
"Dis, kamu lagi becanda, 'kan?"
Aku menggeleng pelan. "Maaf."
Hanya itu yang bisa aku katakan saat ini. Rasanya bersalah sekali. Tapi aku sama sekali gak bisa maksa buat nerima dia kalau nyatanya hati menolak. Dibanding Irka aku lebih nyaman sama Edo dan itu aku sadari akhir akhir ini. Aku merasa perasaanku ke Edo juga sudah muncul. Aku suka dia. Dia yang slengean berubah dewasa setelah mengucap janji di depan Allah, penghulu dan Emak. Walau Belum yakin seratus persen, tapi aku percaya kalau akan bahagia bersama Edo.
"Dis, jawab, dong! Ini bercanda kan? Kenapa mendadak?" desak Irka, buat hati mencelos hebat. Secara langsung aku menyakiti Irka dan kedua orang tua Irka.
"Maaf." Aku menunduk makin dalam.
"Ma, Pa, apa bisa tinggalkan kami sebentar?" pinta Irka.
Kulihat kedua orang tua Irka saling pandang, lalu berdiri setelahnya. Mereka juga sedikit memberikan senyuman padaku.
"Dis, aku sama sekali gak nyangka kamu menikah saat aku lagi gak ada. Bukankah sudah aku jelaskan kalau aku serius sama kamu. Aku tulus. Cintaku masih sama, Dis," ucap Irka lalu menjambak rambutnya sendiri. Seperti orang yang sedang frustasi.
Tapi, aku memaklumi karena memang aku sudah jahat sama dia. Harusnya aku menolak ini sejak awal. Harusnya aku ….
Hufh, aku menyesal.
"Aku sama dia udah gak ada hubungan lagi. Walau agak alot tapi mereka akhirnya sadar kalau perasaan gak bisa dipaksakan. Aku gak bisa nikahi anak mereka meski memang bersalah sudah menyebabkan anak sulung mereka meninggal," jelasnya lagi.
Aku diam.
"Dis!"
"Maaf, Ka. Aku sudah menikah dan pernikahan kami sah. Aku harap kamu nerima ini."
Kulihat Irka, dia menjambak rambut lebih kuat lagi. Kasihan aku melihatnya.
"Aku pernah mencoba buka hati, menggali sekali lagi perasaan yang pernah ada buat kami. Tapi sulit. Belasan tahun berpisah aku jadi terbiasa tanpa kamu. Dan edo, secara langsung dia temani aku. Aku sadar akhir akhir ini kalau ternyata punya rasa ke Edo. Maaf."
__ADS_1
Irka gak nyahut. Dia masih menunduk dengan posisi tangan menopang kepala.
"Maaf."
"Jangan minta maaf. Sejak awal aku yang salah. Andai aku ngomong jujur, andai aku berani ngadepin kamu waktu itu, mungkin kita gak akan kayak gini. Mungkin sekarang kita sudah bahagia dengan rumah tangga dan anak-anak," tuturnya yang buatku makin bersalah.
"Maaf."
Irka mengangkat kepala, lalu menatapku lamat. Dari jarak dekat begini bisa kulihat matanya memerah.
"Jangan minta maaf. Aku yang salah. Aku lari bagai pengecut lalu tiba-tiba datang dan ngerecokin hidup kamu," sahutnya lagi lalu berdiri.
"Ka?"
"Gak apa-apa. Aku baik-baik aja. Aku doakan kamu agar selalu sehat dan bahagia. Jangan sakit, jangan banyak begadang. Sayangi diri, Dis."
Ya allah, segitunya Irka padahal aku udah nyakitin dia.
Aku ikut berdiri, dan anehnya air mata menetes tiba-tiba. Aku menyadari betapa tulusnya perasaan Irka. Dia masih sama saat kami SMA. Dia masih sayang aku. Hanya saja perasaanku ke dia berubah. Gak ada lagi getaran saat sama dia. Gak ada lagi rindu kalau gak lihat dia. Semuanya hambar. Mau sekeras apa pun aku berusaha tetap aja gak ada efek. Bahkan saat tau dia berhubungan sama perempuan lain pun aku gak terganggu, hanya merasa sedikit kesal karena berpikir Edo mempermainkan aku lagi.
Aku yang kaget tentu mencari arah suara dan baru sadar kalau sudah ada Edo di belakang. Dia mendekat dan berdiri di sebelahku sambil natap Irka lurus lurus.
"Kalau mau pelukan, peluk aku aja. Ikhlas," lanjut Edo.
Hatiku mulai berdebar saat lihat Irka mendekat. Takut mereka adu jotos lagi.
Namun, yang kupikirkan gak jadi kenyataan. Ternyata Irka memeluk Edo. Memeluk kuat kuat. Aku samping meringis melihatnya.
"Bajingan. Kamu ambil Gadis," geram Irka.
"Harus gentle. Gadis memilihku. Lagipula aku sudah kasih kesempatan. Kamu aja yang gak lihai dalam ambil hati gadis. Jadi jangan salahkan orang lain. Kalian gak jodoh," balas Edo.
__ADS_1
Irka berdecih, lalu pukul pundak Edo. Meski begitu kulinat Edo gak marah. Mungkin gak terlalu sakit.
"Jaga gadis. Awas kalau nyakitin dia," kata Irka lalu natap aku. "Maaf, dan berjanjilah untuk bahagia dan sehat."
Irka pergi. Dia melangkah gontai keluar dari rumah dan menuju mobil. Di sana sudah ada keluarganya. Mereka terlihat bicara sebentar sebelum akhirnya melihatku. Ketiganya kasih senyuman sambil melambaikan tangan. Beberapa menit kemudian mobil itu sudah keluar dari pekarangan rumah.
"Dis."
Aku menoleh Edo. Sesaat kami berserobok pandang.
"Kenapa, Do?"
"Terima kasih karena sudah memilihku."
Aku mengulas senyum. "Sebenarnya aku juga mau bilang makasih sama kamu. Kamu selalu ada buat aku. Selalu lindungi aku dengan caramu."
Edo tersenyum, lalu peluk aku. Tentu aku menolak. Pasalnya kami ada di ambang pintu.
"Do!"
"Kenapa? Gak boleh peluk?"
"Bukan itu, tapi ini di luar, apa kata orang nanti."
Edo menyipitkan mata, lalu menoel lenganku. Apa coba maksudnya.
"Itu artinya boleh kalau di dalam keadaan tertutup."
"Stress!" sungutku, lalu cubit pinggangnya. Dia mengaduh. Meski begitu aku makin senang mencubitnya.
Saat begini aku jadi kepikiran Emak dan ingin sekali bilang padanya kalau aku bahagia. Aku sudah menikah dan insyaallah pilihan ini yang terbaik.
__ADS_1
Mak, terima kasih.
*Tamat*