
Setelah terbaring beberapa lama dan terlena dalam buaian mimpi indah, aku membuka mataku kembali. Suasana kamar begitu sepi dan hening, entah ke mana pergi semua orang di istana ini. Aku berusaha untuk bangkit dan melihat keadaan di luar, tapi kakiku terasa lemah tak bertenaga. Aku hanya bisa terbaring menatap langit-langit kamar, sakit semua tubuh ini. Ke mana Si Mbok, kena suasana dapur pun sepi tak berpenghuni, biasanya ada keributan di dapur. Apakah mereka semua tidak berada di rumah?? Ah...paling tidak aku bisa beristirahat sebentar, menenangkan pikiranku dan paling tidak aku bisa menghindar untuk bertemu dg Tuan Rey untuk sementara waktu.
Baru saja aku memikirkan keadaanku, Mbok sudah berada di kamar tanpa aku tahu kapan ia masuk ke dalam kamar.
" Bagaimana keadaanmu Ndok ?" Apa sudah baikan rasanya??? Tanya Mbok cemas..
" Iya mbok, aku baik-baik saja, tubuhku juga sudah agak mendingan, tidak terlalu sakit. Aku pun tidak demam lagi, cuma masih lemes saja."
" Ya udah, sekarang istirahat saja dulu. Nanti Mbok bawakan makanan dan minuman ke sini, jangan terlalu banyak bergerak dulu. Istirahatlah..."
" Baik Mbok, terima kasih. Maaf, aku membuat Mbok repot untuk mengurus ku."
" Mbok ga merasa di repotin koq! Ya sudah, sekarang istirahatlah kembali. Mbok akan menyiapkan makanan dan minuman untukmu, agar cepat kamu minum obat kembali dan istirahat kembali. Besok badanmu akan segar kembali."
" Makasih banyak Mbok!!" seruku...
Mbok hanya membalasku dengan senyum hangatnya dan berlalu meninggalkanku sendiri lagi di kamar
Ah ...kamar kembali sunyi lagi. Mbok bilang aku harus benar-benar bisa memanfaatkan waktu untuk beristirahat, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi lagi.
Tiba-tiba saja kejadian kemarin terlintas dipikiranku, betapa menakutkannya wajah Tuan Rey. Betapa mengerikannya dia, ketika marah dan melampiaskan kemarahannya padaku. Air mataku perlahan menetes, rasa takut mulai menghantuiku.
Mengapa kebencian Tuan Rey padaku begitu besar, aku tidak pernah ada hubungannya dengan masa lalunya. Aku bahkan tidak mengenal Melati. Tapi mengapa justrus aku juga menerima imbas dari masa lalunya??
Pertanyaan demi pertanyaan dan penasaranku ini selalu saja menghantuiku.
Rasanya aku sangat takut untuk berjumpa atau hanya berpapasan dengannya, karena ketika kami bertemu matanya begitu mengisyaratkan kebencian yang luar biasa ketika melihatku.
Ah...sudahlah, aku menjadi takut sendiri, takut jika ia menyiksaku lagi. cukuplah hari ini. Karena ini sangat menyakitkan, dan aku pun tidak mampu untuk menerimanya.
__ADS_1
" Ayo, jangan melamun lagi. Bangunlah, makanan sudah siap!" seru Mbok seraya mendekatiku.
" Ah..mbok, hampir copot jantungku!"
"Abis, mbok masuk liat kamu ya melamun saja, mikirin apa memangnya?" tanya Mbok penuh curiga.
" Hehehe...ga ad mbok, cuma pengen diam saja menikmati hari ini! Oh ya Mbok, Mbak Dian dan Mbak Rini ke mana?? Sepi amat, ga ada suaranya dari tadi?? tanya ku penuh keingintahuan.
"Ada Ndok, mereka di ruang bawah. Mereka ga mau ke atas, jadi mereka menunggu kamu sadar di ruang bawah katanya!"
"Oh...ya lah Mbok, nanti abis makan adek turun ya. Ga enak diam di atas ne, takut salah dan di marah yang punya rumah" candaku pada si Mbok. .Mbok hanya bisa tersenyum saja, dipandangnya wajahku yang masih tirus dan mungil ini. Ya...terlihat mungil dari kejauhan dan melebar ketika dilihat dari dekat...!"
Hari menjelang malam, sampai detik ini pun tak ku dengar suara Tuan Rey. Apakah ia masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor atau memang dia tak akan pulang?? Biarlah, aku akan aman jika tak bertemu dengannya.
Selesai sudah makanan yang diberikan mbok kepada ku. Aku pun mulai mengemasi semua peralatan makanku dan bersiap untuk kembali ke ruang bawah, di sana akan terasa lebih aman dan damai buatku. Walau pun itu adalah sebuah penjara yang tak pernah satu orangpun ingin berada di sana, tapi berbeda denganku. Di tempat itu aku merasa aman, karena hanya satu yang aku hindari. Bertemu dengan Tuan Rey lah alasanku.
