
Rasa seperti sedang bermimpi, aku berada d sekolah bersama teman-temanku...
Ketika ku buka mata, kepalaku terasa sangat berat untuk di angkat dan ditegakkan, badanku lemah, serasa semua tulang yang ada di badanku hilang. Seluruh tubuhku terasa kaku tak bisa aku gerakkan, Ya Tuhan... begitu sakit yang kurasakan. Dari awal aku disini, tak pernah kulihat Tuan Rey tersenyum padaku. Yang ada hanya tatapan mata sini dan jijik yang dia tunjukkan untukku. Baru rasanya ku tersadar, Diana sang penjaga penjara membukakan pintu untukku. Barulah ku sadari, bahwa di dalam ruang bawah tanah ini ada beberapa bilik yang dijadikan penjara. Bilik-bilik iyu hanya di sekat dengan menggunakan potongan besi yang dijarangkan penyusunannya, sehingga kita bisa saling melihat satu dengan yang lainnya. Ya seperti penjara-penjara pada umumnya, hanya saja di sebelah bilikku ada satu penghuni juga. Tapi biliknya lebih terlihat seperti kamar pribadi, apa karena dia sedang hamil pikirku??? Mbak Dian membukakan pintu dan mengantar makanan dan minuman untukku.
"Sudah sadar??? Apa yang kamu rasakan sekarang dek?? "
" Oh... seluruh badanku sakit mbak, untuk bangun pun rasanya aku tidak sanggup! "
" Berbaring saja dek, biar mbak yang suapin makanannya. "
" Terima kasih mbak! "
" Oh, iya. Mbak hampir lupa, kenalin dulu. Mbak yang di sebelahmu ini nama nya Mbak Rini, dia sudah 5 bulan di sini dan dia juga sedang mengandung. Mudah-mudahan dia akan segera keluar. "
Aq sekilas melirik ke arah wanita yang disebut oleh mbak Dian.
Dia hanya tertunduk dan tersenyum padaku...
Otakku langsung dipenuhi tanda tanya, mengapa wanita yang sedang hamil bisa berakhir di tempat ini???
Kesalahan apa yang dia buat sehingga harus berpisah dr suaminya???
Bagaimana jika terjadi sesuatu, apakah suami atau keluarganya akan diberitahu??
Ah.... mengapa pertanyaan itu telintas olehku, sedangkan aku sendiri harus berakhir di tempat seperti ini.
Lamunanku tersadar ketika kurasakan ujung sendok makan menyentuh bibirku.
" Dek, mikiran apa?? "
" Eh... ga apa-apa mbak."
" Makanlah, selagi masih hangat. Pulihkan tenaga dan kesehatanmu, badanmu panas. Mbak khawatir kamu sakit, setelag makan ini mbak akan ambilkan obat. Kamu bisa istirahat setelahnya."
" Baik mbak, terima kasih" sahutku pada gadis yang sangat ayu ini.
" Rin, sudah makan?? " tanya Mbak Dian lembut kepada Mbak Rini.
" Udah, ne dh mau ngemil lagi. Bawaan bayi kali ya, kerjaanku cuma makan dan makan. Semua pengen dimakan. "
" Bulan ini sudah cek ke dokterkah?? "
__ADS_1
" Sudah, semuanya baik-baik saja. Alhamdulillah Dian, aku pun ga pernah mual dan muntah lagi, semua makanan sudah masuk semua kedalam perut."
"Syukurlah Rin... jika ada rasa yang aneh, jangan sungkan untuk memberitahuku. Tuan" juga berpesan gitukan sama kamu? "
"Iya, sekarang belum ada keluhan yang kurasakan. Mudah-mudahan sehat sampai waktunya aku melahirkan."
"Amin.... " sahut mbak Dian...
Aku hanya bisa mendengar pembicaraan mereka berdua sambik sesekali menerima suapan dari mbak Dian. Ternyata masih ada orang yang baik dan peduli padaku, walaupun baru kali ini kami bertemu.
Selesai sudah aku makan, tidak habis makanan yang diberikan padaku. Karena makanan n minuman yang masuk kedalam mulutku terasa hambar dan pahit saja.
Mbak Dian berlalu setelah mengemasi bekas makananku dan segera pergi mengambil obat penurun panas untukku. Mungkin karena luka dan sakit bekas cambukkan itu yang membuatku menjadi demam, karena aku masih belum mampu menggerakkan tubuhku.
Tak beberapa lama, Mbak Diana pun datang dengan beberapa macam obat yang ad di tangannya. Dia mengambilkan air putih dan membuka obat-obat itu dan memberikannya padaku.
Aku lun segera meneguknya, berharap ketika aku bangun dari tidur aku sudah mampu bergerak kembali.
" Mbak ke pos jaga ya, kalau perlu sesuatu panggil aja." kata mbak Dian padaku.
"Iya mbak, terima kasih sudah mau merawatku. "
" Kalo perlu sesuatu, kamu bisa kasi tau mbak. Mbakkan dekat, takutnya Mbak Diananya keluar istirahat. Jadi kalo perlu sesuatu jangan sungkan beritahu ya. " pinta mbak Rini padaku.
