
Entah sudah berapa lama Tuan Rey mendekap ku dalam pelukannya, aku tersadar ketika aku di gendong olehnya keluar dari ruangan itu.
Dia membawaku ke kamar pribadinya, di sana ia membaringkan aku dan menyelimuti ku. Ia berlalu meninggalkanku yang masih terbaring mematung dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan
" Maaf, maafkan aku yang telah membuatmu takut. Aku tak bisa mengontrol diriku sendiri ketika melihat wajahmu, matamu dan senyum di bibir kecilmu itu. Kau selalu mengingatkanku padanya, semakin aku berusaha melupakannya, semakin aku tersiksa karenanya. Ketika pertama kali ku melihatmu di sekolah, hatiku seperti dia aduk-aduk. Ada rasa bahagia, ada rasa kecewa, ada rasa benci dan jijik melihatmu. Tapi aku tak bisa melepaskanmu dari pandanganku walau hanya sedetik saja. Kau yang tidak tahu apa-apa harus menderita karena keegoisanku, mulai sekarang aku akan berusaha mengubur kenangan indah bersamamu Melati, akan kukubur kenangan indah itu. Akan ku lupakan kenangan yang menyakitkan hatiku. Sehingga aku bisa menjaga emosiku ketika ku melihat anak itu. Biarlah kenangan indah dan kenangan yang menyakitkan yang telah kau berikan, pergi bersama cintaku padamu. Bawalah, jangan pernah kembali dalam ingatanku, sehingga aku bisa menerima mereka yang terlihat mirip denganmu."
Lia terlelap dalam keheningan kamar, tubuhku remuk dihantam pukulan dan tendangan, hatiku hancur karena alasan yang tak masuk akal bagiku. Kumohon, biarkan aku beristirahat sebentar, sebelum kau hancurkan lagi badanku ini. Semua rasa sakitku menyatu menjadi satu, mengalir dan merajai tubuh kecilku.
Ya, biarlah hari ini cepat berlalu, aku hanya perlu memejamkan mataku. Aku perlu memulihkan tenagaku walau hanya sebentar, aku hanya perlu untuk menenangkan pikiran, jiwa dan ragaku.
Aku hanya perlu waktu sebentar untuk bermimpi tentang duniaku, tentang cita-citaku dan teman-temanku.
Aku terlelap dalam lena mimpiku, tanpa pernah tahu jika Tuan Rey kembali dan menatapku penuh sesal.
Tangan kekarnya itu perlahan merapikan rambut di kening dan mengusap wajahku yang masih memerah dan basah karena air mata. Dalam batinnya penyesalan yang dia rasakan, tapi ia tidak bisa berkata apa-apa.
Ketika amarah menguasainya, dia pun hilang kendali dan tak mampu untuk menahannya.
Tok, tok, tok
"Tuan, ne Mbok."
"Masuk saja mbok, pintu ga di kunci."
Pintu terbuka, dan cepat Mbok kembali menutupnya.
Mbok berjalan pelan menuju ranjang, ketika dia berhenti dan nampan yang ada di tangannya hampir terlepas dari tangan tuanya.
"Tuan apa yang terjadi?? "
" Mengapa Lia ada di sini?? "
Mbok tampak kebingungan.
" Obati lukanya, ganti pakaiannya" seru Tuan Reyhan.
"Baik Tuan"
Tuan Rey pun beranjak dari pinggiran ranjang dan keluar dari kamar.
" Ndok, apa yang terjadi, mengapa kamu bisa seperti ini Ndok?? "isak Mbok semakin menjadi.
Semua pakaian sudah dilepaskan, mbok masih menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu kemudian beranjak menuju meja di d samping lemari. Ia mengambil baju ganti yang sudah di siapkan Tuan Rey.
" Bukankah ini baju Nona Melati??? " pikir mbok tak henti.
" Ah, sudahlah aku harus bergegas mengganti pakaiannya."
Baru saja Mbok akan memasangkan peralatan ganti, Lia pun terbangun dan kaget.
"Mbok, apa yang Mbok lakukan?? "
"Mbok mengganti pakaianmu, jawabnya sekenanya saja."
" Biar Lia aja Mbok, Lia bisa sendiri." pintaku panda wanita paruh baya itu.
