Perawan Tua Bersertifikat

Perawan Tua Bersertifikat
Keputusan.


__ADS_3

Setelah selesai dengan administrasi dan lainnya, aku dan adik-adik pun bawa jenazah Emak ke Jakarta. Lulu bilang Emak pernah mengoceh kalau saat meninggal nanti, dia ingin dikuburkan ke tanah kelahirannya di Jakarta. Katanya ingin berdampingan dengan sanak saudara yang sudah lebih dulu berpulang.


Sesampainya di sana keluarga kedua adikku menyambut kami. Anak-anak serta suami mereka juga terlihat amat merindu.


Melihat betapa harmonisnya keluarga adik-adikku buat diri ini paham kenapa Emak selalu merongrong agar anaknya ini menikah. Ya karena menikah memang seindah itu. Ada yang menguatkan saat rapuh dan ada yang memberi pelukan saat diri butuh dukungan.


"Dis."


Kulihat samping dan mendapati Edo menghampiri. Dia datang bawa nampan berisi piring dan segelas air putih. Setelah dekat barulah bisa kulihat kalau yang dia bawa adalah nasi beserta lauk dan sayur.


"Makan dulu," katanya sambil duduk di sisi ranjang dekat kakiku.


"Nanti aja. Masih kenyang," balasku seadanya sambil duduk bersila. Walah enak saat selonjoran, tapi tetap aja gak sopan.


"Tapi kamu makan cuma pagi tadi, sedang sekarang udah siang. Makan dulu, ya."


Aku amati muka Edo. Terlihat agak lelah dia. Meski begitu masih mampu kasih aku senyuman kecil. Terlihat tulus.


Sumpah. Gak nyangka orang yang selalu slengean di mataku ternyata bisa diandalkan. Sejak Emak meninggal dia sama sekali gak pergi. Bahkan ikut aku ke Jakarta dan bantu-bantu di sini.


"Makan, ya," ucapnya lagi.


Aku pun mengangguk, tapi saat hendak ambil sendok, tanganku dipegang. Kutatap lamat dia.


"Aku yang suapin."


"Aku bisa sendiri."


"Tapi aku mau. Boleh ya. Jarang jarang bisa nyuapin kamu."


Aku terbeku untuk sesaat kala ingat kalau kami ini sudah suami istri.


Selayaknya suami istri harusnya aku yang melayani dia. Ini malah sebaliknya. Yang lebih aneh lagi, kami sama sekali belum pernah bermesraan sejak ijab kabul dilaksanakan.


"Buka mulutmu, aa …."


Aku menurut sambil tetap pandangan wajahnya. Aku kunyah makanan ini meski lidah sama sekali tidak bisa menikmati. Saat kehilangan Emak pikiranku selalu menerawang, ujung-ujungnya pasti nangis. Jangankan makan, mau ke kamar mandi aja rasanya malas.


"Do," panggilku setelah menelan nasi yang dia sodorkan.


"Kenapa?" Dia menatap lama.


"Makasih karena udah nemenin sampai sini," kataku.


Pucuk kepalaku dia kecup pelan. Seketika badan ini menegang. Pasalnya ini kali pertama dia melakukannya.


"Maaf, aku sudah lama ingin melakukannya. Gak masalah kan?" tanyanya sambil garuk tengkuk.


Aku mengangguk sungkan. Aneh rasanya, tapi dia kan suamiku. Badan ini halal dia sentuh.

__ADS_1


"Dan juga tolong jangan sungkan. Kamu istriku dan sebagai suami aku berkewajiban melakukan ini. Emak juga ibuku."


Seketika air mata menitik. Mata dan pipi jadi panas. Aku merindukan Emak. Sumpah.


Badanku pun dipeluk Edo. Dia membelaiku pelan. Dan saat diperlakukan begini aku jadi makin sedih. Makin rindu Emak.


"Sudah sudah. Jangan nangis terus. Gak baik. Kasihan Emak kalau ditangisi terus," jelas Edo. Dia usap pucuk kepalaku.


"Sudah, ya, jangan nangis terus," lanjutnya.


Sebenarnya aku tau. Gak baik menangisi orang yang sudah meninggal begitu berlarut. Tapi rasanya tetap sakit. Rasanya baru kemarin Emak ngomel. Semuanya masih terngiang di telinga.


Sekarang orang itu sudah pergi. Sudah tiga hari aku gak dengar omelannya dan aku merindukan itu.


"Emak, Do. Emak. Aku kangen Emak," lirihku lalu peluk erat dia.


"Iya, aku tau, kita doakan Emak ya."


Aku masih saja sesenggukan di pelukannya. Sedih ini gak bisa dihentikan. Air mata meluber makin banyak.


