Perawan Tua Bersertifikat

Perawan Tua Bersertifikat
Patah hati.


__ADS_3

“Kalau mau nangis, nangis aja, gak usah malu.”


Aku tertegun sambil mikir. Ini dia mau ngehibur apa mau ngejek.


“Do?” 


Kami berbagi pandangan, saat ini juga aku merasa jantung menggila lebih hebat. Berdentam dentum gak karu-karuan, kayak ada latihan tembak menembak di dalam sini, dalam dada ini. Efeknya, buegh … gemetar sebadan-badan.


Kuremas tangan sendiri. Nervous. Baru kali ini nervous depan Edo. Tetangga usil yang gak pernah serius ini bikin aku salah tingkah.


"Do, bisa gak ngomongnya agak jauhan dikit? Posisi begini gak nyaman. Nanti ada yang salah paham," kataku setengah terbata sambil dorong dadanya. 


“Sekarang aku tinggal, kalau mau nangis ya nangis aja. Gak usah ditahan. Aku nunggu diluar. Kali aja kamu malu nangis ada aku,” lontarnya lagi.


Aku cuma bisa diam lihat Edo menjauh. Gak hanya menjauh sih tapi juga keluar dari mobil. Dia berdiri di bawah pohon mangga yang kebetulan gak jauh dari mobil.


Jujur, aku bingung dengan Edo, dia tiba-tiba bersikap manis, buat aku salah tingkah.


Saat asyik lihat Edo, tiba-tiba ponselku bergetar dan ternyata Irka menelepon. Sumpah, aku geram, gemas, kecewa, sedih, macam-macam. Gak bisa aku jabarkan satu-satu. Isi kepala dan hati kusut parah.


Lama aku amati HP. Hidup mati kelap kelip karena dia nelfon gak diangkat-angkat. Pesannya juga masuk, begitu banyak. Gak habis-habis. Meski begitu gak ada niat hati untuk menjawab. Sebaliknya, aku non aktifkan Hp lalu masukkan ke dalam tas. Napas jadi sesak mendadak.


Malam ini aku sadar kalau Irka menghilang karena dia gak serius. Ucapannya omong kosong. Dia pembohong. Dia menghilang mungkin berpikir aku gak pantas, gak layak sama dia. Mungkin karena itu sibuk dengan keluarga perempuan itu.


Ya Allah, gini amat. Apa aku ditakdirkan sendiri? Lalu, gimana nanti sama Emak? Hatinya pasti bakalan patah karena aku.


Terlalu malu, gak kuat, aku pasrah. Aku nangis. Mulanya tanpa suara, menunduk sembunyikan sakit hati. Tapi, ditahan kok gak bisa. Makin sakit. Makin menggila.


Akhirnya aku menangis, bersuara, terisak hebat gak peduli kalau edo dengar. Gak masalah ditertawakan atau diejek. Aku udah di titik paling bawah.


****


"Dis! Lu udah bangun belom?"


Aku yang sama sekali gak tidur dari semalam cuma bisa menggeliat pelan sambil lihat pintu yang digedor-gedor Emak.

__ADS_1


Ya, sejak semalam mataku gak bisa tidur. Selesai menangis di tepi jalan semalam, aku langsung minta antar pulang dan untungnya Edo gak banyak bacot. Dia cosplay jadi batu. Gak ngomong, gak apa-apa. Cuma nyetir doang. Mungkin dia tau moodku sedang gak baik. Mentalku dicambuk habis-habisan.


"Dis, pingsan lu! Keluar, Dis! Sarapan!" teriak Emak lagi.


"Nanti aja, Mak. Gadis belom lapar!" balasku berteriak, tapi yang terdengar malah suara serak.


Bukan tanpa sebab aku ngurung diri. Mataku saat ini bengkak, hidung merah, udah kayak apaan mukaku ini.


Takutnya Emak nanya, udah gitu bakalan ngoceh-ngoceh dah. Gak kelar-kelar.


"Paling gak keluar, Dis. Absen muka ke Emak. Minimal kencing, kek, berak, kek. Jangan mekap dalam kamar mulu. Udah jam sepuluh ini!" teriak Emak lagi.


Hufh!


"Gak ada nafsu makan, Mak! Kalau mau kencing juga di kamar sini ada WC. Gak mesti keluar kamar, Mak!"


"Ya tapi tetep aja, keluar. Cari udara segar. Oiya, Irka apa kabarnya kenape gak pernah ke sini lagi? Lu berdua berantem? Etdah kebiasaan. Berantem mulu. Gak capek apa. Udah tua juga!"


Ah emak, kenapa harus bahas Irka coba. Aku kan jadi ah … gak tau mau ngomong apa. Aku kesal, mau ngomong langsung sama Emak. Tapi ….


"Nanti, Mak, nanti! Aku suruh Irka ke sini nanti!"


"Beneran ye. Iya, elu jangan lama-lama di kamar, udah kayak pengantin pingit. Kagak sabar jadi pengantin lu ye," oceh emak lagi. Jadi pengen kunyah bata. Gak tau apa kalah anaknya ini lagi terluka patah hati.


Hening, itu artinya emak udah gak ada. Syukurlah.


Aku tatap plafon rumah, lalu bayangan wajah Irka, lalu terbayang wajah Edo. Mendadak dada ini berdebar saat ingat kejadian di mobil, saat jarak kami hanya berapa inci. Dekat, dekat banget.


"Dia, kamu masih idup kan?"


Aku spontan cari arah suara dan bergegas ke jendela karena suaranya berasal dari sana.


"Edo?"


Sumpah, gak nyangka dia di sini. Di jendela kamarku.

__ADS_1


"Ngapain ke sini?" tanyaku sambil buka jendela lebar-lebar.


"Mau mastiin kamu masih hidup apa enggak," ocehnya.


Kesal aku toyor bahunya, dia terhuyung.


"Jangan kdrt," balasnya lagi.


 "Kdrt cuma untuk yang berumahtangga, Edo," geramku sambil bersedekap.


Tapi ada yang aneh, kulihat ada memar di sudut bibir Edo, tangannya juga memar.


"Kamu berantem?" tanyaku.


"Iya, berantem sama monyet komplek sebelah."


Aku cengo. Masih mencerna. Emang di sini ada yang pelihara monyet?


"Jangan ngadi-ngadi, deh," balasku lalu pegang tangannya. Eh, di tarik. Dia sembunyikan tangannya ke belakang.


"Nih." Dia tiba-tiba sodorkan kantong jeruk dengan tangan lain. "Buat kamu biar semangat. Ya udah ya. Aku pergi, cepat sembuh. Patah hatinya jangan lama-lama. Aku kesepian."


"Sialan!"


Aku tutup pintu jendela, lalu duduk di sisi kasur. Setelahnya nyoba makan satu jeruk, rasanya manis.


Setelah habis lima barulah aku hidupkan hp yang sejak semalam matik. Ada banyak pesan dari Irka. Banyak banget.


Aku abaikan pesan itu lantas kirim pesan ke dia.


"Ka, kamu harus gentle, datanglah ke rumah dan ngomong langsung ke Emak. Aku gak masalah. Kita udahan aja."


Send. Aku kirim pesan itu lalu merebah lagi. Air mata menetes lagi.


Hufh! Apa aku akan berakhir jadi perawan tua?

__ADS_1


__ADS_2