
Selesai salat aku pun kembali dan dua laki-laki itu masih di sana. Namun, beda dengan tadi, kali ini mereka duduk berjauhan. Kendati demikian masih kompak berdiri saat lihat aku datang.
"Kalian pulanglah," titahku lemah sambil merebah. Lulu dan Mia juga sama. Mereka duduk di sisi kiri dan kananku.
"Tapi," sanggah keduanya kompak sambil mendekat.
"Tolong jangan mendebat, aku capek. Aku pusing."
"Baiklah, aku pergi," kata Edo. "Besok pagi aku ke sini gantiin kamu. Tapi kamu harus janji bakalan pulang saat aku di sini."
Aku diam amati muka Edo. Kelihatannya di tulus mengkhawatirkan aku.
"Enak aja. Gadis tunangan gue. Jadi berhentilah sok peduli," sanggah Irka.
"Irka, kita gak akan menikah," tekanku.
"Tapi, Dis."
"Aku bukan ban serep yang bisa kamu pakai saat ban utama bermasalah."
"Tapi aku sudah jelaskan semuanya. Aku sama Regina gak ada hubungan apa-apa. Kamu harus percaya, Dis."
Sebenarnya aku percaya. Aku yakin Irka punya alasan dan alasannya itu kuat. Mungkin karena itu aku gak terlalu marah. Tapi, gak terlalu bahagia juga saat tau dia dan perempuan itu gak ada apa-apa.
Hufh, entah, aku bingung dengan perasaan sendiri.
"Dis. Percayalah kalau yang aku bilang itu benar, aku jujur. Sekarang aku lagi berusaha untuk meyakinkan mereka kalau aku gak bisa melakukan hal yang gak bisa aku lakukan," jelas Irka.
kupandangi irka lekat dan lamat, mencari jawaban dan memang melihat kejujuran di matanya. Seharusnya aku bahagia, tapi ini nggak, aku malah merasa biasa aja. Apa karena sudah kadang kecewa. Entah.
"Dis ...."
"Sudahlah. Nanti kita bahas lagi, kepalaku pusing, ada hal yang harus aku lakukan, pikirin dan aku mau kamu tidak memperumit segalanya."
Irka mengangguk, lalu berdiri, dia mengusap wajah dengan sebelah tangan dan menatap Edo dengan sengit. Edo pun sama.
"Baiklah, aku pulang besok pagi aku akan ke sini."
***
Seminggu sudah Emak koma dan seminggu itu juga kami bertiga bolak balik rumah sakit melihat keadaan Emak. Kami bertiga gantian jaga Emak. Lulu dan Mia sampai ambil cuti demi jaga Emak. Anak-anak mereka sementara ditetapkan mertua masing-masing. Saat begini kami saling menguatkan, saling menasihati dan menjaga. Walau bukan kandung, tapi entah kenapa kami punya rasa persaudaraan yang kuat. Ini semua karena Emak. Kami menyayanginya.
__ADS_1
"Kak."
Aku yang baru selesai makan cari arah suara dan melihat Mia mendekat.
"Ada Bang Edo di depan," katanya.
Edo, pagi-pagi gini?
"Ngapain?" tanyaku. Dia cuma menggidikkan bahu.
"Tau, tanya aja." Mia menyedok nasi goreng dari wajan, lalu duduk di depanku menikmati nasi goreng yang aku buat.
"Ya udah, makan aja."
Aku berdiri, tapi langkah berhenti saat Mia memanggil lagi.
"Aku pikir daripada Bang Irka lebih baik sama Bang Edo aja," celetuknya.
"Mia!"
"Aku serius. Coba dilihat baik-baik, Edo itu tulus."
"Jangan ngadi-ngadi." Aku menampik. Ya gimana aku sama Edo kan gak ada hubungan apa-apa. Kita murni temenan. Apa kata Edo nanti kalau dengar Mia ngomong begini. Kesannya aku murahan, gagal sama Irka langsung melipir ke Edo.
"Coba buka hati, lihat mana yang terbaik," ocehnya lagi lalu menyuap.
"Sudahlah. jangan asal bunyi. Kakak sama dia cuma temen."
"Tapi aku lihat bukan. Masa kakak gak sadar."
Masa sih?
Sudahlah.
Aku melangkah, meninggalkan Mia dan keluar. Di teras emang ada Edo. Dia datang bawa sekantong yang entah isinya apa. Mungkin buah.
"Do?" Aku menyapa dab duduk di setelahnya.
Edo tersenyum lalu mendorong kantong. "Ini buah. Aku dapat dari malakin kang buah," katanya.
Aku cengo.
__ADS_1
"Bercanda, itu aku beli kok, halal. Aku beli karena kepikiran kamu. Kamu pasti capek bolak-balik rumah sakit."
perhatian banget.
"Makasih," sahutku.
"Jangan sungkan."
Hening.
"Emak gimana kabarnya?" tanyanya lagi.
"Ya begitulah, Do. belum ada perubahan." Aku mendesah panjang setelah menjawab.
"Lalu hubunganmu sama Irka?"
Aku tatap lama Edo.
"Kamu bisa bahagia selain sama dia," katanya lagi yang buatku makin bingung. Ya tiba-tiba aja dia bahas Irka, lalu melarang. Aneh kan.
"Aku gak rela kamu nikah sama orang macam dia. Bajingan, plin-plan, brengsek."
Aku makin bingung.
"Entahlah, Do, aku bingung."
"Jangan persulit diri dengan memikirkan pendapat orang lain. Jangan terganggu hanya dengan predikat perawan tua. Perawan tua bersertifikat jauh lebih baik daripada nikah muda tapi tertekan. Kamu bisa bahagia kok tanpa harus sama dia."
Edo benar, tapi ....
"Entahlah, Do, aku pesimis. Rasya selingkuh, Irka terlalu banyak rahasia. Terus harus sama siapa lagi."
"Sama aku."
"Do?"
"Serius."
Aku bingung mau jawab apa. Cuma bisa menatap lama dia sambil cari jawaban. Otak menerka apa dia sedang bercanda.
"Hey, Do. candaanmu gak lucu," balasku sambil tertawa, tapi entah kenapa terasa garing. soalnya dia sama sekali gak tertawa. malah menatapku serius.
__ADS_1
"Apa aku terlihat bercanda?" tanyanya.