Perawan Tua Bersertifikat

Perawan Tua Bersertifikat
Ijab kabul


__ADS_3

Atas izin dokter akhirnya aku diizinkan menikah di samping Emak. Itu pun setelah melalui serangkaian tahap dan pertanyaan oleh dokter. Saat ini situasinya genting makanya disetujui.


Saat ini aku hanya pakai gamis biasa, Edo pun hanya pakai kemeja dan kopiah saja. Sednag mahar, cukup cincin dan sejumlah uang. Edo bilang gak punya waktu cari perlengkapan alat salat atau perhiasan lainnya.


Rasanya aneh, aku yang selalu membuat pesta meriah, suasana bahagia kala pengantin menikah di novel, sekarang malah merasakan sebaliknya. Aku sedih lantaran menikah dengan situasi ini. Tanpa gaun, tanpa mekap dan tanpa suka cita.


Saat ini, aku dan Edo melangsungkan ijab qabul. Kami dinikahkan oleh penghulu yang bertugas di KUA dekat rumah. Penghulunya juga menjadi wali nikahku karena aku anak yatim. Untungnya dia mau dan kami diminta harus segera menyelesaikan dokumen terkait setelah ijab ini disahkan.


"Gimana saksi, sah?" tanya penghulu.


Dokter dan adik-adikku, serta ibunya Edo bilang sah secara serempak. Artinya aku sudah sah jadi seorang istri Edo, si cowok tetangga rumah. Detik ini, saat ini, predikat perawan tua aku hempaskan.


"Aku janji akan jadi suami yang baik, terima kasih karena percaya aku, Dis," bisik Edo sesaat setelah mengecup pucuk kepalaku. Saat itu juga air mata merembes. Gak nyangka akhirnya aku bisa nikah sama dia padahal selama ini gak pernah bermimpi, gak pernah membayangkan kalau akan nikah sama dia. Ide menikahinya ini tercetus begitu saja.


Setelah aku pikirkan Edo adalah orang yang aku cari, dia adalah orang yang selalu ada disaat aku butuhkan. Dia juga selalu menghibur aku saat pusing dan sedih. Soal Irka, sepertinya kami sudah selesai, kisah kami hanya masa lalu.


Kudekati Emak saat semua orang sudah keluar. Kudekati beliau dan melihatnya lama. Wajah menua yang selalu ngomel padaku jika ada satu hal yang mengusik, kini terlelap.

__ADS_1


Dulu orang ini, orang yang sering aku panggil Emak ini sering mengomel. Katanya itulah gunanya Emak. Emak tanpa ngomel bukanlah Emak. Sekarang orang itu sedemg terlelap.


"Mak." Aku genggam tangan Emak dan menciumnya.


"Aku udah nikah, Mak. Aku udah gak lajang lagi, sekarang aku udah punya suami. Gak bakalan jadi perawan tua lagi." Aku hapus air mata, lalu hela napas panjang. Sesak, tapi aku coba bertahan.


Kucium lagi tangan Emak lalu memperlihatkan cincin. "Emak lihat gak? Edo kasih aku cincin bagus, Mak. Aku nikahnya sama dia. Dia bilang dia suka aku sejak lama. Emak setuju kan kalau aku sama Edo?"


Hening, Mak gak nyaut dan itu buat.dadaku sakit. Sesak, engap.


Masih gak ada sahutan.


Kupegang pipi Emak. "Jadi, Mak, bangun, ya, jangan tidur mulu. Mak kagak mau lihat aku pakai gaun pengantin? Kagak mau salam salaman sama tamu lalu itung duit amplop? Bangun, yq, Mak. Jangan gini. Kalau mak kagak bangun aku kagak mau ngomong sama Emak. Aku ngambek."


Setelah ngomong gitu aku menunduk. Gak sanggup. Air mata merembes makin banyak dari detik detik.


Aku kangen Emak. Aku ingin Emak sehat. Ingin dengar beliau mengomel.

__ADS_1


"Kak Gadis."


Kuliah belakang dan mendapati kedua adikku mendekat.


"Emak pasti sehat," kata Lulu yang aku aminkan.


Kuamati Emak dan melihat matanya mengeluarkan air, lalu gak lama kemudian terdengar bunyi detektor jantung.


"Emak, Kak, Emak!" seru Lulu. Panik. Aku pun genggam tangan Emak. Memanggilnya. Menyeru emak berkali-kali.


Gak lama kemudian masuk dokter. Aku dan kedua adikku disuruh menjaga jarak.


Di depan mata kulihat semuanya dan merasa gak tentu. Perasaan campur aduk. Sedih dan takut saat lihat Emak diberikan alat kejut jantung. Tegangannya semakin meningkat dari waktu ke waktu hingga semua dokter melihat kami dengan mata sayu.


Tangis aku dan kedua adikku pecah gitu aja.


Ya Allah, secepat inikah?

__ADS_1


__ADS_2