Perawan Tua Bersertifikat

Perawan Tua Bersertifikat
makan malam.


__ADS_3

"Ayo makan. Makan yang banyak. Pertumbuhanmu lagi gak baik-baik aja," titah Edo yang segera aku beri kerlingan mata. Niat mau menyuap jadi ilang.


"Canda, Dis. Gitu aja diseriusin," sambarnya lagi lalu nyengir.


Dasar!


Karena malas berdebat aku pun mengunyah makan malam. Kebetulan belum makan dan di hotel tadi gak sempat makan. Jadilah kami melipir ke restoran yang bisa aku bilang bukan restoran biasa. Restoran bintang lima aku bilang. Mewah dan ramai.


"Makanan ini kamu yang traktir, ya," ocehku.


"Iya. Kayak orang susah aja kamu. Duitku banyak, Dis. Nafkahin kamu sampai tua juga aku bisa," balasnya sambil menyeringai.


"Cih, gayanya mau nafkahin. Emang mampu?" jawabku.


"Ya iyalah. Kalau kamu sama aku, aku jamin kamu akan jadi nyonya kontrakan. Nyonya Takur."


Begh!


Ocehan itu tidak aku respon, perut terlalu lapar makanya malas berdebat. Lagian ucapan dia gak bisa diseriusin. Nantinya malah kesal sendiri. Dia memang suka ngadi-ngadi. Becanda melulu. Gak pernah serius. Andai, andai aku ini adalah perempuan yang baru kenal dia. Mungkin aku akan baper dan anggap ucapan dia adalah lamaran. Tapi sayangnya aku kenal dia. Dia gak pernah serius.


Namun, ada yang aneh, kulihat gelagat Edo berubah. Dia terlihat resah sambil meraba-raba saku.


"Astaghfirullah, dompetku ilang, Dis!" serunya.


Tanganku yang sedang pegang garpu langsung melemas. Tak ayal suara benturannya pun terdengar.


"Do, kamu gila?" geramku pelan lalu lihat kiri kanan.


"Serius, Dis. Dompet aku gak ada."


"Apa di mobil?" balasku berusaha positif thinking.


"Ya enggaklah. Tadi kamu lihat sendiri aku bawa dompet, bawa hp. Dan sekarang dua benda itu gak ada. Yang ada cuma ini," jelasnya lagi sambil mengeluarkan kunci mobil.


"Apa kita dicopet pas di parkiran tadi?" lanjut Edo.


Panik, kutendang kakinya. "Serius kamu? Kalau gak ada dompet gimana kita bayarnya?" geramku lalu melihat makanan yang terhidang. Ada steak dan ini gak mungkin harganya dua puluh ribu. Aku gak bawa dompet dan gak punya m banking.


"Serius ilang?" tanyaku lagi. Sumpah, ini gak lucu. Ini sama sekali gak lucu. Kalau gak bayar bisa jadi kami bakalan diseret dan ditendang, dipermalukan depan umum. 


"Astaga, Do. Kok bisa teledor sih."


Gemas aku sama Edo. Tapi gak bisa terlalu menyalahkan. Ini musibah.

__ADS_1


Eh, bukannya menyesal dia malah terbahak, lalu mengambil tisu dan mengelap ujung bibirku. "Bibirmu berantakan. Macam bocah."


Dup-dup-dup-dup. Aku terbeku, untuk sekian detik rasanya aliran darah berhenti dan jantung gak fungsi.


"Dis, jangan melamun. Aku bercanda. Aku punya uang," katanya sambil meletakkan dompet di meja.


Seketika badanku melemas. Gila aja. Kukira serius. Dan juga … aku gak tau apa yang terjadi. Tapi malam ini rasanya jantungku gak normal. Kadang terpompa cepat, kadang gak detak. Setelah aku ingat sudah dua kali begini. Pertama saat dia bela aku depan temen-temennya tadi.


Aneh, ini aneh. Apa aku punya kelainan jantung?


Astaghfirullah ….


"Hey, Dis, makan!" titah Edo lagi.


Kuberi dia tatapan sengit.


"Sekali lagi kalau resek, aku cekek kamu, Do," geramku.


Eh, dia malah ngakak. Sialan. Kok bisa aku temenan sama manusia macam dia. Hufh! Bikin senam jantung.


Aku pun makan. Makan terus ya karena lapar. Belum makan dari sore. Aku terus makan sambil memikirkan kemungkinan yang buat aku begini.


Kupandangi Edo. Dia masih makan sambil lihat sekitar. Entah kenapa dia makin terlihat ganteng.


Ganteng?


Kenapa Edo ganteng?


Aku cubit paha sendiri dan rasanya sakit. Ini menandakan aku enggak lagi mimpi. Tapi, kenapa aku bisa bilang dia ganteng?


"Dis, kenapa teriak?" tanya Edo. Panik mukanya.


Aku balas pertanyaan Edo dengan gelengan. Tiba-tiba tengsin aja gitu. Ya kali ngaku kalau habis nyubit paha sendiri, lalu jerit sendiri. Kan kayak orang begoo jatohnya.


Kupandangi lagi Edo. Dia natap dan aku tiba-tiba gugup lagi. Tiba-tiba bahagia. Kayak gimana ya. Gak bisa aku jelasin.


"Dis?"


"Hah?"


"Kamu kenapa?"


Aku menggeleng.

__ADS_1


"Tapi kamu aneh. Kenapa? Pangling?"


"Ck, jangan kepedean," balasku cuek.


"Tapi aku memang ganteng."


"Siapa yang bilang?"


"Mama."


Kan kan kan. Ngajak gelud.


"Do, aku ke toilet dulu," putusku.


"Oh, kirain melamun karena terpesona, taunya kebelet," ocehnya yang buat aku mematung beberapa kejap.


Mungkinkah aku tadi terpesona? Masa iya? Aku … aku terpesona sama Edo?


Hey, gak mungkin! Impossible!


Kesal, aku pun pergi. Pergi gak noleh-noleh lagi. Rasanya terlalu aneh.


Aku terus melangkah dan kaki spontan gak gerak saat lihat di salah satu meja ada orang yang aku tunggu kabarnya. Orang yang bilang akan menikahi tapi berakhir ilang kabar.


Yuph, dia Irka.


Aku membeku, detak jantung juga mulai berulah. Selain itu gak tau kenapa mata mulai panas. Soalnya di situ dia kayak makan malam bareng keluarga yang jelas bukan keluarganya. Ada sepasang orang tua dan disampingnya ada perempuan cantik. Perempuan itu pegang tangan orang yang aku tunggu kabarnya itu.


"Hey, Dis, kenapa berhenti?"


Kulihat Edo. Dia mendekat. Buru-buru aku hapus air mata yang entah kapan jatuhnya.


"Dis?"


"Aku gak apa-apa. Yok, pulang," ajakku.


Edo gak nyahut karena ternyata dia fokus lihat Irka.


"Do, kita pulang," kataku.


Tapi tanganku ditepis.


Gegas aku tahan dia lagi. Dengan dua tangan malah. Aku gak mau ada perkelahian di sini.

__ADS_1


"Dis?" geramnya.


Aku menggelengkan kepala. "Kita pulang sekarang."


__ADS_2