
Badanku sudah terpuaskan karena istirahat yang aku dapatkan tadi, walau aku mendapatkan luka d tangan n hatiku, tapi aku masih bisa bersyukur aku masih bernafas sampai detik ini.
Pelan ku langkahkan kaki mencari si mbok, Mbak Dian atau pun Mbak Rini. Tumben istana sebesar ini sepi tak berpenghuni, kemanakah semua orang. Hari ini aku bebas berkeliaran d istana milik Tuan Rey, jarang-jarang bisa keluar dari bilik dan berada di istana megah ini. Kalaupun aku di luar pasti ya disuruh kerja rodi sama yang punya kuasa, maklum aku yg hanya orang hina dan selalu salah dimata yang mulia raja.
Berhubung yang dicari ga nongol-nongol juga ya udahlah, aku terduduk diam di ruang kumpul para pekerja di rumah ini. Berharap salah satu dari mereka ada yang datang, sejam, dua jam, tiga jam... aneh kenala mereka belum juga ada yang datang. kemana mereka semua pergi, tak ada satu orang pun yang ad di dalam istana ini. Kuberanikan diri menuju pintu utama untuk melihat keadaan di luar istana megah ini. Hanya terlihat separuh dari penjaga yang berjaga di depan dan di dalam rumah, keadaan yang tak biasa bagiku. Ada apa ini sebenarnya???
Tanpaku sadari ada sepasang mata yang sedari tadi diam-diam mengamatiku dari kejauhan, matanya yang setajam elang, senyum sinis terlihat tipis menghiasi bibinya, seakan siap menerkam dan memakanku bulat-bulat.
Aku bahkan tak menyadari bahwa tubuhnya sudah berada dekat denganku, sambil mengikuti gerakan yang kulakukan yaitu mengamati para penjaganya di luar istana.
"Apa yang kau lakukan heh, hardiknya tepat di belakangku! "
Aku yang kaget dengan refleks memundurkan badanku dan menabrak bagian depan tubuhnya sontak membuatnya dengan cepat mendorongku ke depan.
Tanpa bisa mengelak dan menyeimbangkan tubuhku lagi, aku pun tersungkur jatuh di depannya. Belum sempat untukku memperbaiki tubuhku atau pun berdiri, kaki panjangnya sudah mendarat di belakangku, dadaku yang tak tersentuh oleh kaki terasa sesak karena tendangan tepat d bagian belakang tubuhku berefek juga sampai kebagian dadaku. Aku berusaha mengatur nafasku, karena sangat susah bagiku mencari udara untuk masuk k paru-paruku karena krjadian itu. Bukan ada rass belas kasihan dan menolongku, dia justru semakin menjadi, dengan kasar ia menarik rambutku dan menyeret aku ke dalam. Aku berusaha melepaskan tangannya dari rambutku, tapi semakin aku berusaha lepas, semakin kuat genggamannya.
Aku mulai terisak dan memohon padanya, karena sangat sakit yang kurasa. Aku tidak tahu dibawanya ke mana, tapu sepertinya ruangan yang ditujunya ini seperti ruangan penyiksaan saja. Aq sempat melirik beberapa alat yang sering digunakan dalam film-film untum melakukan penyiksaan pada orang-orang. Tubuhku gemetar ketakuan, apa yang akan terjadi padaku nanti...
Tubuhku dilemparnya ke sudut ruangan, dada dan bagian belakang tubuhku masih terasa sakit, nafasku belum normal karena sesak. Tapi satu sabetan kurasakan mendarat di tanganku, ternyata iya mulai mencambukku dengan ikat pinggang kulit miliknya. Aku hanya berusaha melindungi bagian kepala dan wajahku dengan membenamkan kepalaku dan menjadikan tangaku tameng di atas kepalaku.
Aku bahkan tidak menghitung berapa kali cambukan ikat pinggang itu mendarat di badanku, badanku lun sudah mati rasa karena sakit yang luar biasa. Setelab puas, dia hanya duduk di salah satu kursi di sudut ruangan sambil menunggu bergerak. Aku masih dalam posisi yang sama, rasa sakit dan takut menghantuiku. Berharap dia cepat pergi dan menyudahi penyiksaan ini. Tapi dugaanku salah.
Dia mulai mendekatiku, dengan satu hentakkan tangan, Tuan Rey berhasil merobohkan pertahananku. Tangannya mencengkram kuat leherku, dengan sekuat tenaga dia menengadahkan wajahku dan mata kami berdua pun beradu.
__ADS_1
"Kau, gadis sialan yang pernah aku temui. Semua perempuan yang memiliki wajah sama sepertimu akan berakhir tragis sepeetimu. Jangan memasang muka memelas seperti itu Mel, kau tak pantas mendapatkan belas kasihan dari siapapun. Kau layak mati karena penghkhianatanmu padaku yang begitu tulus memcintaimu! "
Tangan besar itu terus mempererat cengkraman nya, aku sudah tidak bisa bernapas lagi.
