
"Assalamualaikum!"
Kayaknya ada yang datang.
"Assalamualaikum!"
Tumben gak ada yang nyahut. Emak ke mana, ya? Perasaan barusan ngomel, lalu kenapa sekarang malah senyap?
"Waalaikumsalam!" sahutku rada nyaring, lalu beranjak dari kasur yang dari semalam jadi tempat paling nyaman. Saking nyamannya sampai kenyang gak ada istilah lapar. Kerjaanku rebahan sambil meratapi nasib. Nasib buruk. Hufh!
"Sebentar!" lanjutku lagi sambil membenarkan jilbab. Masa bodoh sama muka sembab dan mata bengkak.
Kubuka pintu dan kaget saat melihat Irka. Dia datang padahal baru lima menit yang lalu aku kirimi pesan.
"Dis, aku bisa jelasin. Aku …."
"Datang lagi nanti. Emak lagi gak ada," potongku cepat lalu berniat tutup pintu, tapi pintu gak bisa rapat karena dia tahan pakai kaki.
"Ka, minggirin kaki kamu!" geramku sambil terus dorong pintun.
Tapi bukannya menurut dia justru lebih berani pegang tanganku. Tentu aku tepis.
"Ka, jangan kurang ajar, ya?"
"Makanya buka dulu pintunya, Dis, kita harus bicara," lanjutnya.
"Yang harus mendengar penjelasan kamu bukan aku, Ka, tapi Emak. Kamu udah kasih harapan ke Emak jadi kamu juga yang harus jelaskan kalau kita gak akan bisa menikah," tekanku mantap sambil dorong kakinya yang masih terbalut sepatu. Biar gak jadi penghalang lagi. Jujur, aku gak mau ketemu dia. Keingat kejadian semalam.
"Dis, aku bisa jelasin!" Dia masih bersikukuh.
"Mau jelasin apa? Kebohongan apalagi yang mau kamu katakan, Ka? Apa aku sebegitu gobloknya di mata kamu sampai kamu se-PD ini nipu aku?"
Sumpah, udah gak bisa santai. Dia nguji iman. Kalau dia masih memprovokasi gak tau lagi apa yang akan aku bilang. Mungkin, hal yang lebih menyakitkan.
Hufh, mudahan kewarasanku masih ada dalam badan.
"Pergi kagak!" teriakku lagi.
"Dis, ini nggak kayak apa yang kamu pikirkan."
Kesal, sumpah. Perlahan aku mulai habis kesabaran. Ingin tendang dia kalau bisa. Padahal tadinya aku sudah lelah, udah pasrah. Aku memang sakit hati, merasa ditipu. Tapi dipikir lagi mungkin kami memang gak jodoh. Dia cocok sama perempuan itu.
Aku tersentak karena dia mendorong pintu.
"Irka!" sentakku.
"Kamu harus dengar semua yang aku katakan. Aku serius sama kamu, Dis. Aku mau kita tetap menikah. Orang tuaku datang nanti sore. Mereka akan datang buat nentukan hari kita."
Wah, bravo! Kalau aku gak lihat adegan semalam, mungkin aku bakalan meleleh meleyot-leyot depan dia. Dia kelihatan gentle ngajak nikah.
__ADS_1
Tapi setelah apa yang aku lihat semalam, pandangan ke dia berubah drastis. Dia kelihatan macam bedebah. Brengsek. Kang ghosting. Pembohong!
"Aku sama Renata gak ada apa-apa," lanjutnya.
Aku berdecak malas. "Jadi namanya Renata? Sudahlah, mendingan kamu ajakin Renata nikah. jangan aku."
"Dis?" Irka memelas, dia bahkan nekat berlutut di depanku sambil mendongak. Muka santai penuh senyum yang biasa dia perlihatkan sekarang berubah total.
Tapi tunggu, kayaknya ada yang janggal. Mukanya gak mulus kayak biasa. Ada sedikit memar di beberapa bagian. Yang lebih kentara itu di bagian sudut bibir. Pecah, memar.
"Pergi, Ka!" Aku berusaha abai.
"Dis. Tolong kasih waktu, aku bisa jelasin. Aku sama Renata gak ada apa-apa. Aku terlibat sama dia dan keluarganya karena aku yang menyebabkan Reno meninggal."
Aku terhuyung. Kutatap nanar dia sambil mengingat yang namanya Reno.
Tunggu! Apa yang dimaksud adalah Reno temannya saat masih di sekolah lama. Sekolah sebelum pindah ke sekolahku?
"Ka?"
"Aku serius. Sebelum kelulusan aku ketemu Reno. Reno berkunjung ke Jakarta. Aku sama Reno kecelakaan dalam perjalanan dari bandara. Kita bercanda dan mengalami kecelakaan tunggal," terangnya.