Kurasakan belaian di punggung dan itu Edo yang melakukannya. 3ntah kenapa aku tiba-tiba nyaman.


"Sudah ya. Makan lagi. Kamu habis kuat."


Edo mengurai pelukan dan kemudian hapus jejak air di mataku dengan tangan.


Aku mengangguk, lalu kembali menyuap makanan. Aku akan kuat. Aku pasti kuat. Biar bagaimana pun semua orang di dunia pasti meninggal. Tanpa terkecuali. Tidak akan bisa ditunda ataupun dihindari.


Namun, baru juga habis setengah tiba-tiba pintu kamar kami diketuk dari luar.


"Kak Gadis!" panggil Lulu. Itu suaranya.


Edo berdiri, lalu meletakkan piring ke pangkuanku.


"Kamu di sini aja biar aku yang buka pintu," katanya.


Aku diam dan memberi dia anggukan.


"Kenapa, Lu?" tanya Edo.


"Itu, bang, itu … di luar ada Mas Irka."


Irka di sini?


Gegas aku turun dari kasur, lalu meletak piring di atas nakas dan mendekati mereka berdua.


"Di luar ada Irka?" tanyaku untuk memastikan.


"Iya, dia datang sama kedua orang tuanya."

__ADS_1


Kuamati Edo dan melihat wajahnya sedikit mengeras. Mungkin nggak suka kalau ada irka di sini.


"Suruh dia tunggu di luar, Lu," balasku ke Lulu.


"Baik, Kak, aku tinggal."


Kamati muka Edo dan melihat dia memberi senyuman. Aku tahu makna dari senyumannya itu.


"Do, kamu bilang kamu suka aku dari lama kan?" tanyaku sambil mengamati wajahnya.


Dia mengiyakan dengan anggukan pelan.


"Kalau begitu kamu percaya aku kan? Aku udah pilih kamu itu artinya aku sudah siap melepaskan dia. Jadi tolong beri aku waktu untuk menyelesaikannya sama Irka. Jangan cemburu. Kamu jangan marah dan jangan khawatir. Walau pernikahan kita mendadak tapi aku sudah yakin saat pilih kamu. Kamu percaya aku kan?"


Edo menatap lama, ada keraguan di matanya.


Tapi aku nggak bisa begini saja, aku sudah memilih Edo jadi harus akhiri semuanya sama Irka. Walaupun memang sebelum ini hubungan kami memang sudah berakhir saat aku tau alasan dia menghilang waktu itu.


Hanya saja aku harus mengakhiri semuanya agar gak ada lagi yang tersakiti. Aku memilih Edo dan kuharap Irka bisa menerima keputusan ini. Aku akan menjelaskanya.


Aku pun keluar dan melihat Irka duduk di sebelah kedua orang tuanya. Aku beri mereka senyum kecil.


"Dis, kami sekeluarga ikut berbela sungkawa ya. Maaf Tante sama Om baru bisa datang sekarang, kita nggak tahu kalau ibu kamu meninggal," jelas Tante Reka.


Kulihat Irka dan dia memberi sedikit senyuman, senyum yang entah bagaimana aku mengartikannya.


"Aku juga nggak nyangka kalau Emak bakalan pergi secepat ini, maaf baru datang sekarang," timpal Irka.


Iya, aku ingat itu. Sebelum Emak meninggal Irka memang bilang kalau ada kegiatan di sekolah. Dia harus membawa murid-murid tour ke Bali. Selain itu saat Emak meninggal pun aku sama sekali nggak ngasih kabar ke dia.


"Nggak apa-apa, Om, Tan. Aku paham kok dan aku juga mau ngucapin makasih karena om dan tante bela-belain datang ke sini," balasku.


"Jangan sungkan," balas Tante Reka.


Aku tarik napas panjang lalu mengamati mereka satu persatu. Mata ini bermuara ke Irka. Kulihat wajahnya masih saja tampan walau terlihat gurat kelelahan di sana.


Aku keluarkan cincin yang dulu pernah Irka kasih.


"Dis." Irka menatap tajam. Mungkin gak nyangka kalau cincinnya sudah aku lepas. Di jari manisku sudah ada cincin pemberian Edo.


"Maaf, Ka, tapi aku nggak bisa sama kamu, aku …."


"Gadis, bukankah sudah aku bilang kalau aku sama Renata itu …."


"Ini nggak ada hubungannya sama Renata," putusku cepat.


"Dis. Kita bisa memulai lagi. Aku sudah akhiri Semuanya. Aku sudah …."


"Maaf, Ka, tapi aku sudah menikah, aku memilih Edo. Aku nikah sama dia sebelum Emak meninggal."

__ADS_1


__ADS_2