
Makan siangku sudah selesai, lapar dan dahagaku sudah terobati. Si Mbok pun pamit ke dalam untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain, Sebotol besar air mineral dan sepiring camilan ditinggalkannya untukku di kursi tepat di bawah pohon mangga, aku bersyukur karena masih ada yang mau memperhatikanku di. tempat asing ini.
Aku pun mulai bangkit untuk melanjutkan pekerjaanku, aku takut ini tidak akan selesai. Karena tanah yang harus ku kerjakan sangatlah luas. Ini hanya akal-akalan Tuan Rey saja untuk menghukumku, karena selama ini aku sudah beristirahat terlalu lama di dalam bilikku. Pasti dia ingin aku menderita, pikiranku sudah tidak-tidak. Ah... mudah-mudahan ini hanya pikiranku saja, semoga apa yang tidak aku inginkan tidak terjadi padaku hari ini.
Aku mulai kembali membuat bedeng untuk menanam bunga mawar Tuan Rey, tanganku sudah tidak kuat untuk mencangkul. Ku rasa kedua telapak tanganku sudah perih dan ketika kulihat keduanya sudah berdarah, lantas saja sakitnya minta ampun. Masalah lagi untukku kali ini, bagaimana bisa aku mengerjakan semua pekerjaan ini jika kondisi kedua telapak tanganku sudah berdarah dan lecet begini. Semakin kupaksa semakin sakit ku rasa, air mataku pun mulai jatuh menahan rasa sakit di kedua telapak tanganku. Aku pun terduduk kembali di kursi, sambil mendinginkan tubuhku. Panas begitu terik, tanganku terasa begitu sakit.
Baru beberapa menit aku beristirahat, aku sudah dikagetkan dengan terikkan seseorang.
" Hey budak, aku menyuruhmu untuk bekerja. Bukan untuk duduk santai disitu!!! "
Aku terkejut, karena yang berteriak itu adalah Tuan Rey.
" Maafkan saya Tuan, saya hanya beristirahat sebentar. Nanti saya akan melanjutkan pekerjaan saya."
" Tidak ada kata nanti-nanti, aku mau sekarang, bukan nanti. Kerjakan pekerjaanmu sekarang, cepat lakukan dasar pemalas!!!"
Dengan kasar Tuan Rey menarik tanganku dan mendorongku ke tanah, tak puas hanya dengan itu Tuan Rey pun menampar pipiku.
Aku pun terjerembab ke tanah sambil menahan sakit di pipiku.
Belum puas dengan menampar saja, dia pun menendang kaki sambil berkata:
" Aku akan membuatmu lebih menderita lagi, jangan harap kau akan bahagia di sini. Karena aku akan membuatmu menangis dan menderita, merasakan sakit yang lebih sakit lagi setiap harinya. Aku akan membuatmu tidak pernah bahagia!"
Aku hanya bertanya padanya:
" Salah saya apa Tuan?? Apa yang telah saya perbuat sehingga Tuan begitu membenci saya??" tanyaku padanya.
Dengan wajah yang marah dan menakutkan Tuan Rey menarik baju dan mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menjawab pertanyaanku itu.
" Salahmu adalah memiliki wajah yang mirip dengan orang yang paling aku benci dan itu membuatku muak setiap kali aku melihatmu.
Yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana caranya agar aku emmbuatmu menderita, sama seperti yang telah ia perbuat kepadaku!"
" Tapi tuan, saya bukan orang itu. Kami berbeda, saya bahkan tidak mengenal siapa orang yang Anda maksud itu. Ampuni saya Tuan! " melasku padanya.
Tapi apa yang aku minta tidak pernah di dengarkan olehnya, dan dengan kasarnya dia mendorongku lagi.
" Kerjakan apa yang aku minta, atau kau akan jauh lebih menderita!"
Baiklah, aku harus bisa melawan rasa sakitku, aku bangkit dan pergi untuk melanjutkan pekerjaanku kembali. Jujur, rasa sakit karena pukulan dan tendangannya masihku rasakan, belum lagi rasa sakit karena perkataan yang keluar dari mulut Tuan Rey. Siapakah orang yang ia maksud sehingga dia tega melakukan ini padaku. Mengapa ia begitu membenci orang itu, sehingga dia begitu membencinya???
Aku hanya berharap, dia bisa menerimaku dan tidak menyamankanku dengan orang tersebut. Karena kami orang yang berbeda.
Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini, hamba sudah tidak sanggup menerima kenyataan seperti ini. Biarkanlah hamba keluar dari tempat ini, sehingga hamba bisa hidup seperti orang lain di luar sana. Hambah rindu sekolah, hamba rindu guru dan teman-teman hamba ya Allah. Hamba rindu panti dan semua orang yang menyayangi hamba di sana. Biarlah hamba pulang kembali kepekukan mereka, berkumpul bersama mereka kembali ya Allah.
Dengarlah permohonan hamba ini, hanya pada-Mu tempat hamba meminta dan memohon.
