Perawan Tua Bersertifikat

Perawan Tua Bersertifikat
kritis.


__ADS_3

"Dis, pulanglah. Emak biar aku yang jaga. Kamu sudah seharian di sini."


Kulihat Edo. Dia yang babak belur menatap sendu. Sebenarnya dia juga di sini. Menemaniku sejak Emak masuk rumah sakit tadi pagi. Menurut info, Emak ditabrak saat menyeberang jalan dan pelakunya adalah bocah ABG.


Sumpah, ingin rasanya aku cakar bocah itu. Tapi … keadaanku juga lagi gak baik-baik saja. Menurut info ABG itu sudah diamankan polisi.


"Dis, pulang, ya. Kamu butuh istirahat," lanjut Edo. Terdengar perhatian dia.


"Biar aku aja yang jaga Emak. Kamu pulang!" sanggah Irka yang buatku merasakan pening di kepala.


"Heh, lo bukan siapa-siapa Gadis! Jadi lo gak ada hak buat ngatur-ngatur!" sergah Edo. Keduanya lalu saling tarik kerah baju.


Kepalaku makin berdenyut dengar teriakan mereka.


"Gue tunangannya. Calon suaminya!" Irka berteriak murka.


Muak. Aku muak dengan dua lelaki ini. Terlebih Irka. Tapi, tenaga sudah keburu habis. Gak sanggup ngapa-ngapain selain memikirkan Emak.


"Kalau kalian berisik mendingan kalian pulang. Biar aku yang nungguin Emak!" putusku.


Mereka menatap, lalu duduk tenang berdampingan meski sama-sama memalingkan wajah.


Kuamati lagi ruang ICU tempat di mana Emak berada. Melihatnya air mata meluruh lagi. Sungguh, aku takut. Sangat takut. Rasanya ingin ganti posisi kalau bisa. Mau gantikan posisi Emak. Beliau pasti kesakitan. Beliau kesakitan.


Emak orang baik, paling baik. Orang yang merawat tanpa melihat dan menganggap aku hanyalah anak panti. Dia menyayangi dan kasih segudang cinta. Gak rela dia pergi. Gak rela.

__ADS_1


Astaghfirullah ….


Aku tekan dada lalu menunduk menafakuri kaki. Terngiang-ngiang ucapan dokter. Tadi selesai operasi dokter bilang kalau keadaan Emak mengkhawatirkan. Mereka sudah melakukan segalanya tapi Emak gak bangun juga. Katanya ada benturan keras dikepala. Dokter menjelaskan panjang lebar, tapi yang aku tangkap bahwa kenyataan kalau Emak lagi di masa kritis.


"Mpok!"


Kulihat samping dan mendapati kedua adikku mendekat. Kami berpelukan setelahnya.


"Gimana keadaan Emak, Mpok?" tanya Mia, dia adikku yang berprofesi jadi bidan. Matanya bengkak, sama persis dengan mataku.


"Emak baik-baik aja, kan?" sambar Lulu, dia ini adik juga. Adik bungsu yang jadi polwan. Badannya kekar mukanya juga agak sangar, tapi saat begini kulihat dia kayak bocah yang ketakutan saat disuntik.


Gak tahan, kupeluk lagi ketiganya. Kami sesenggukan bersama.


"Doakan yang terbaik. Dokter juga sedang berusaha," jelasku setelah sedikit bisa meredakan tangis.


"Gak nyangka bakalan gini," keluh Mia. "Emak belakangan ini terus ngeluh dan ngomel tentang mati. Katanya kalau dia mati kita diminta akur dan saling sayang."


Ya Allah. Aku menunduk. Dada rasanya ditusuk. Ngilu. Sakit. Sesak.


"Apa yang harus kita buat biar Emak bangun?" lirih Lulu.


Aku menggeleng. Saat ini hanya doa yang bisa kami panjatkan. Berharap Allah kasih umur panjang buat Emak.


"Kalian udah solat isya?" tanyaku.

__ADS_1


Baik Mia dan Lulu sama-sama menggeleng.


"Kita solat minta kesembuhan buat Emak," lanjutku lalu melihat Edo dan Irka.


"Pergi aja, Dis. Biar Emak aku yang jaga," kata Edo. Di sebelahnya Irka mendelik. Keliatan gak suka.


"Titip emak ya, Do."


"Iya. Tenang aja. Tenangkan diri kalian," lanjut Edo.


Kami pun ke mushola. Di sana solat lalu panjatkan doa. Berharap, sangat berharap Allah beri kami kesempatan untuk mengabdi sama Emak.


"Mpok."


Aku buka mukena dan dilihat Lulu. "Kenapa?"


"Emak pernah ngomong, katanya mau lihat Mpok nikah sebelum meninggal. Itu harapan terbesarnya."


"Lulu, Emak bakalan sehat. Emak pasti bangun. Jangan ngomong gitu!" sergah Mia.


"Tapi kita gak tau kapan ajal menjemput." Lulu mendekat lalu pegang tanganku. "Mpok, apa salahnya kabulin permintaan Emak. Aku takut … aku takut kita gak punya waktu lagi."


Astaghfirullah ….


Aku duduk, melemas meremas kuat mukena.

__ADS_1


"Emak bilang Mpok kembali sama Mas Irka. Kebetulan dia ada di sini." Lulu menjeda kata, lalu memegang tanganku. Digenggamnya kuat. Aku tau apa makna tatapannya itu.


Tapi, apa aku harus nikah sama Irka? Apa harus?


__ADS_2