Dari aku sadar sampai menjelang malam kembali, tuan tidak pernah datang menjengukku. Apa dia benar-benar tidak ingin tahu keadaanku, apakah aku masih hidup atau sudah mati.
Ah.... biarlah, mungkin lebih baik dia tidak datang sama sekali.
Ketika waktu makan malam tiba, Mbak Diana membuka pintu jerujiku.
"Dek, kamu dah mampu bangun belum?? " Tuan Rey menyuruhmu untuk makan malam bersama, begitu juga dengan Mbak Rini. Kalian disuruh datang untuk makan bersama dengannya".
Aku hanya terdiam memikirkannya, badanku sudah mampu aku gerakkan. Tapi rasa sakit hatiku karena siksaan yang aku rasakan membuatku enggan untuk beranjak dari kamar jeruji besi ini. Lebih aman jika aku tetap berada di dalam ini daripada aku harus keluar, aku takut nanti akan ada kejadian yang tak ku inginkan lagi. Tapi jika aku tidak ikut serta, aku takutnya itu akan menjadi bumerang bagi diriku sendiri.
" Aq dah baikan mbak, badanku pun sudah bisa aku gerakkan. Aku akan pergi makan bersama dengan mereka nanti."
" Baiklah kalo begitu, bersihkan dulu dirimu. Mbak sudah menyiapkan air hangat untukmu membersihkan badanmu. "
" Baik mbak, terima kasih. " sahutku...
Setalah aku seleaai membersihkan diri dan mengganti pakaianku, kami pun siap untuk naik ke ruang utama. Ku lihat mbak Rini sudah rapi dan menawan menggunakan gaunnya. Aku hanya menggunakan pakaian yang dibawa oleh mbak Dian dari atas tadi. Sepertinya ini pakaian baru...
__ADS_1
Kami berdua pun di antar mbak Diana ke ruang perjamuan, ketika sampai mataku langsung tertuju pada pemuda angkuh dan arogan di depanku. Tak ad senyuman, tak ad suara apapun darinya ketika melihat kami berdua tiba.
Mbok dengan sigap menarikan kursi untuk ka mi i berdua duduk...
Tunggu, apa hanya mataku yang salah lihat atau bagaimana, tepat di samping Tuan Rey, duduk dengan anggun seorang gadis yang bisa kupastikan usianya hampir sama denganku. Begitulah aku menafsirkannya, siapa dia??? Apakah dia pacar Tuan Reyhan???
Tuan Reyhan memberi aba-aba dengan tangan untuk memulai acara makannya.
Karena kurasakan semua yg ku makan terasa pahit tadi pagi hingga siang, aku hanya mengambil makananku sedikit saja.
Karena aku pun ingin cepat kembali, entah apa yang aku rasakan ketika melihat Tuan Rey yang bersikap acuh tersebut. Benci dan marah yang kurasakan.
Selesai makan malam, Tuan Rey pun memulai pembicaraannya.
" Saya mengajak kalian makan bersama karena ada yang ingin saya sampaikan, uangkapnya! "
" Perkenalkan, dia adalah adik angkat saya, Namanya Elsy. Dia akan tinggal bersama dengan kita di sini, dan saya mau semua orang menerimanya dan menghormatinya! "
Hem.... aku hanya bisa terdiam dalam lamunanku, sungguh beruntungnya engkau. Di perkenalkan dan diterima oleh Tuan Rey dengan hangat. Berbeda jauh denganku yang karena masalah sehingga aku bisa berada di tempat ini.
Tanpa terasa air mataku jatuh membasahai tanganku. Ah... mungkin inilah jalanku, mudah-mudahan ini yang pertama. dan terakhir bagiku menerima cambukkan dari Tuan Rey gumamku dalam. hati.
Aku tersadar ketika Mbak Rini menyentuh tanganku.
"Dek, dek, ayo pergi, acaranya dh selesai. Buruan kita balek, sebelum diusir tuan lo... O... alah... lalu melamun pikirku.
" Eh, ya udah mbak, yuk lah kita berangkat ujarku!"
Kami berangkat kembali menuju bilik jeruji kami masing2, sesampainya di tempat. Aku pun membaringkan badanku...
Seandainya aku tidak di sini...
Ah... dipikirkan pun tak bisa merubah nasibku.
Kembali teringat aku pada senyum hangat tuan yang d lontarkannya pada Elsy... begitu hangat dan bersahabatnya..
Jauh berbalik denganku, ketika melihatku yang ada aku ingin di sambarnya, di cincang dan di berikan pada hewan peliharaannya.
Gadis barunya sangat mempesona dan manja padanya...
Mungkin takdirkulah harus hidup di sini, dengan cara ini. Berjuang sendiri untuk bisa diperlakukan dengan baik oleh Tuan Rey.
__ADS_1
Aku merebahkan tubuhku setelah ku teguk obat yang diberikan oleh mbak Dian tadi.
Semoga ketika ku tertidur, aku bisa bermimpi mendapatkan senyuman dan perlakuan hangat itu untukku....