__ADS_1
Hanya doa yang bisa aku panjatkan, dengan berdoa hatiku sedikit tenang. Aku bisa melihat pancaran wajah dan sorot mata kemarahan Tuan Rey kepadaku, sebegitu bencikah dirinya padaku. Dia seperti ingin menelanku hidup-hidup... aku benar-benar ketakutan melihatnya.
Aku berjalan terhujun menuju bedeng yang belum selesai aku kerjakan tadi, dengan susah payah aku mulai mengangkat cangkul dan mencangkul tanah kembali. Telapak tanganku pun mulai mengeluarkan sarah kembali, dengan air mata yang mengalir di kedua pipiku aku berusaha menahan sekuat tenaga rasa sakitku dan mencangkul tanah dengan sekuat tenaga. Berharap ada keajaiban seperti di film-film, tapi itu hanyalah film saja. Aku hidup di dunia nyata, tentu tak ad keajaiban bagiku.
Walau tangisku semakin kuat, takkan Tuan Rey mau memberiku kelonggaran.
Aku tersadar ketika suara seorang perempuan memanggilku.
" Dek, kamu baik-baik ajakan, kamu ga apa-apakan??" suara panik itu membuatku tersadar, ternyata Mbak Dian dan Mbak Rini datang menghampiriku. Mereka berdua segera merangkulku, sambil terisak mereka berdua memeriksa seluruh badanku sambil melontorkan pertanyaan dengar rasa kekhawatiran.
" Yang mana yang sakit Dek, mana yang luka, biar mbak lihat dan mbak obati."
Pertanyaan-pertanyaan keluar terus dari mulut kedua orang tersebut, terlihar diwajah keduanya kekhawatiran yang sangat dari mereka berdua. Aku hanya tersenyum menyaksikan hal itu, rasa sakitku san rasa sedihku terobati sejenak karena kehadiran kedua orang tersebug. Mereka benar2 mengkhawatirkanku ternyata, aku sangat bersyukur mereka menerima dan mengasihiku.
" Aku baik-baik saja mbak, jangan khawatir. Aku pasti bisa melaluinya, karena kalian menemaniku mbak. Seandainya kalian tidak ada, mungkin aku ga akan mampu menghadapi ini sendiri mbak. Jujur aku takut melihat kemarahan Tuan Rey, melihat matanya yang penuh dengan kebencian memandangku tadi." Ucapku pada mereka berdua.
Kulihat linangan air mata dikedua pipi mereka.
" Kami akan selalu ada buatmu Dek, ayo kita duduk dan istirahat sebentar. Tanganmu berdarah, sebaiknya kamu berhenti mencangkul. Istirahatlah, nanti mbak akan ngomong sama Tuan Rey, biar pekerjaanmu dilanjutkan ketika kamu sudah sembuh". Ucap Mbak Rini sambil mengelus rambutku.
Aku hanya mengangguk saja padanya.
Ku lihat Mbak Dian pergi ke dalam, entah apa yang dia lakukan. Belum lama dia kembali dan kotak P3K nya, mengeluarkan isinya dan mulai memilih apa yang dia perlukan untuk mengobati kedua telapak tanganku.
"Sini tanganmu Dek, mbak bersihkan dulu lukanya. " pintanya padaku.
" Tahan ya Dek, ini akan terasa perih, biar ga infeksi nanti tanganmu".
" Iya mbak"
Mbak Dian pun mulai membersihkan tanganku, mengeluarkan butiran pasir dan tanah yang masuk dalam luka-lukanya. Perih memang, tapi aku berusaha untuk menahannya, walaupun akhirnya aku berteriak kesakitan.
Kulihat wajah mereka berdua terlihat panik dan berhenti sejenak mencurahkan air pada kedua tanganku, membiarkanku untuk tenang sebentar.
" Kamu ga apa-apa Dek??? Tapi tanganmu tetap harus Mbak bersihkan, tahan sebentar ya sayang. Sebentar saja, mbak akan cepat membersihkannya, jadi Adek tahan sedikit lagi ya. Ini sudah hampir bersih, tahan sebentar lagi ya sayang".
Aku pun mengangguk pelan, karena ini semua demi kebaikan juga.
" Iya Mbak!Mbak bisa melanjutkan membersihkannga." Ujarku pada mereka berdua.
Dengan sigap mereka melanjutkan membersihkan kedua telapak tanganku kembali.
Setelah dibersihkan mereka mengoleskan betadine dan memberikan salep, kemudian membalut kedua tanganku. Belum selesai balutan tanganku dikerjakan, terdengar suara langkah kaki sedikit berlari menuju ke arah kami bertiga.
Kulihat raut wajah panik dan ketakutan dia wajahnya yang berkerut.
Ya, Si Mbok dengan setengah berlari menuju ke arah kami Dengan panik dia menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, sampai aku tidak bisa mendengar dan memahami apa yang dia tanyakan karena terlalu banyak dan cepat pertanyaan yang dia lontarkan.