Aku shock, sumpah.
"J-jadi ini alasan kamu ngilang waktu itu?" tanyaku memastikan.
"Iya, dan aku sengaja meminta orang tuaku buat bohong ke kamu. Aku sempat mengalami patah tulang makanya harus dirawat. Butuh waktu lama biar aku bisa pulih. Dan saat aku cari kamu, kamu udah gak ada. Kamu menghilang dan Emak juga gak mau bilang ke mana kamu pindah. Aku kelabakan, Dis," terangnya.
"Kamu berencana nikahi dia?" sergahku.
Irka menggeleng. "Gak. Bukan begitu, aku anggap Renata adik. Tapi gak nyangka dia dan keluarganya mendesak aku jadi bagian keluarga mereka."
Aku terdiam.
"Ingat hari pertama kita bertemu? Hari itu aku terpaksa melempar Renata. aku didesak orang tua, tapi di hari itu aku ketemu kamu makanya aku putuskan buat jujur sama Renata."
Sebentar, itu artinya perempuan yang nabrak aku itu Renata? Ah, iya, jika diingat mereka mirip.
"Setelah itu aku maksa orang tuaku untuk meyakinkan Emak agar merestui kita. Alhamdulillah Emak setuju."
"Hebat! Kamu licik!"
"Aku gak bisa kehilangan kamu setelah bertahun-tahun nyari macam orang gila."
"Harusnya kamu ngomong, Ka, ngomong! Ngomong kalau kecelakaan. ini apa, kamu bilang, kamu gak menganggap aku ada!"
Aku meledak. Rasanya gak kuat. Aku benci Irka, benci!
"Ada apa ini?" Edo mendekat, lalu mendorong Irka. Aku segera menahannya.
__ADS_1
"Tenang, Do. Jangan ribut di sini," cegahku.
Tapi kayaknya Edo tidak menggubris. dia menerjang Irka dan menarik kerah bajunya.
"Heh, kunyuk, masih berani ke sini! Kurang bogem mentah gue semalam?" lanjut Edo yang buat otakku bekerja ekstra.
"Heh, bangsat! Lo gak ada hak larang gue ke sini. Gue ke sini mau jelasin ke Gadis!" teriak Irka menggebu-gebu. Dia dorong Edo sampai terhuyung.
"Udah, kalian jangan berantem," cegahku.
"Mendingan lo pergi dari sini!" usir Edo ke Irka.
"Heh, gak ada urusan ya sama lo. Lo gak ada hak. Gue calon suaminya. Paham lo!"
Mereka maju, saling hantam saling pukul. Aku yang kalut berusaha melerai.
"Mbak Gadis!"
Aku melihat arah suara dan lihat Lina mendekat. Anak tetanggaku ini terlihat ngos-ngosan.
Kebetulan
"Lin, tolong panggil orang-orang. Ada yang berantem ini," pintaku sambil berusaha lerai Irka. Saat ini Irka ada di atas badan Edo. Dia membabi-buta menghajar.
"Udah itu biarin aja, sekarang Mbak gadis ikut aku. Mak Harum kecelakaan ditabrak mobil di depan komplek."
Ya Allah emak!
Gegas aku berlari. Berlari macam orang kesetanan. Gak peduli apa pun, terus melangkah sambil berdoa. Gak peduli kendaraan, nggak peduli badan gemetaran. Otak mensugesti kalau aku harus bertemu emak secepatnya. Dia terluka, dia pasti kesakitan.
Dan benar aja, pas di depan komplek orang-orang sudah berkumpul. Mataku begitu nyalang mencari sosok wanita yang aku sayang.
"Mak!" teriakku lalu menerabas ke ambulan.
Mak nggak menyahut, dia hanya merintih dengan mata terpejam darah bersimbah ke mana-mana. Hatiku nyeri kepala pening, tangan badan semuanya terasa dingin.
"Pak, aku ikut, aku ikut, aku anaknya Pak," pintaku ke petugas ambulans.
"Ya sudah, silakan Neng. Temani emaknya."
Aku masuk, masuk dengan segera sambil pegang tangan emak. Kubiarkan air mata meluruh banyak.
"Mak. Mak harus kuat. Di sini ada Gadis. Gadis temani emak. Emak harus kuat pokoknya."
Napas Emak kayak.berat, matanya merem melek. Ya Allah ...
"Dis, E-emak gak kuat. Emak mau lihat lu nikah." Tanganku di genggamnya.
Gegas aku cium tangan emak. Gak peduli bau anyir darah aku terus cium tangannya, lalu letakkan ke pipi.
__ADS_1
"Ya Allah, Mak. Gadis pasti nikah. Aku janji. Tapi Emak kudu sehat dulu, jangan gini."
Ya Allah ....