Mbok datang untuk mengecek apakah aku sudah selesai makan atau belum.
" Iya Mbok, aku bolehkan langsung ke ruangan bawah. Aku lebih merasa nyaman di sana."
" Bentar ya Ndok, Mbok cuci piring dulu. Nanti Mbok antar kamu ke bawah, sekalian bawa cemilan buat Mbak mu di sana."
" Baik Mbok, adek tunggu di sini saja!" sahutku seadanya.
Aku sudah tidak sabar ingin cepat ke sana, aku takut kalau Tuan Rey datang dan melarangku untuk pergi ke sana dan mulai menyiksaku Kembali. Aku sudah merinding memikirkannya, karena luka di badan ini belum sembuh dan sangat menyakitkan.
Tak seberapa lama menunggu, Mbok pun datang menghampiriku.
" Yakin mau ke bawah, gak di sini saja bareng Mbok, lagian Tuan sedang keluar kota satu Minggu ini." Jelas Mbok kepadaku.
__ADS_1
" Adek di ruang bawah aja Mbok, lagian ad mbak Dian dan Mbak Rini di sana. Ade teman buat cerita dan ketawa." sahutku
" Ya udah klo mau nya adek begitu, tapi benar adek dah baikan, ga demam dan sakit lagi tubuhnya??"
" Ga Mbok, lagian nanti juga sakitnya hilang. Adek juga udah ga demam lagi, ada obat juga dikasi sama dokter. Kalau demam lagi, adek bisa minum obatnya. Mbok jangan khawatir!"
" Ya sudah, ayo kita turun. Mbok juga sekalian mau antar cemilan buat Mbak Rini. Sambil mau ngobrol-ngobrol, kangen juga sama mbak mu berdua di sana. Mereka juga cemas liat kondisi mu, takutnya nanti makin kepikiran mereka." Kami berdua pun turun ke ruangan bawah tanah, di sana lah para napi di kurung. Tak seorangpun yang bisa ke sana tanpa ijin dari Tuan Rey, bahkan hidup atau mati mereka hanya Tuan Rey yang tahu. Selama ini penjara itu hanya terisi dengan orang- orang yang berkhianat, para pemberontak dan musuh Tuan Rey sendiri. Tidak banyak yang diam di sana, karena sebagian sudah dihilangkan. Jika mendengar betapa kejamnya dia, ya itulah kenyataannya. Karena aku sudah merasakan kekejamannya itu... Tak seorang pun yang bisa lepas dari dalam rumahnya. Jika pun ia lari, dia tak akan pernah sampai kemana-mana.
Ah....aku akan mati di tempat ini juga akhirnya, tanpa bertemu dengan teman-temanku, tanpa bertemu anak- anak panti yang lain. Betapa menyedihkannya hidup ku ini....
Seminggu berlalu, tapi belum juga ada tanda-tanda kedatangan Tuan Rey. Tanpa kehadirannya ada sedikit rasa nyaman yang aku rasakan, tapi kini rasa khawatirku datang. Seminggu telah berlalu, aku tinggal menunggu suara teriakan dan makiannya tiba. Memikirkan itu jantungku berdegup kencang, aku takut akan kemarahannya yang kadang tidak jelas dilemparkannya pada siapa. Tapi aku yang menanggu kemarahannya.
" Dek, ngapain bengong gitu. Mikirin apa sich, diam melongo kayak orang kesurupan aja tanya mbak Rini padaku."
" Eh...ga kenapa-napa mbak. Lagi ngerasain angin sepoi-sepoi, buat ngantuk".
" jangan banyak bengong, tar lalu ketawa sendiri susah kami dibuatnya"
" hehehe...iya mbak, cuma nikmati angin ne lo, sejuk banget. Asli jadi ngantuk dibuatnya"
" Ya udah, tiduran aja. Lagian emang jamnya buat tidurkan ne. Dah makan siang, paling afdhol ya tidur siang. Hahahahaha...".
" Ish....suara mu lo Rin...sekampung kedengaran. Gerutu mbak Dian dengan ketawa juga.
" Tidur, tidur...biar makin makmur."
" Wes bobok lok dek, tunggu apalagi. Di penjara ya gini, di suruh makan tidur. Tar klo dah masuk jam kerja, bakalan terkuras Lo tenaga. Manfaatkanlah waktu ini sebaik mungkin, mumpung Tuan belum menjenguk kita di sini". Komen mbak Rini lagi.
" Iya mbak!"
__ADS_1
Ya....sebaiknya memang aku harus istirahat. Yang nanti biarlah terjadi nanti, yang sekarang harus kujalani dahulu.