" Apa yang terjadi, apa yang Tuan lakukan padamu?? "
" Lia ga apa-apa Mbok!"
"Apa karena wajahmu yang selalu mengingatkan Tuan pada Melati lagi??" selidik Mbok.
Aku hanya tersenyum saja...
" Sampai kapan Tuan bisa melupakan Melati,guman Mbok lirih"
"Lia ga apa-apa Mbok, Lia baik-baik saja. Rasa sakit ini akan hilang dan luka ini akan sembuh, ujarku untuk menenangkannya"
" Tapi luka hati dan trauma tidak akan mudah hilang sayang, Mbok khawatir akan susah bagimu untuk melewatinya"
Isak mbok dalam keheningan kamar.
Aku hanya mematung mendengarnya.
"Ya, trauma yang ditimbulkan akan fatal bagi yang.
" Aku akan baik-baik saja, tenang lah Lia. Semua akan berakhir gumamku dalam hati"
__ADS_1
Kurasakan tangan Mbok mulai menyentuh luka-luka yang aku terima tadi.
"Sakit??? tanyanya
" Sedikit, sahutku"
Setelah semua luka ku diobati, Mbok mohon diri.
" Tadi Mbok dan yang lainnya kemana?? Koq rumah sepi banget, ga ada sama sekali orang di rumah. Pengawal yang biasa nya banyak pun tinggal separuhnya saja. " selidikku..
"Mbok tdi belanja ke pasar bersama karyawan yang lain, maka nya rumah kosong.
Keperluan rumah banyak yang sudah habis. Jadi kami harus pergi membelinya. Lia juga tadi lagi tidur,Mbok ga sampai hati buat bangunin. Mbok juga lupa mau kasi tahu. Tapi percuma juga mau kasi tahu sama siapa, karena kami semua pergi. Termasuk Mbak Rini dan Mbak Dian. " jelasnya.
"oh.... ya lah, aku juga barus turun Mbok. Ga enak lama-lama diam di kamar ini. " sahutku lagi.
"Ya sudah ayo"
Kami pun beranjak dari kamar pribadi Tuan Rey, serasa mimpi bagiku. Aku bisa terlelap walau hanya sebentar di kamar itu.
Ketika melewati tangga terakhir, tak sengaja kami berpapasan dengan Tuan Rey.
"Lukanya sudah Mbok obati Tuan, sekarang biar Lia beristirahat di kamar Mbok saja."
tutur Mbok pada majikan kejamnya itu.
Tuan Rey hanya mengangguk perlahan sembari menatapku.
Tapi tatapan itu bukan lah tatapan kebencian, tatapan itu terlihat seperti tatapan penyesalan.
" Permisi Tuan, pinta Mbok sambil menggenggam tanganku sambil berlalu dari hadapannya. "
Tuan Rey hanya bisa menatap belakang punggung kedua orang itu hingga menghilang dari pandangannya.
Ia kembali ke kamarnya, membuka pintu dan menatap ranjang dimana ada tubuh gadis kecil yang di siksanya tadi. Tubuhnya pun terjatuh ke kasur yang empuk itu, meratapi dan menyesal. Tapi bahkan sampai tadi pun rasa bencinya ketika melihat wajah gadis yang mirip perempuan yang dulu pernah dicintainya itu masih ada...
Kembali iya mengambil handphone-nya, terdengar suara orang menyahut dari sebrang sana.
" Leo, cari tahu asal usul Lia untukku, secepatnya!" Pinta sang raja pada bawahannya.
"Baik Tuan, akan saya cari tahu secepatnya"
" Baik Tuan, laksanakan"
Tut.. tutt.. tutt... suara hp dimatikan.
Apa yang tidak bisa di lakukan, seorang petinggi negeri yang memiliki semuanya. Hanya tinggal menelfon dan memerintah saja dia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ya, dia adalah Reyhan Aditya Putra Sanjaya pewaris tunggal Sanjaya Grup. Perusahaan terbesar nomor 1 di negeri ini. Ia tampan, berbadan kekar, tinggi dan penuh kharisma. Tapi sayang, sikap kasar dan dingin serta bertindak semaunya kembali ia lakukan semenjak isu perselingkuhan tunangannya Melati. Bahkan dengan sadar ia telah membunuh kekasihnya itu, bahkan sahabat yang sekaligus ajudan dan orang paling ia percayakan meninggal karena berusaha menghentikan kekejaman Tuan Rey.
