
Ternyata hari menjelang siang, ketika Mbak Rini datang.
" Hai... apakah kamu baik-baik saja Dek?? " tanya Mbak Rini padaku..
" Iya Mbak, adek baik-baik saja, Mbak dari mana?? "
"Mbak pergi konsul ke dokter kandungan tadi, sekalian belanja beberapa keperluan perlengkapan bayi. Mumpung bisa keluar Dek! " sahutnya sambil menaruh barang belanjaannya di dalam bilik penjaranya.
" Iya Mbak" sahutku tanpa banyak bertanya lagi.
" Ya udah, Mbak mandi dulu. Dah bau masam ne kena keringat, lengket lagi rasanya dibadan". Gerutu Mbak Rini sendiri.
" Iya Mbak" sahutku seadanya.
Mbak Rini pun berlalu menuju ke kamar mandinya.
Sejenak aku hanya terdiam sendiri, pikiranku melayang jauh entah ke mana. Sampai nama Melati terlintas dalam pikiranku.
Siapakah Melati itu??
Apa hubungan antara Melati dan Tuan Rey?
Sedekat apa Melati, Mbak Rini, Mbak Dian, dan Alm suami Mbak Rini sendiri??
Ah... banyak pertanyaan tentang Melati di kepalaku. Aku harus menanyakannya pada Mbak Rini nanti.
Belum lama aku tersadar dari lamunanku, ku dengar langkah kaki menuju ke arah bilik kami.
Siapakah orang yang datang ke bilik kami ini.??
Kepalaku terangkat menunggu datangnya arah suara tersebut dan ternyata orang yang datang tersebut adalah Tuan Rey, apa. yang membawanya kemari???
Dia membuka pintu bilik milikku dan menarik tanganku secara paksa, aku tak mau melawannya. Karena sekuat apapun aku melawannga, dia tidak akan pernah mengalah dan menyerah. Dia tetap akan menjadi juara yang terkuat di sini.
Dengan sedikit berlari ku ikuti kemana arah Tuan Rey membawaku pergi, tanganku di cengkramnya dengan begitu kuat, sehingga tak bisa bagiku untuk lari darinya.
Dia membawaku ke lahan kosong miliknya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaganya ia mendorongku sehingga membuatku jatuh terjerembab ke tanah yang bercampur kerikil tajam.
Tentu saja hal itu membuat telapak tanganku berdarah.
"Dengarkan aku, aku mau lahan ini kau garap. Karena aku akan menanam mawar di atas lahan ini, garaplah secepat mungkin. Aku mau besok sore sudah selesai kau kerjakan, apa kau paham apa yang aku mau heh???!!! "
" Paham Tuan, saya akan mengerjakannya dengan cepat".
" Bagus, jika kau tidak selesai besok. Aku akan memberimu pelajaran, camkan itu!!! "
Apalah dayaku Tuhan, apa yang sebenarnya orang ini inginkan. Mengapa dia begitu dingin dan kejam padaku. Sebenar apa salahku padanya sehingga dia begitu membenciku???
Aku tak tau harus bagaimana lagi, dengan sekuat tenaga kucoba untuk berdiri dan memulai pekerjaanku. Tanah ini tidak terlalu luas, tapi jika hanys aku yang mengerjakannya sudah pasti besok tidak akan selesai. Ah... susah untuk dimengerti apa yang diinginkan oleh Tuan Rey. Untuk apa dia menanam mawar di tempat ini??
Sudahlah, semakin lama aku melamun dan bertanya pada diriku sendiri, semakin lama juga taman ini akan selesai ku kerjakan.
Aku harus bergegas, agar tidak mendapatkan hukuman dari tuan Rey.
Aku mulai mengumpulkan tenagaku dan pekerjaan baru ku pun aku mulai.
Dengan menahan rasa sakit di kedua telapak tanganku aku mulai memegangi cangkul dan mulai mencangkul membuat bedeng untuk menanam mawar.
Pelan tapi pasti akh mulai membuat apa yang diinginkan oleh Tuan Rey.
Sedang seriusnya aku mencangkul tanah, aku dikejutkan oleh suara orang lain yang sedang menertawakan aku.
Ternyata orang itu adalah Elsy, gadis baru kesayangan Tuan Rey. Apalagi yang dia inginkan sehingga datang ke tempat ini.
" Hey... apa yang kau lihat heh?? Cepat kerjakan apa yang Kak Rey suruh padamu, jangan cuma melongok ga jelas gitu! Dasar aneh, ga beres.
Denger ya, aku bakalan buat hidupmu menderita di sini. Jadi jangan main-main denganku, paham???!!! "
Satu lagi yang membuatku tambah bingung, rasanya baru 2 kali dengan ini kami bertemu. Mengapa bisa Elsy begitu membenciku?? Apa salahku padanya sehingga dia begitu dingin dan marah padaku??
