
“Ya elah panas banget sih hari ini!” Aku kembali mengedumel sementara kaki terus melangkah menuju halaman rumah.
Aneh sekali hari ini matahari seperti sedang marah. Lihat aja ke atas, nggak ada satu pun awan di sana. Aku curiga kalau awan lagi ngambek. Entahlah. Urusan matahari dan awan biar jadi urusan Tuhan. Masalahku aja udah banyak disuruh mikir lagi. Males banget.
Aku menggelengkan kepala, kayak orang gila ngomel sendiri. tapi aneh, begitu mendongak mata spontan terpusat pada dua sosok yang ada di teras. Mereka kelihatan serius mengobrol dan aku sepertinya tahu apa yang mereka bicarakan. Apalagi kalau bukan soal itu. Kawin!
Baru saja mau mengucapkan salam, Emak langsung memanggilku. “Ehhh … ini gadisnya udah sampai.” Emak tersenyum sembari menarik lenganku untuk duduk di sampingnya.
Emak yang sudah heboh sendiri lantas berkata, “Ini loh Irka udah nunggu dari tadi. Kamu kenapa lama banget?” tanya Emak.
Aku mendengus lalu menjawab, “Biasanya juga pulang jam segini kali, Mak, kalau ke pasar. Kenapa jadi heboh banget?”
Aku melihat wajah Emak berubah masam. Entah ucapanku yang salah atau memang benar tapi Emak lebih memilih untuk mengajak Irka bicara. “Ka, Emak tuh udah setuju banget kalau kamu nikah sama si Gadis. Emak pengen punya cucu tahu!”
Aku langsung menoleh dan membulatkan mata.
Emak apa-apaan sih, enak banget ngomong begitu di depan Irka. Nggak punya malu banget.
Astaghfirullah.
Aku gak boleh begini. Nggak boleh nyumpah-nyumpah. Batinku meronta, asli. Mau ngamuk tapi takut kualat. tapi didiemin ya kok ngelunjak. Ah Emak!
Tidak enak kalau harus marah-marah, akhirnya aku menimpali, “Mak, apaan sih?”
“Emak tuh serius pengen cepet-cepet punya cucu, Dis. Lu sih paket gaya-gayaan nanti nanti. Ujungnya ketikung kan? Emak suruh cepet nikah nggak mau terus.”
“Mak …,” protesku dengan wajah tidak suka. Asli lah, pen cakar tembok rasanya.
“Udah deh, nunggu apaan sih? Nunggu elu berkepala sepuluh? Mak keburu mati dong!”
Serius. Kalau bukan Emak yang bicara begitu, mungkin aku sudah melayangkan kursi saat ini juga. Emak bener-bener bikin malu aja.
__ADS_1
Sekilas aku melirik ke arah Irka yang tersenyum mendengar celotehan Emak.
Heran. Ngapain tuh orang senyum-senyum. Dikira ganteng aja, cuihhh!”
“Iya, Mak. Irka juga setuju buat nikah sama Gadis,” balas Irka yang mendapat senyuman dari Emak. Seperti orang yang sudah merencanakan lomba lari maraton. Emak langsung bersemangat empat lima menampol lenganku.
“Tuhhh tuhh, Dis, denger sendiri kan. Irka udah mau sama kamu tahu!”
“Ya emang kenapa? Nggak penting juga.” Aku memutar bola mata malas. Emak yang ada di sampingku langsung meraih kepalaku dan dihadapkan ke arah Irka. Aku yang terkejut tidak sempat melepaskan diri. “Lihat manusia ganteng ini loh, Dis! Mak tuh bingung banget sama kamu. Maunya apa sebenarnya?!”
Aku melepaskan kungkungan tangan emak di kepala. “Pusing tahu, Mak!”
“Udah deh. Emak juga pusing mikirin kamu!” Emak beranjak lalu membawa barang belanjaan Gadis. “Kalian lanjut ngobrol aja. Emak mau masuk dulu. Jangan lupa, pokoknya Emak mau, Lu berdua cepet-cepet nikah titik!” Emak berlalu pergi meninggalkan aku dan Irka yang duduk berhadapan.
“Belanja apa tadi, Dis?” tanya Irka ramah dengan senyuman manis. Tapi, aku masih merasa biasa saja sekarang.
“Biasa. Keperluan dapur.”
Aku memalingkan wajah lalu mencebik. ‘Idihh dikira aku nggak punya kaki aja!’
