
“Mak! Kenapa sih nyuruh Gadis nikah mulu. Capek tahu nggak!” aku marah karena Emak terus saja cerewet perihal menikah. Mau bagaimana pun aku kan juga masih mempertimbangkan banyak hal bukan hanya tentang aku dan calon suamiku menikah nantinya.
Aku cemberut dan langsung meletakkan piring di wastafel. Baru saja ingin keluar, Emak langsung menjawab, “kamu dikasih tahu orangtua kenapa bantah mulu sih, Dis. Emak cuma mau yang terbaik buat kamu! Kamu menikah itu ya buat kamu bukan buat Emak. Ngertiin dong!”
Aku berbalik. Sekilas melihat guratan wajah Emak yang terlihat kesal karena omonganku tadi. Tapi, karena setan sedang mengusai diriku, jadi apa boleh buat. “Mak. Sekali aja Emak ngertiin aku. Emak nggak usah nyuruh ini-itu dulu. Aku pusing dan capek. Tahu nggak sih Mak. Capek!” suaraku meninggi bersamaan dengan Emak yang terkejut karena melihat tingkahku yang seperti orang kesetanan.
“Gadis, kamu?”
Aku tidak menggubris dan memilih untuk ke ruang tengah. Dari sana aku masih bisa melihat wajah Emak yang menunduk karena bentakanku tadi. Serius demi apapun aku belum pernah semarah ini sebelumnya. Hanya saja kali ini Emak terlalu membuatku tertekan, jadi aku tidak punya pilihan lain.
Aku merenung di depan televisi. Benda kotak bergambar itu sebenarnya tengah menunjukkan sinetron yang membuatku muak karena editannya yang bikin sakit mata. Aku diam sebentar. Dan begitu sadar kalau tidak seharusnya aku berperilaku kurang ajar kepada Emak aku pun jadi merasa bersalah.
‘Aduh, aku tadi ngapain sih. Malah marah begini. Jadi ribet kan urusannya.’
Aku mencuri pandang ke arah emak. Tampaknya emak masih dalam posisi seperti sebelumnya. Menunduk.
Aku jadi sedih. Bingung juga mau nyamperin emak atau nggak. Bukannya gimana, tapi aku juga malu karena sudah marah tadi. Nggak lucu banget kalau tiba-tiba ke sana langsung sungkem.
Tiba-tiba pikiranku menjurus ke semua ucapan emak. Emak bilang aku harus kembali ke Irka. Tapi, apa benar aku harus sama dia? Gimana kalau aku nggak bisa?
‘Gimana ya? Kok aku jadi kayak orang bego gini. Tadi, ngotot banget nggak mau balikan sama Irka. Eh tapi kan aku emang udah nggak mau sama dia. Tapi, Emak …’
Isi kepalaku benar-benar ingin meledak. Ada banyak hal yang aku pikirkan hanya karena masalah Emak dan Irka. Kedatangan laki-laki brengsek itu mengacaukan hidupku. Menyebalkan!
Aku yang sudah tidak tahu harus bagaimana pun memilih untuk kembali ke kamar. Langkahku lesu da tidak bersemangat. Kejadian tadi pagi saja sudah menguras tenaga, dan siang ini justru aku dan emak ribut. Sebenarnya kenapa sih? Pikirku.
Aku memutuskan untuk ke balkon—menenangkan pikiran agar lebih fresh. Sayangnya baru saja bersandar di tepian. Kepalaku seperti diketuk pakai bola kertas. Aku mencari ke sumber arah. Mataku jeli menatap Edo yang tersenyum sembari melambaikan tangan.
‘Dia ngapain sih?!” gumamku sebal sendiri.
Aku mengarahkan dagu bermaksud menanyakan maksud laki-laki itu. Edo justru memberi isyarat untuk mengambil bola kertas yang dilempar. Walau berat hati, aku tetap melakukannya. Aku ambil kertas gulungan itu di pojok balkon. Mataku dengan teliti mengawasi kalimat yang tertulis di sana.
‘Ayo turun! Aku bawain sesuatu.’ Begitu katanya. Aku yang bingung lalu menautkan alis. Namun, sejak saat itu pula aku tidak melihat Edo.
Aku menghembuskan napas panjang. “Edo mau ngapain sih? Ada-ada aja!” gerutuku namun tetap turun dan menghapiri Edo yang sudah menunggu di depan rumah.
