla " hahahaha lihat dia bahkan tidak takut pada kita, bagaimana bisa dia tidak dapat menyelesaikan masalahmu nanti" tom kembali melirik kearah Alex yang hanya menatap nya datar.
"Diam saja kau, jangan ikut campur, dia adalah pelayan ku, biarkan dia bekerja selayaknya sebagai pembantu, dia tak mungkin bisa berjalan di depan kerumunan seperti itu."
"Kau kan belum tau kedepannya akan seperti apa, setidaknya berikan dia kesempatan sekali untuk mencoba, aku yakin dia pasti bisa, jika dilihat seperti apapun gadis ini memang sedikit cari, jika memolesnya dengan beberapa aksesoris pasti susah membuat kesan berbeda untuk nya."
Kayla tersentak, ia baru saja mendengar perkataan tom yang tiba-tiba memujinya seperti itu, ia pikir tom adalah lelaki yang sama persis dengan tuan nya, ternyata pemikiran itu hanya ilusi semata.
Jika di perhatikan, tom dan Alex memiliki perbedaan sifat tersendiri, memang sifat mereka lebih mirip saat sedang berada di mode seriusnya, dingin dan kejam, sedang kan saat-saat seperti ini, tom lebih banyak bicara dan bercanda dari pada Alex yang lebih tenang dan tetap menjaga wibawanya.
__ADS_1
"Bagaimana, kau setuju," tom memainkan alisnya memberi isyarat.
"Terserah."