Dia adalah Doni, suami dari Mbak Rini yang sekarang sedang mengandung. Karena rasa bersalahnyalah Mbak Rini berada di tempat ini. Menata hidupnya yang hancur karena perbuatan majikannya sendiri, mungkin jika ia tidak mengandung ia akan melakukan penyerangan pada Tuan Rey.
Nasibku lebih mengenaskan, tidak atau apa yang terjadi harus berakhir di sini.
"Istirahatlah Ndok, jangan terlalu banyak melamun dan memikirkan hal yang tidak-tidak. Mbok ad disini bersamamu, jangan khawatir. Tuan tidak akan mengganggu lagi, jadi sekarang beristirahatlah." Tegur Mbok ketika tahu aku sedang melamum.
" Ia Mbok"
Aku coba pejamkan mataku ini, hingga aku benar-benar terbuai ke alam mimpi. Tapi bukanlah mimpi indah yang kutemui. Rekaman penyiksaan yang dilakukan oleh Tuan Rey kembali memutar dan nyata kurasakan, aku hanya mampu berteriak minta tolong dan memohon ampun agar ia berhenti melakukan penyiksaan itu.
Aku tersadar ketika Mbok dan Mbak Rini mengguncang tubuhku sambil memanggil namaku panik.
" Dek, dek, bangun dek, adek, bangun sayang! "
"Ndok, sadar nak!"
Kubuka mata dan kulihat wajah panik mrka berdua.
"Kamu ga apa-apa?? Badanmu panas, kamu demam dek. "
" Sebaiknya Mbok telfon dokter dulu Rin, ga bisa dibiarkan lama-lama. Kita ga tau luka di badannya apa saja atau ada luka dalam. " sahut mbok dalam paniknya.
Aku tak mampu untuk menggerakkan badanku, tetap berbaring itu yang terbaik bagiku sekarang.
Mbak Rini pun dengan cekatan menggambil alat untuk mengompres demamku.
" Sabar ya, bentar lagi dokter datang." ucapnya padaku sambil tersenyum dan membelai rambutku.
__ADS_1
"Iya Mbak, adek juga ga apa-apa. Hanya badan adek ga bisa untuk adek gerakkan saja. Rasanya sakit semua. "
" Berbaring saja dulu, jangan bergerak. Kalo mau pergi ke toilet berita Mbak, nanti bisa Mbak antar. "
"Iya Mbak, makasih sudah mau menemani adek dan bantu adek selama ini. " sahutku dengan suara mulai serak dan tertahan menahan tangis.
Terdengar suara ribut di luar kamar si Mbok, ternyata Mbak Dian sudah datang membawa seorang dokter perempuan.
"Silahkan masuk Dok!" kata Mbak Rini mempersilahkan.
Senyum dokter tersebut melebar di bibir nya, tetapi baru saja ia menoleh ke arahku senyum dan langkah kakinya terhenti.
Ia membalikkan badan dan seakan melempar pertanyaan pada Mbak Dian dan Mbok yang datang dan berada tepat di belakang Mbak Dian.
Seakan tak percaya apa yang baru saja ia lihat di depan matanya.
" Siapa anak ini Mbok???" tanyanya pada Si Mbok
Mbok pun masuk ke dalam kamar, duduk d sampingku dan berkata:
"Namanya Lia, kami tidak tahu dari mana dia berasal. Tapi yang kami tahu Tuan yang membawanya kemari."
" Wajah itu....wajahnya.... apa aku salah liat Mbok?? Atau hanya perasaanku saja???
" Periksa dia dulu dok, nanti mbok akan jelaskan. "
" Eh... baik mbok! "
Dokter cantik ini pun dengan seksama memeriksa tubuhku, tak satu pun luput dari pemeriksaannya.
" Dia hanya mengalami syok, luka lebam dan dan memar saja. Jika ingin mengetahui lebih detail lagi, kita harus membawanya ke rumah sakit. Tapi sepertinya ini hanya luka luar saja, aku akan memberikan obat untuknya. "
" Tidak ada yang parah dari lukanya kan dok?? " tanya Mbok lagi.
" Yang ada sekarang hanya luka luar saja, jika ingin memastikan lebih lanjut, kita bisa membawanya ke rumah sakit."
