Penguasa Dan Si Upik Abu

Penguasa Dan Si Upik Abu
Part 1


__ADS_3

Pagi ini terasa amat dingin, hujan lebat belum juga reda. Aku harus berangkat ke sekolah, walaupun sebenarnya aku masih ingin berada di kamar dan berada dalam hangatnya balutan selimutku.


Dingin ini benar-benar menusuk sampai ke tulang-tulang, kupandangi tetesan hujan yang turun begitu lebat. Entah kapan akan reda, sambil menanti bus sekolahku datang kupandangi sekitarku yang sepi tiada orang yg lalu lalang.


Hai... perkenalkan, namaku Lia Aninda Putri. teman-temanku memanggilku Lia. Aku tinggal dan besar di salah satu panti asuhan, sampai saat ini aku tak pernah tahu siapa ayah dan ibuku. Yang aku tahu, ibuku adalah Bu Nina, kepala panti asuhanku.


Akhirnya bus sekolahku tiba, aku berlari kecil masuk ke dalam bus. Teman-teman yanv lain sudah berada dalam bus itu.


"Selamat pagi Lia!" sapa Dela dari tempat duduknya.


"Pagi Dela, pagi Rin!"


" Tu muka koq masam, ga ad cerah-cerahnya. Lagi dapet ya???" Canda Dela.


"Dapat hujannya..."


"Hemmmm...dingin banget hari ini, hujannya awet di kasi formalin sama Tuhan"


"Ada-ada saja kamu Lia, hujan salah, panas juga salah juga. Ga ad benarnya! " Sahut Ririn


"Iya-iya, aku yang salah. Ga bisa bersyukur atas pemberian Tuhan" sahutku.

__ADS_1


"Gitu dong, apa yg d kasi Tuhan ya d syukuri" sahut Ririn.


" Iya bu guru! sahutku dan Dela bersamaan.


Tak terasa bus sekolah tiba, kami pun bergegas keluar dan masuk menuju kelas masing-masing. Aku, Radela Fernanda, dan Ririn Oktaviani adalah teman satu kelas yaitu kelas 11B dan juga teman akrab.


Sekolah kami istimewa, karena yang bersekolah di sekolah itu hanyalah anak perempuan saja. Sedangkan laki-laki bersekolah khusus di sekolah yang hanya ada anak laki-lakinya saja. Entah siapa yang membuat peraturan demikian aq pun tak memusingkannya.


Bel tanda masuk pun berbunyi, pagi in mata pelajaran yang harus diikuti adalah matematika. Entah mengapa aku tidak perah suka mata pelajaran ini, seandainya bisa di hilangkan lebih baik diganti pelajaran lain saja.


Bu Rina adalah guru matematika di kelas 2, aku selalu berusaha untuk menyukai pelajaran ini, tapi selalu saja tidak bisa. Kalau bisa waktu di percepat, maka akan ku percepat waktu untuk melewatinya.


"Dela, Ririn, yuk ke kantin. Asli, laper banget ne perut. "


" Ayo, aq pun sama ne. Dari tadi keroncongan, buat ga konsentrasi! " sahut Ririn.


" Ayo.... lets gooooooo....... !!!"


Baru beberapa langkah menuju kantin, langkah kaki kami berhenti ketika mendengar suara teriakan dan suara tembakan senjata api.


"Suara apaan tu Del?? tanyaku pada Dela"

__ADS_1


" Tau ah, dari kelas 1 dan kantor suaranya".


" Kok pada lari, hei ada apa??? " tanya Ririn pada salah satu murid yang berlari ke arah kami.


" Ada orang bawa senjata api kak, sebaiknya kita lari dan sembunyi. Mereka menangkap anak-anak yang lain, guru dan kepala sekolah di sekap di dalam kantor! Buruan kak, kita lari dan sembunyi! "


" Ayo, cepat-cepat, lari...! Buruan Dela, Ririn, cpt! " aku pun mulai panik sambil menarik tangan kedua temanku ini.


" Kita mau ngumpet dimana Lia?? " Ririn mulai panik dan menangis


" Tu, sembunyi di Lab aja yuk. Jauh dari kelas, mudah-mudahan mereka ga sampai ke sana ajakku! "


Kami pun berlari menuju ruang laboratorium yang letaknya agak jauh dari ruang kelas. Ternyata banyak juga anak-anak yang bersembunyi di sana. Jantungku berdebar sangat kencang, rasa takut dan cemas menghampiriku. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?? Apa yang diinginkan oleh orang-orang itu??? Begitu banyak pertanyaan dalam pikiranku.


Bruakkk, pintu laboratorium ditendang dari luar. Dengan serempak, kami berteriak dan berlari mencoba melarikan dan menyelamatkan diri. Tapi sia-sia, orang-orang yang mengenakan jas dan bersenjata itu dengan cekatan menarik dan menangkap kami.


Akupun tak luput dari tarikan dan cengkraman salah satu dari mereka, begitu ia menarik tanganku dan aku melihat wajahnya. Ada raut wajah yang menakutkan yang aku lihat, wajah marah, benci dan dendam bisa ku rasakan dari tatapan matanya. Dengan kasar ia menarik paksa aku, dan dengan sekuat tenaga aku mencoba melepaskan diri. Aku mulai memukul, menarik, mencakar dan mengigit apa yang aku dapat. Tanpa sadar satu pukulan mendarat di wajahnya.


Dia berhenti menari tanganku dan dengan tatapan mata tajam dia melihat ke arahku. Tangan kanannya tiba-tiba sudah berada di kepalaku, mencengkram kuat rambutku hingga aq meringis kesakitan.


Satu pukulan mengarah pada wajahku, membuatku oleng, kepalaku terasa sakit, pandanganku kabur dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2