__ADS_1
Aku langsung bertanya. “Kenapa sih segala pakai batu, gunting, kertas segala!” cerocosku yang membuat Edo terkekeh.
“Abis aku lihat kamu badmood banget tadi. Iseng aja sih lempat itu.”
“Rese banget!”
Edo mengangkat kantung keresek di tangannya. “Aku bawa minuman soda. Minum yuk!” ajaknya.
Aku menatap tanpa minat, anehnya aku tetap mengangguk. Akhirnya aku dan Edo jalan berdampingan menuju ke jembatan dekat rumah. “Di sini aja kali ya, kelihatannya nyaman,” kata Edo.
“Terserah deh.” Aku memang sedang malas mikir jadi apapun itu yang penting bisa digunakan buat duduk.
“Kebiasaan banget cewek bilang terserah,” sindir Edo yang kemudian menarikku untuk duduk di jembatan. “Duduk dulu sini, capek berdiri terus.”
“Bodoamat.” Sumpah kalau ditanya aku kelihatan jutek kenapa, aku juga nggak tahu. Tapi, kayak moodku benar-benar jelek hari ini.
“Jangan judes-judes kali! Cantik kamu ilang nanti,” kata Edo yang langsung aku timpuk lengannya.
“Jangan bikin aku mau nabok dong!”
Edo tertawa renyah. “Kamu asyik banget kalau dijahilin.”
Kelihatannya Edo sedang berusaha memahamiku, dia ngasih kaleng soda itu kepadaku satu sembil bilang, “orang cantik kalau marah tetap cantik. Aneh ya?”
Aku menoleh dan mengambil kaleng soda di tangan Edo. Seketika aku meneguknya membuat Edo terperangah. “Aku lagi males tahu!”
“Kayaknya kamu tiap hari males.”
“Jangan diperjelas.”
“Biarin.” Edo meneguk minumannya. “Eh, Dis. Kamu mau lihat sulap nggak?”
“Jangan gombal deh.”
“Apaan sih?! Orang beneran. Mau nggak?” Edo menunggu jawabanku.
__ADS_1
Sungguh terpaksa aku bilang,”ya udah, apa?”
“Lihat, nih!” Edo lalu memperlihatkan trik sulap yang sebenarnya begitu basik. Meski begitu aku tetap tertawa dan terhibur walau sedikit. Sayangnya, trik sulap Edo hanya mengalihkan perhatianku sedikit. Selebihnya, aku kembali resah.
“Dis, kamu inget nggak pertama kita ketemu?” tanya Edo tiba-tiba.
“Inget. Pertemuan yang kayak jenglot itu kan? Kaku dan galak.”
“Kamu tuh!”
Aku menatap Edo sejenak. “Ya emang. Baru tahu?”
Edo lantas menggeleng. “Kagak sih.”
“Ya udah.”
Aku dan Edo bercakap-cakap kecil walau pikirannku terus melayang. Tanpa diduga ucapan emak lagi-lagi teringiang. “Do…” lirihku.
“Kenapa?”
“Kayaknya aku bakal coba lagi sama Irka deh.” Aku tahu kalau ucapanku ini terdengar gila, tapi bagaimana pun aku juga tidak mau melihat emak terus-terusan sedih.
“Kamu mau sama laki-laki itu?”
“Iya. Jujur sih sebenarnya ada hal lain yang bikin aku mau coba lagi sama dia.”
“Apa? Masalah emak ya?” tanya Edo tang terkesan menyelidik.
“Ada-lah.” Aku masih belum berani buat bilang ke Edo kalau emang emak yang bikin aku ambil keputusan kaya gitu. Selebihnya kan memang aku yang punya niat untuk mulai dengan Irka lagi. Kalau tidak ada halangan.
Edo menghabiskan kaleng soda lalu menyenderkan tubuh menggunakan kedua tangannya. “Aku yakin ada di emak kan?”
“Emak bilang aku mending samaa Irka.”
“Turutin aja mau emak. Mungkin dia pengen yang terbaik buat kamu,” kata Edo menyemangatiku.
__ADS_1
“Aku juga berdoa kayak gitu,” ucapku yang kemudian ikut menghabiskan kaleng soda dan menaruhnya di samping Edo.
“Yang terbaik buat kamu,” balas Edo yang memberi support, tapi anehnya aku melihat dia murung.