"Ini obat yang harus dia minum, suruh ia beristirahat. Jangan melakukan pekerjaan berat, kita lihat keadaannya dalam beberapa hati ke depan. Jika ada tanda-tanda yang mencurigakan, tolong kabari saya."
" Baik dokter!" sahut Mbok.
" Mbok, saya perlu penjelasan tentang yang saya lihat ini! "
" Mari keluar, Asih sudah membuatkan teh untuk dokter. "
Tinggallah kami bertiga dalam kamar si Mbok.
Mbak Dian menyodorkan nampan yang berisi bubur untuk ku makan.
" Makanlah, setelah makan minum obatnya. Agar kamu lekas sembuh!" bujuk Mbak Dian padaku.
Mbak Rini pun mengambil mangkok yang berisi bubur dari tangan Mbak Dian dan dengan pelan dia mulai menyuapi bubur kepadaku.
Di tempat lain, Mbok dan dokter Ariska sedang serius berbicara.
" Katakan padaku, siapa sebenarnya anak itu, mengapa bisa ia sampai ke tempat ini dan apa hubungannya antar dia dan Reyhan?? ""
"Mbok juga terkejut awalnya ketika pertama kali melihat wajah Lia, mengapa dia bisa sangat mirip dengan almarhumah Melati. "
" Mbok tidak tahu dari mana anak itu berada, yang Mbok tahu. Mbok sudah melihatnya tiba di rumah ini. Mbok tidak pernah bertanya padanya tentang asal usulnya, siapa orang tuanya dan di mana rumahnya. Mbok juga belum pernah bertanya mengapa bisa dia berakhir di tempat ini.
Itu semua karena ada rasa senang dan rasa tak percaya bahwa ia seperti Melati yang kembali setelah sekian lama tak bertemu dengannya."
" Berarti, luka-luka itu pasti karena wajahnya yang sangat mirip dengan Melati bukan??? Wajah itu membangkitkan kenangan Rey akan Melati yang kini tiada dan melampiaskannya pada dia! "
" Ya.... ketika melihat Lia, nampak begitu jelas di mata Tuan Rey akan kebencian dan amarah. Seakan Melati kembali dan menorehkan luka lama untuk berdarah dan menaburinya dengan garam dan cuka sehingga Tuan merasakan sakit kembali. Itulah yang membuat dia menyiksa anak itu hingga tak berdaya seperti sekarang, padahal anak itu tak tahu apa-apa tentang masa lalu Tuan." jelas Mbok kepada dokter Riska.
" Apa yang merasuki Rey sehingga anak kecil seperti itu yang tidak tahu apa-apa menjadi korbannya, sampai kapan ia akan melakukan ini. Melati sendiri sudah ia habisi tanpa mencari tahu kebenaran yang sebenarnya. Dia hanya termakan omongan segelintir orang yang tidak suka dengan hubungan mereka, dan kini ia membabi buta menyiksa orang lain bahkan anak kecil seperti Lia pun ia jadikan tumbuh sakit hati dan dendamnya." Geram dokter Riska
"Mbok kasihan melihat Lia, dia menjadi korban kemarahan Tuan Rey. Dia sendiri bingung mengapa Tuan begitu membencinya, padahal dia baru bertemu dengan Tuan dan dia tidak memiliki kesalahan apa pun pada Tuan. Sekarang dia hanya menanggung sakit karena siksaan yang dilakukan oleh tuan padanya. "
" Sampai kapan Rey akan tetap mengingat Melati, kapan dia akan melupakannya. Apa Rey tidak lelah hidup dalam bayang-bayang kebencian pada orang yang belum tentu bersalah padanya. Kapan dia tidak akan membuat ulah lagi dan kembali seperti Rey pertama kali bertemu dengan Melati, senyum hangat, sapaannya, dan candanya yang dulu saat bersama Melati itu yang kuinginkan kembali.
Bukan Rey yang dulu, arogan, sadis, dingin dan menakutkan.
Apakah ada Melati lain yang bisa membuatnya kembali seperti waktu itu Mbok??? Tanya dokter Riska penuh putus asa dan harap.
Suasana kembali hening, Mbok hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
Sementara Dokter Riska termenung memikirkan keadaan keponakan semata wajahnya itu....