Perasa

Perasa
PART 07


__ADS_3

''Merindukan sosok mu yang masih ada di dunia ini Mama''


@Misyah Prizel


''Siapa yang menyuruh membuatnya berlebih?''tanya Zanden.


''Ti-tidak ada tuan itu salah saya yang membuatnya terlalu banyak''ujar Misyah polos.


''Lalu?''tanya Zanden


Misyah dihadapannya pun tidak.menjawab apapun lagi karena rasa takutnya pada Zanden.

__ADS_1


''Makanlah sendiri saya sedang sibuk jangan jadi gadis manja yang selalu ingin di temani dan lagi saya bukan kedua orang tua mu yang sudah mati itu yang tidak akan pernah menemanimu lagi''tekan Zanden dingin setelah mengetakan itu.


Zanden kembali duduk di kursi kebesarannya tanpa memikirkan perasaan Misyah yang sedang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun tetap saja air matanya tidak bisa lagi di bendung dengan ingsak tangisnya Misyah lagsung keluar dari ruangan Zanden dengan rasa yang sangat sesak didadanya seperti ini.


Niat baiknya terhempas dengan rasa yang membuat dadanya selalu sesak jika berhadapan dengan Zanden. Mengapa semuanya harus seperti ini. Apa salah nya?dan di mana letak kesalahan terbesarnya pada seorang Zanden? Apa karena orang tuanya? namun bukankah semua itu sudah terbalaskan? kenapa harus Misyah yang selalu menjadi korban? seperti jika berbicara dengan Zanden perkataannya itu bagaikan tusukan belati yang selalu menyayat hatinya.


Bahkan kejadian di tahun yang lalu Misyah engan membahasnya lagi. Bukan karena takut maupun berdiam. Tapi ini sudah jalan takdirnya yang perlu Misyah ikhlaskan meski terasa sulit. Gimana mau sulit jika meninggal kedua orang tuannya saja dengan cara tidak wajar. Itu karena siapa? jelas karena seorang Zanden yang sudah membunuh kedua orang tuanya. Apa begini rasanya ditinggalkan kedua orang tua yang sangat Misyah sayangi. Tapi kenapa Misyah baru tau bulan-bulan kemarin bahwa kedua orang tua Zanden pun mati di tangan keluarganya sendiri.


Di sebuah ruangan Zanden mengacak rambutnya frustasi.


/Di Dalam Mansion/

__ADS_1


''Ma Misyah rindu, mama sedang apa di alam sana? apa mama tidak merindukan Misyah?''ujar Misyah dengan tangisan kecilnya.


''Misyah cape ma Misyah gak bisa lagi mewujudkan impian Misyah untuk bisa kuliah lagi dulu Misyah meminta izin untuk kuliah namun mama sudah meninggalkan Misyah di dunia ini hiksss Misyah sayang mama''ujar Misyah dengan menatap bulan dan bintang dari arah jendela taman.


Sedangkan dipojok dingding terlihat Zanden tidak sengaja mendengar curhan hati Misyah yang sedang merindukan orang tuanya. Rasa bersalah itu makin Zanden rasakan pada dirinya tetapi dengan segera Zanden menyetabilkan dirinya kembali.


''Hemm''dehem Zanden saat sudah berada di belakang Misyah.


Misyah yang sedang bersedih pun menoleh dan langsung menghapus air matanya agar Zanden tidak melihatnya yang sedang menangis.


''Sedang apa kamu di sini masuk kekamar, ini sudah malam''sentak Zanden langsung pergi begitu saja dari hadapan Misyah setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Tidak ada kelembutan dari setiap ucapannya yang ada hanya ucapan yang tegas namun terkesan dingin. Begitulah seorang Zanden yang gengsinya tidak bisa di tangkis oleh siapapun.


Hari makin malam Misyah masuk kedalam kamarnya setelah mengambil air minum di arah dapur. Merebahkan dirinya di atas kasur yang berukuran sedang.


__ADS_2