Perasa

Perasa
PART 05


__ADS_3

''Kematianmu tidak akan pernah sebanding dengan penderitaanku dulu dan itu karna mu Narto''


@Zanden Qivan Giantara


''Akkhhhh Sialan siapa kalian''teriak pria paruh baya kesakitan dengan tatapan bengisnya lalu menatap satu persatu orang-orang bertopeng dihadapannya.


Dorr


doorrr


doorrr


''Akkhhhhhhh sialannnnn''jerit pria paruh baya tiga kali tembakan tepat pada bagian kaki kanan dan kirinya tersungkar.


''Bawa pria tua ini ke markas dan habisi gadis itu serta ibunyanya yang ada di bawah''perintah ketua dengan sorot tajamnya.


''Wahh makanan gratis nih bro sepertinya kita harus sedikit bermain dari pada kita bunuh langsung. Gimana?''tanya salah satu anggota dan di setujui anggota lainnya.


Misyah yang mendengar mengelengkan kepalanya dengan butiran air mata yang sudah membenjiri pipi mulusnya.


''Tuan saya mohon jangan sakiti keluarga saya hikss''pinta Misyah.


''Diam gadis manis lebih baik kamu diam dan ikuti mau kami''ujar salah satu anggota.


''Ayo tuan kita bersenang-senang apa tuan ingin terlebih dahulu yang mencobanya?''tanya salah satu anggota Zanden.

__ADS_1


Ketua alias Zanden pun mengangguk dan menyuruh semua anggota nya keluar kamar meninggalkan dirinya dengan gadis yang sedang menangis di hadapannya.


Ketua pun menghampiri gadis manis yang sedang berbaring dengan tali terikat dibagian tangan mungkin ulah si pria tua tadi pikirnya.


Zanden dengan segera menatap gadis di hadapannya yang tengah teringsak menangis di sertai rasa takut yang Misyah rasakan.


Di saat ketua mendekat. Misyah semakin ketakutan dengan tatapan meminta permohonan pada Zanden.


''Jangann''larang Misyah dengan tangisnya karena takut.


''Suutttttt diam''sentak ketua dengan segera mel*mat habis b*bir Misyah yang sedang memberontak di bawah kungkungannya. Tanpa perasaan si ketua Zanden terus memaksa sampai dimana nafas Misyah hampir kehabisan.


''Hiksss hikss saya mohon lepaskan saya tuan''ucap Misyah memohon setelah lum*tan itu terlepas.


Cklek


''Bawa dia ke mansion dan jangan kalian apa apakan sebelum ada perintah dari saya''kata Zanden meninggalkan mansion itu setelah menghabisi keluarga Narto.


/Malam Hari Pun Tiba/


Di sebuah kamar yang sangat elegen terdapat seorang gadis sedang menangis.


Brakkk


Pintu terbuka dengan kencangnya lalu muncul lah Zanden yang sudah membuka topengnya.

__ADS_1


''Diam''sentak Zanden kasar.


Plakkk


''Saya bilang diam dari tangisan mu yang menjijikan itu''sentak Zanden dengan menampar gadis di hadapannya.


Misyah pun menghentikan tangisnya lalu memegang pipinya yang terasa kebas karena tamparan seorang pria yang ada di hadapannya. Hanya ada ingsakan kecil yang Zanden dengar saat ini.


Zanden keluar kamar dan menghubungi seseorang di serbang sana, entah siapa yang pria itu hubungi.


Di pagi hari cahaya matahari memancarkan sinarnya ke bumi. Sorotannya meneganai gorden kamar yang di mana mengarah ke wajah seorang gadis yang sedang tertidur dengan nyenyaknya.


''Bangunn''ujar Zanden namun gadis itu tidak bangun juga.


''Saya bilang bangun''ujar Zanden mulai terbawa emosi karena Misyah tidak juga bangun dari tidur nya. Tanpa perasaan Zanden memnumpahkan air minum yang berada dekat meja laci ke arah wajah Misyah.


Sedangkan Misyah dengan keterkejutannya terbangun dengan terbatuk-terbatuk karena saluran air masuk ke dalam hidungnya.


Uhuk


Uhukk


Air mata Misyah pun pecah di hadapan Zanden.


Dengan sekali sentak rambut Misyah di jambak Zanden dengan kasar lalu di bawa ke arah kamar mandi dan menguyur Misyah tanpa perasaan. Karena guyuran yang banyak hampir membuat nafas Misyah kelebakan.

__ADS_1


__ADS_2