Elsy hanya memberika senyum sengitnya padaku sambil berlalu dari hadapanku. Kepalaku dipenuhi dengan tanda tanya, kini bukan hanya Tuan Rey yang membenciku. Tetapi Elsy pun ikut-ikutan tidak menyukaiku, rasanya belum pernah aku membuat kesalahan pada mereka berdua. Sejenak aku melupakan keingintahuanku pada sosok Melati, padahal sedaru tadi yang ada dalam kepalaku hanyalah pertanyaan tentang sosok Melati.
Aku kembali pada cangkul, skop dan tanah yang ada di depan mataku.
__ADS_1
Perlahan aku mulai menggali tanah untuk membuat bedeng dan melupakan apa yang membuatku penasaran itu.
Matahari sudah berada di atas kepalaku, aku berhenti sejenak untuk beristirahat. Dahaga mulai menghantuiku, aku haus dan ingin berlari menuju sumber air untuk meneguknya sepuas hatiku. Tapi di manakah aku bisa mendapatkannya...
Sambil mengibaskan tanganku pada pada wajahku hanya untuk menciptakan angin, aku mendengar Si Mbok mengomel dari arah dapur.
Aku hanya tersenyum ketika melihatnya datang, apa yang aku tunggu akhirnya datangnya. Si Mbok datang dengan nampan yang berisi minuman dan makan, ah... Mbok tahu saja kalo aku sudah hampir mati kehausan! Gumamku dalam hati...
" Aduh ndok, ndok, lama ya nunggu Mbok datang?? "
" Iya Mbok, aku haus banget ne! Hampir mati aku karena kehausan, dah ga tahan ne! "
"Oalah ndok... Mbok ga tau kalau kamu disini, kalo ga denger Elsy ngomong sama teman-temannya tadi bisa-bisa ga ketahuan kalau kamu dibelakang."
Aku hanya tersenyum mendengar Si Mbok mengomel.
" Tapi sekarang Mbokkan dah tau aku di sini, sudah ah jangan mengomel lagi. Tar makin tua lo.... " godaku pada Mbok yang masih saja ngomel ga jelas sambil menuangkan air dan menyiapkan makanan yang dia bawa untukku.
" Ini, minum dan makanlah. Jangan sampe kamu sakit, apalagi Tuan menyuruhmu untuk membuat kebun mawarnya. "
" Iya Mbok, terimakasih sudah memperhatikan aku selama aku berada di sini. Aku ga tahu harus berbagi dengan siapa lagi, aku orang baru di sini dan ga kenal siapa-siapa. Tapi Mbok mau menerima dan memperhatikanku, itu sudah membuatku senang dan merasa dihargai. "
Mbok hanya tersenyum dan membelai rambutku dengan lembut.
" Makanlah, jangan sampai sakit. Mbok akan membantumu dan memperhatikanmu, jadi sehatlah selalu. "
" Iya Mbok... aku senang karena aku punya Mbok di sini, aku senang karena Mbok, Mbak Rini dan Mbak Dian memperhatikanku seperti keluarga sendiri. Itu sudah cukup buatku dan membuatku tenang."
" Iya ndok, kami pun senang karena kamu menerima kami dan sangat menghormati kami. Walaupun baru beberapa hari kita bertemu tapi Mbok sangat suka dengan sikapmu, baik-baiklah di sini, sehatlah dan semoga Tuan Rey bisa bersikap adil dan menerima serta memperlakukanmu sama seperti Elsy"
" Amin Mbok, semoga saja. Karena aku tidak tahu apa salahku yang begitu fatal padanya sehingga dia bersikap dingin dan membenciku begitu sangat. Dosa apa yang aku perbuat sehingga aku harus menerima perlakuan yang begitu tidak menyenangkan darinya. Tatapan matanya, senyumnya, hingga gerak geriknya ketika melihatku sangat jelas bahwa dia begitu membenciku."
" Kamu harus kuat ndok, kamu harus sabar dan banyak berdoa semoga dia bisa menerimamu dan memperlakukanmu sama seperti yang lainnya. Buat dia untuk bisa menyukaimu dan menerimamu."
Aku harus bangaimana Mbok biar Tuan bisa menerimaku, aku sudah berusaha menuruti apa yang dia mau. Tapi selalu saja salah di matanya. "
" Sabar ya Ndok, mudah2an hatinya yang keras dan membatu itu akan luluh dan mencair. Ya sudah, makan dan minumlah. Ini sudah waktunya makan siang, biar nanti kamu mampu untuk melanjutkan tugasmu. "
__ADS_1
" Iya Mbok, makasih sudah baik padaku! "
" Iya Ndok, sama-sama. "