
"Do!" Aku tarik tangan Edo, untungnya Edo menurut dan kami pergi dengan tenang.
Tapi, Sebelum pergi sempat aku melihat belakang dan mendapati Irka. Dia melihat kami dan berusaha berdiri. Kupikir dia bakalan mengejar, tapi kayaknya enggak soalnya perempuan itu menahan, menarik-narik Irka. Terlihat berdebat mereka.
Sebenarnya apa hubungan Irka dan perempuan itu? Dia memilih perempuan itu ketimbang mengejarku? Apa aku sama sekali gak berharga di hatinya? Lalu, kenapa dia menghilang selama ini?
Ah enggak, kayaknya dia bukan menghilang, tapi menghindar. Aku dihindari. Aku diabaikan untuk kedua kalinya.
Ya Allah, sakit sekali. Aku … apa aku sama sekali gak ada harganya di mata Irka? Apa aku terlihat gampangan makanya mudah dibodohi?
Aku tarik napas panjang. Sepanjang kaki melangkah aku berusaha tegar. Berusaha agar tidak terlihat lemah. Jangan nangis. Jangan nangis!
Saat begini ada begitu banyak pikiran negatif dalam kepala. Ada juga keinginan gila. Sisi jahat merongrong agar masuk lagi ke dalam dan menghardik Irka. Minta kejelasan. Aku sudah dilamar, hanya menunggu keluarganya datang untuk menentukan tanggal. Lalu, harapan itu pupus saat lihat dia makan malam sama keluarga perempuan lain. Siapa yang gak sakit hati?
Tapi, sisi lain juga menahan. Menyadarkan aku agar jadi perempuan berkelas yang tidak memancing keributan. Aku sudah terlalu tua untuk begitu. Malu!
Dan juga, aku gak mau dicap sebagai perempuan yang ngebet minta dilamar. Jadi, sebisanya menahan diri walau sebenarnya aku juga ingin mengamuk. Aku ingin menikah. Aku lelah jomlo.
Memang, mulanya aku memang enggan menjalin hubungan serius, merasa belum siap meninjau, tapi makin ke sini aku jadi semakin yakin untuk menikah. Emak, tentu emak alasannya. Aku gak mau buat emak kecewa. Emak sudah tua dan aku paham keinginannya menikahkan aku. Dia gak mau aku mengikuti jejaknya jadi perawan tua. Terlalu pilih-pilih akhirnya dijauhi. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Tentu kesepian dan Emak gak mau aku memgikutinjekan hidupnya.
__ADS_1
Selain itu ketulusan Irka beberapa waktu ini sedikit menggoyahkan pendirian. Mulanya aku memang gak yakin, tapi setelah ikhlas dan buka hati, terasa sedikit getaran saat sama dia. Sedikit aku temukan puing-puing kenangan masa muda kami. Terkadang aku tersenyum sendiri mengingatnya.
Tapi lihatlah, sekarang dia dengan perempuan lain. Kenyataan ini buatku sadar sesuatu, Irka tidak serius. Dia mainkan hatiku lagi. Dasar brengsek!
"Bedebah, teganya dia lakuin ini ke kamu," umpat Edo.
Aku yang duduk di sebelahnya hanya bisa menunduk meremas gamis sendiri.
"Harusnya nggak usah kamu larang aku tadi, Dis. Harusnya aku beri dia bogem mentah," ome Edo lagi
Aku masih gak nyahut. Terlalu kalut, terlalu … shock.
Aku gak nyahut. Terlalu kalut dengan pikiran sendiri.
"Dis, kamu baik-baik aja?" tanya Edo lagi.
Aku masih gak mau ngomong. Hatiku sakit dan takutnya kalau buka suara malah akan berakhir nangis. Edo akan mati-matian meledek.
"Dis, kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan," lanjutnya.
__ADS_1
Aku masih gak mau nyahut. Kepala aku palingkan, sengaja gak mau lihat Edo. Takutnya aku nangis.
Sumpah, aku sudah terlalu malu. Sebelumnya aku dengan percaya diri bilang ke Edo bakalan terima Irka dan mulai semua dari awal. Tapi ternyata aku diselingkuhi.
Ah, enggak. Bisa jadi aku yang selingkuhan mengingat Irka makan malam sama keluarga perempuan itu. Hubungan mereka kayak lebih dekat.
Mobil berhenti dan kulihat sisi kiri kanan telah sepi. Kami berada di jalan yang entah apa namanya.
"Do?" Kupandangi Edo. Dia buka sabuk pengaman dan mendekat. Tatapannya fokus ke aku.
"Do, mau ngapain?" kataku.
Jujur, aku ketar-ketir.
"Do, jangan Macam. Aku lagi gak mau bercanda," lanjutku lagi. Tapi dia masih mendekat. Terus mendekat. Aku yang sudah terpojok ke sisi sampai gak bisa gerak lagi. Sama sekali gak bisa bergerak.
Dup-dup-dup-dup. Jantungku berulah. Napas Edo menerpa wajah. Jarak kami sangat dekat.
"Do?"
__ADS_1