"Tuan lepaskan saya Tuan, saya tdk bisa bernapas" mohonku lirih.
Tapi semakin ku memohon semakin senyum mengerikan itu terpasang di bibirnya.
" Aku tidak akan pernah melepaskanmu Melati, setelah apa yang kau lakukan padaku. Tidak semudah itu aku akan membiarkanmu hidup dengan damai dan bahagia, aku akan membuatmu menderita. Hingga kau tak sanggup untuk hidup atau pun mati."
" Tuan, saya bukan Melati tuan, saya Lia. "
"Perse4n dengan namamu itu, bagaiman kau sebut namamu, tapi kau tetaplah Melati."
Jemarinya perlahan menyentuh bibirku, tanpa pikir panjang aku pun menerkam jari itu dan menggigitnya, tampak dia mengerang kesakitan dan mendorongku jauh darinya.
Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku bangkit dan mencoba lari darinya. tapi sekali lagi. Aku gagal, karena ruang ith telah dikuncinya dengan menggunakan kode. Aku tak tahu bagaimana cara membukanya.
Teriakan marahnya membuatku menggigil ketakukan, tubuhku gemetaran, dengan cepat dia berjalan menuju ke arahku.
Tangan kekarnya menarik rambukku dan dengan kasar dia membanting tubuhku ke lantai.
Perempuan s**lan, akan kubunuh kau! Teriaknya yang semakin membuatku takut, aku berusaha lari darinya, tangannya yang kuat mencekalku, menarikku dan mendaratkan tubuhku ke dinding yang dingin.
__ADS_1
" Taun, namaku Lia, bukan Melati jelasku lagi padanya. " Aku bahkan tidak peduli, apa dia mendengarku atau tidak, tapi kalimat itu berulang kali aku katakan.
Dengan mata merah yang melotot padaku, dia kembali berujar. Kau adalah duplikatnya, kau di takdirkan untuk menerima pesakitan ini. Karena wajahmu itu selalu membuatku ingat akan dia yang telah mengkhianatiku. Maka dari itu, jangan salahkan aku melakukan kekejaman ini padamu, tapi salahkanlah dia. Melati itu telah berkhianat, dia telah melukai dan menghancurkan hati, pikiran dan rasa manusiawiku. Dia telah membuat luka di hatiku dan menaburinha dengan garam.
Melati itu selingkuh dengan laki-laki lain, tapi di depanku dia membuat dirinya seolah wanita terhormat, dia tak ada bedanya dengan P*****r. "
Dan kau, kau meiliki wajah yang sama sepertinya. Kau membuat luka yang hampir mengering menjadi basah kembalu, kau tahu. Aku samgat mencintau Melati, tapu karena perbuatannya padaku dia akhirnya harus aku singkirkan. Apa kau tau, begitu aku melihat wajahmu. Aku harus disadarkan dengan kenyataan Melati kembali dalam bentuk gadis belia. Dia kembali untuk membuatku terluka, menertawakan aku dan mengejekku, karena sampai saat ini aku masih memikirkan dan merindukannya.
Kau tahu, betapa menderitanya aku ketika aku kehilangan dirinya, ketika aku harus mengarahkan pistol kejantungnya, ketika peluru itu membus jantungnya, kau tahu betapa aku sakit dan menderita karennya.
Kau membuatku tersiksa karena wajahmu yang sangat mirip dengannya, senyummu, matamu, mengapa kau harus muncul di depanku dan membuatku menderita. Kau membuatku tersiksa karena rindu, benci dan sesalku padanya. Kau... kau... dengan kasar dia mendorongku dan melepakan tangannya dari tubuhku.
Aku tak percaya dengan apa yang kudengar, aku masih mengigil ketakukan.
Tubuhku terduduk di lantai yang dingin, pikiranku tak karuan entah kemana...
Tersentak ketika aku merasakan tangan yang menyentuh pipiku dan mengusapnya lembut, membersihkan air mata yang sedari tdi meengakir tiada henti.
Barulah aku tahu jika dia menbenciku dan dingin padaku karena aku mengingatkannya pada sosok yang sangat ia cintai.
Tapi, aku bukanlah wanita itu, aku adalah indah, gadis jatim piatu yang tak tahu apa-apa tentang masa lalu mereka. Aku hanya anak SMA yang masih ingin belajar dan bersenang-senang dengan teman-temanku. Bukan untuk menerima semua penderitaan ini hanya karena wajahku yang mirip dengan kekasihnya itu.
Hanya karena kau orang paling kaya dan oarang yang punya kendali atas negeri ini, kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu.
__ADS_1
Aku tak sadar berapa lama aku mengomel dalam hati dan aku tak sadar aku sudah berada dalam pelukan Tuan Rey, karena ketakuatan, rasa penasaran, kemarahan dan rasa tak terima atas perlakuan Tuan Rey tak menyadarkanku jika sosok pemarah dingin itu mendekapku.