“Aku nggak suka ngrepotin orang. Makasih,” kataku singkat yang membuat wajah Irka langsung kecewa. Namun, sejurus kemudian dia kembali tersenyum. Aku heran kenapa ya Irka senyum-senyum mulu. Apa nggak capek. Aish! Lagi-lagi otakku memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan. Ingat Gadis, Lu itu lagi sebal.
Irka menggeleng. “Aku sama sekali nggak ngerasa direpotin kalau sama kamu.” Irka lalu menoleh ke samping tepat di samping kursi. Dia mengambil sesuatu.
“Ini buat kamu, Dis,” kata Irka sembari memberikan bunga dan satu paper bag berwarna hitam. “Diterima ya, aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau ambil,” kata Irka.
Jujur. Aku terkejut dengan apa yang dibawa Irka. Aku nggak nyangka kalau dia bakal bawa bunga sama hadiah di paper bag yang aku tebak isinya cake. Tapi, anehnya aku nggak ngerasain apapun. Barang-barang yang aku pengen dulu udah nggak bisa aku nikmatin seperti sebelumnya. Aku juga bingung.
Tangan Irka masih menggantung. “Dis, diterima ya,” ujarnya seraya memohon.
Aku yang kasihan pun akhirnya menerimanya dengan wajah datar. Sebagai orang yang selalu diberi tahu untuk menjaga sopan santun, aku lalu mengucapkan. “Makasih, Ka. Besok-besok nggak usah repot bawa kayak gitu lagi.”
__ADS_1
Irka tersenyum getir. “Kamu jutek banget, Dis sama aku.”
Idih. Jutek banget. Emang kenapa kalau aku jutek? Nggak bakal bikin bumi jungkir balik juga. Aku memilih untuk diam daripada memulai pembicaraan. Terlalu malas untuk berbasa-basi.
“Kamu baik-baik aja kan, Dis?” tanya Irka yang sepertinya langsung melupakan kejadian tadi.
Aku memilih diam. Gimana sih apa mata Irka udah buta kali ya, nggak lihat aku yang sehat walafiat ini di depannya.
Klise banget menanyakan kabar. Lebih baik aku pergi tidur. Tapi, Emak pasti langsung ngomel kalau tiba-tiba aku ninggalin Irka di teras.
Irka lalu memulai pembicaraan. Dia bilang sekarang sudah jadi PNS sambil ambil alih usaha toko perhiasan dan baju yang dimiliki keluarga. Irka banyak cerita tentang kegiatannya sehari-hari, tapi karena malas aku hanya menyimak dengan ogah-ogahan.
“Oh iya, aku juga udah punya rumah. Yang kurang sekarang hanya istri. Aku butuh pendamping, Dis. Dan aku maunya kamu,” kata Irka tanpa berdosa.
Aku yang mendengar ucapan laki-laki itu langsung mencibir. “Kamu kenapa bilang kayak gitu? Kenapa sekarang baru bilang nunggu aku, cari-cari aku? Ka, kamu sejak kelulusan ngilang entah ke mana. Aku nggak tahu harus cari kamu di mana. Dan hebatnya, setelah kejadian itu, tiba-tiba kamu dateng dan bilang kayak gitu ke aku.”
Aku sudah tidak bisa membendung perasaan kesalku lagi. Biar saja Irka tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. “Aku tanya deh ke kamu sekarang. Sejak kelulusan terus kamu ngilang itu. sebenarnya kamu ke mana?” selidikku.
Irka diam cukup lama. Di akhir, bukannya menjawab Irka justru mengalihkan topik pembicaraan dan mengajakku nonton malam ini. “Dis, kamu ada acara nggak malam ini?” Irka mendekatkan tubuhnya ke arahku. “Kalau enggak, kita nonton berdua ya, aku pengen jalan sama kamu.”
Tentu saja aku makin sebal. Ditanya malah ngalihin topik. Dasar laki-laki kurang ajar.
Aku yang kesal pun memilih diam. Saat itu juga aku memalingkan wajah, di rumah samping, aku menangkap satu sosok laki-laki yang tersenyum. Aku memandangnya lama.
Edo. jika dipikir ada yang aneh sama dia. sekarang dia jarang menggoda. biasanya ada aja spam chat atau miss call. sekarang gak lagi. aneh.
Kulihat dia. dia tersenyum di balkon sambil acungkan jempol dan Hp. Sedetik kemudian ponselku bergetar dan benar-benar dia yang kirim pesan.
"Aku dukung kamu. Have fun. kalau dia macam-macam, panggil namaku tiga kali."
Asli, mau ngakak. dikata film horor. Dasar!
__ADS_1