Perawan Tua Bersertifikat

Perawan Tua Bersertifikat
Dilamar Edo.


__ADS_3

“Edo?”


“Aku serius, Dis.”


Tunggu. Dia bilang serius? Itu artinya dia lagi melamar? Sekarang? Aku dilamar Edo, tetangga sendiri? Wah, gak masuk akal. Orang yang selalu cari ribut ternyata melamar aku.


Gila, kudu jawab apa ini? Gak mungkin ujug-ujug nerima. Iya kan?


Baiklah, aku kudu waspada. Takut dia cuma iseng.


Eh, tapi dari tatapan mata kayaknya dia serius. Tapi, walaupun serius aku tetap harus tau alasan. Minimal tau sejak kapan dia punya rasa. Seingatku dia ini cuma doyan cari perkara. Gak pernah tuh kasih perhatian apalagi cari perhatian.


"Aku serius. Aku mau jadi suami kamu," katanya lagi, terdengar mantap dan itu buatku merinding.


Jujur aku gak percaya dia begini, meski begitu ada rasa aneh yang menyeruak dalam dada, rasa yang buatku berdebar gak kira-kira. Dulu saat dilamar Irka aku gak begini. Malah kesannya tertekan.


"D-do, kok mendadak?" balasku terbata. Gak tau mau gimana merespon ucapannya. Yang jelas aku bingung, plus malu juga. Kok bisa dia suka aku padahal selama ini gak pernah kasih lihat kalau tertarik sama aku.


"Gak ada yang mendadak, Dis. Aku memang sudah suka sama kamu. Sejak lama malahan. Rasa suka aku itu gede tapi sayangnya menciutkan nyali. Terlalu Takut, takut kamu menghindar. Makanya aku selalu bertahan dalam zona teman ini," jelasnya lalu menyerahkan kotak perhiasan kecil berlapis kain beludru merah.


"Do?"


Sumpah, aku makin gak tau. Dia kasih aku cincin. Perasaanku campur aduk sekarang. Antara bingung, gak percaya, dan bahagia.


"Cincin ini bukti kalau perasaanku ke kamu itu gak mendadak. Sejak kamu di sini dan ngontrak di sini kamu udah tinggal di sini," katanya sambil tekan dada.


"Makanya aku selalu menjaga hubungan ini biar kamu tetap tinggal di sini.," sambungnya.


Ya Allah ….


"Kalau kamu sesuka itu sama aku, lalu kenapa kamu dukung aku sama Irka?" tanyaku.

__ADS_1


Ya, aku penasaran. Seingatku dia mendukung aku sama Irka.


Kulihat Edo. Dia mendesah panjang sambil lihat depan.


"Karena gak ada cara lain. Aku pikir kamu sudah memutuskan dan aku gak ada hak buat kamu bimbang. Lagian aku pikir cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Aku pikir dengan mengalah akan buatmu bahagia," jelasnya.


Bodoh. Dia bodoh. Cintanya bodoh.


"Do?


"Dis, aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Kamu pasti bingung, tapi izinkan aku buat nyatain rasa. Aku gak bisa bertahan dalam zona teman ini lebih lama lagi. Aku bisa gila lihat kamu dekat sama Irka. Aku mau berjuang. Beri aku waktu, beri aku kesempatan."


"Do, aku … aku gak tau harus jawab apa. Ini … ini mendadak dan aku bingung," jelasku apa adanya.


Sebenarnya gak ada yang aku takutkan. Dia mapan. Gak akan buatku kelaparan. Walau begitu aku tetap harus berpikir panjang. Pernikahan itu sekali untuk seumur hidup.


Saat masih melihat wajah Edo, aku dengar suara gedebuk keras dari dalam diikuti suara teriakan Mia, dia memanggil namaku cukup keras sampai atensi kami berdua mengarah kepadanya. Dia terlihat panik dengan tangan yang menggenggam erat ponsel.


"Emak, Kak. Emak kritis. Emak kritis!"


Astaghfirullah!


Aku berdiri, lalu ambil kunci serta helm. Sedang Mia masuk ke dapur. Setelah selesai kami sama-sama keluar.


"Kompor, air, dan lainnya mati kan?" tanyaku.


Mia mengangguk.


Namun saat kami hendak turun tiba-tiba ada Edo. Dia membunyikan klakson.


"Ikut sini aja!" teriaknya. "Kalian gak bisa bawa motor dalam keadaan kacau begitu."

__ADS_1


Aku dan Mia saling pandang lalu bergegas ke mobil Edo. Kami sama-sama menuju rumah sakit. Selama perjalanan pikiran kacau. Semrawut, takut Emak pergi.


Sesampainya di sana aku melihat Lulu. Dia duduk dengan pundak terguncang.


"Emak gimana?" tanyaku.


Lulu mendongak. Matanya merah dengan hidung yang juga merah.


"Emak baik-baik aja. Masa kritisnya lewat. Tadi Emak sempat lena serangan jantung."


Hening. Kami bertiga duduk melihat pintu di mana Emak berada.


"Aku takut. Takut," keluh Lulu lagi.


Sebenarnya aku juga takut. Air mataku terus mengalir kalau ingat Emak. Merasa belum jadi anak yang baik. Belum bisa membahagiakan. Aku aku ingin membalas semua kebaikan dia.


Pelan aku berdiri, mengintip dari kaca pintu dan melihat Emak lagi terbaring dengan selang yang menancap di beberapa bagian. Alat bantu pernapasan juga terpasang di mulut dan hidung. Melihatnya begini sungguh buatku sakit.


Aku hapus jejak air mata, lalu lihat Lulu dan Mia. Mereka menangis sambil berpelukan.


Sementara itu tak jauh dariku ada Edo. Dia berjalan mendekat dengan mimik yang juga kelihatan panik.


"Dis, gimana keadaan Emak?" tanyanya.


Aku menggeleng lemah.


"Tenang, jangan takut. Emak pasti sadar. Emak ….


"Do," potongku cepat. Dia mengerjap.


"Ya, kenapa, Dis? Butuh sesuatu? Katakan."

__ADS_1


"Apa kamu bisa nikahi aku sekarang?"


__ADS_2