__ADS_1
"Mbok, tenang Mbok. Adek ga apa-apa sahut Mbak Rini."
Aku hanya tersenyum, rasa syukurku bertambah. Karena mereka benar-benar mengasihiku dan memperhatikanku.
" Apa yang sebenarnya Tuan Rey mau, sehingga ia tega melakukan ini pada anak yang masih kecil sepertimu Ndok?? Apa yang ada dipikirannya sehingga dia tega menyiksamu seperti ini?? "
Raut wajah kekhawatiran Si Mbok terlihat jelas, tampak jika ia takut hal buruk terjadi padaku karena perbuatan Tuan Rey.
" Tuan Rey membenciku karena aku mirip dengan orang yang sangat dia benci Mbok, apa Mbok kenal dengan orang yang ia maksud??? " tanyaku pada Mbok yang membuat mata Mbok terbelalak, bukan hanya Mbok yang terlihat kaget. Mbak Rini dan Mbak Dian pun ikut terperanjat dan mebelalakkan kedua mata mereka. Mulut mereka terkunci untuk beberapa saat, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka bertiga. Seolah mulut mereka terkunci, lidah mereka kaku sehingga tak bisa berbicara.
Aku masih menunggu jawaban dari Mbok dan jawaban dari keterkejutan mereka bertiga.
Mbok dengan cepat menarikku dalam pelukkannya dan memelukku erat sambil menangis.
"Kamu ga mirip orang itu dek, kamu dan dia berbeda. Kalian ga sama, kalian orang yang berbeda."Teriak Mbok dalam tangisnya!
Aku tidak mengerti apa yang Mbok katakan, siapakah orang yang dimaksud oleh Tuan Rey itu dan Mbok dengan isak tangisnya mengatakan jika kami berbeda.
" Siapa yang Tuan Rey maksdu Mbok?? Siapa orang itu?? Tanyaku sekali lagi pada Mbok.
" Dengarkan Mbok, kamu bukan orang itu. Kalian berbeda, Mbok akan cerita. Tapi tidak sekarang, yang harus kamu lakukan adalah memulihkan lukamu. Mbok akan beritahu apa yang ingin kamu ketahui, tapi nanti. Setelah kamu beristirahat dan lukamu sembuh. Ya Ndok ya?? "
Aku hanya mengangguk mengiyakan permintaannya.
Baiklah, sekarang ayo kita masuk dan beristirahat di dalam. Biar nanti Mbok yang ngomong sama Tuan Rey tentang keadaanmu. "
" Dian, ambil es dan kompres pipi adek dan kaki adek. Biar ga bengkak dan sakit, jiak dibiarkan bengkaknya akan semakin parah. "
" Iya Mbok."
"Ayo kita ke dalam." perintah mbok pada Mbak Rini dan Mbak Dian.
Dengan sigap mereka membopong tubuhku dan membawaku ke dalam rumah, mereka membaringkanku ke dalam kamar Si Mbok.
" Mbak Dian pergi mengambikan es untuk mengompres memar pada pipi dan kakiku, sedangkan Mbak Rini menemaniku di kamar. Dia nampak begitu ketakukan melihat keadaanku, aku tak tahu apa yang dia rasakan. Tapi jelas, kekhawatiran yang mendalam tersirat di wajahnya. Tak hentinya ia menggenggam tanganku yang berbalut perban, menciumnya dan mencoba menenangkanku sebisa mungkin.
Mbak Dian datang dengan alat kompresnya, dan dengan hati-hati dia mulai mengompres memar pada pipi dan kakiku.
" Terima kasih Mbak Dian, makasih Mbak Rini, kalian begitu baik padaku." Ucapku penuh syukur pada kedua orang yang ada di hadapanku itu
Terlihat jelas cairan bening mengalir dari kedua pipi mereka berdua, dengan penuh kasih mereka memelukku.
" Istirahatlah Dek, jangan terlalu banyak yang dipikirkan. Kami berdua akan menemanimu di sini." ujar Mbak Rini pelan.
Mbak Sian juga memberikanku beberapa butir obat untuk aku minum. Sehabis menelan obat yang diberikan padaku, aku pun mulai mengantuk. Suara Mbak Dian dan Mbak Rini semakin jauh ku dengar, mataku mulai berat untuk dibuka sepenuhnya.
Aku pun tertidur dan sejenak aku melupakan apa yang telah terjadi padaku tadi Aku masuk ke alam mimpi, dimana hanya ada tawa dan kebahagiaan. Semua terasa begitu indah dan menyenangkan, tanpa ada tangis, air mata, luka dan teriakan minta golong dan pengampuan. Hidup terasa bebas, penuh dengan suka cita dan bisa beekumpul kembali bersama dengan orang-orang yang aku kasihi. Terasa hidup begitu bahagia, damai dan dipenuhi dengan suasana penuh cinta.
__ADS_1