
"Dasar wanita malam! Pergi sana dari kampung ini!"
"Woy, Maya! Keluar kamu!"
"Maya! KELUAR!"
Suara ribut-ribut terdengar dari luar rumah. Sepasang kakak beradik yang sama-sama berjenis kelamin perempuan, keluar dari rumahnya karena mendengar kegaduhan itu.
"Ibu-ibu, bapak-bapak. Maaf, ada apa ini, ya?" tanya seorang wanita dengan suara yang penuh dengan kelembutannya.
"Dasar wanita murahan. Kalau mau bekerja tidak benar, jangan tinggal di kampung kita!" seru salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
"Maksudnya, bagaimana, ya?" tanya wanita itu lagi.
Namanya Maya Lessa, wanita berusia 25 tahun, bekerja serabutan. Namun, tiap jam sebelas malam, Maya bekerja sebagai pelayan di sebuah diskotik yang ada di kota yang dia tinggali saat ini.
"Maksudnya gimana, maksudnya gimana. Jangan sok alim, deh! Kamu ini wanita penghibur, suka merayu suami orang. Terus pergaulan bebas setiap malam. Lebih baik, kamu pergi saja dari kampung kita!"
"Benar! Kampung kita ini, harus terhindar dari wanita sepertimu!"
"Kita tidak ingin kampung ini terkena kutukan dari kelakuan kamu yang hina," celetuk salah satu ibu-ibu di sana.
"Pergi dari sini!"
"PERGI!"
Sekumpulan orang marah itu terus melempari tubuh Maya menggunakan sayuran busuk dan juga telur busuk. Di mana, telur busuk pasti baunya sangat menyengat. Keluarlah gadis muda dari dalam, menyapa Maya.
__ADS_1
"Kakak, ada apa?" tanyanya.
"Kamu jangan keluar, Mila. Masuk!" Maya mendorong tubuh gadis muda itu masuk kembali ke dalam rumah.
Gadis muda itu berusia 16 tahun. Siswi tingkat dua di sekolah menengah atas. Namanya Mila Kenanga Sari. Kesehariannya dipanggil dengan sebutan Mila. Gadis yang lucu ini berkulit putih, mata sipit dan juga memiliki postur tubuh yang ideal. Antara Mila dan Maya, memiliki hubungan baik sejak kecil. Persaudaraan mereka juga dipenuhi dengan kasih sayang.
Sayangnya, semuanya berubah ketika kedua orang tua mereka harus pergi untuk selama-lamanya. Setiap harinya, Maya akan bekerja entah di mana dan malamnya juga selalu tidak berada di rumah. Mila yang awalnya biasa saja, menjadi curiga dengan pekerjaan yang kakaknya lakoni itu.
Namun, komunikasi mereka tidak sebaik dulu. Maya hampir setiap hari tak terlihat, dan Mila juga enggan menyentuh ponselnya karena baginya, tidak ada yang perlu di hubungi.
Sehingga, suatu malam Maya pulang dengan keadaan mabuk parah. Diantar oleh seorang pria yang kemungkinan seumuran dengan almarhum ayah mereka. Dari situlah Mila tahu pekerjaan apa yang Maya lakukan setiap malam sehingga harus membuatnya pulang pagi-pagi buta.
Semenjak itulah, hubungan keduanya semakin keruh. Maya dan Mila tidak pernah bertegur sapa ketika mereka berada di satu ruangan atau berpapasan di rumah. Nilai yang sebelumnya menjadi anak yang ceria, kini menjadi pendiam karena telah melihat apa yang seharusnya tidak pernah dilihat sebelumnya.
***
"Maya, kamu harus keluar dari kampung ini sekarang juga. Kamu tinggal pilih saja, ingin keluar secara baik-baik dari desa ini atau kami seret paksa!" teriak salah satu warga.
Maya diam saja.
"Kak, Kenapa semua warga menjadi ricuh seperti ini? Apakah Kakak ke—" belum juga Mila menyelesaikan pertanyaannya, Maya sudah melotot matanya. Tanda supaya Mila diam dulu.
Seketika Mila pun terdiam. Ibu-ibu yang bersorak mengusir Maya membuat wanita berusia 26 tahun itu semakin pusing saja. Membuatnya teriak dan mengatakan, "Cukup! Diam semuanya!" teriaknya.
"Oke, saya akan pergi dari desa ini. Tapi tolong beri saya waktu sampai siang nanti karena masih harus mengurus beberapa hal sebelum saya pergi dari rumah ini dan desa ini!" tegas Maya.
"Kak, kalau Kakak pergi ... lalu aku, bagaimana?" tanya Mila mulai panik.
__ADS_1
Bagaimana tidak panik jika usianya masih 16 tahun dan belum bisa mencari uang sendiri karena masih harus sekolah. Tapi Mila ini juga memiliki kreativitas yang tinggi. Setiap paginya dia membuat makanan ringan atau jajanan seperti jajanan pasar untuk dijual di sekolahannya. Uang yang dia dapatkan selalu dia tabung karena Mila memiliki cita-cita yang ingin dicapainya.
"Mila!" panggil salah satu ibu-ibu.
Mila dan Maya menoleh bersamaan.
"Kamu tidak perlu khawatir. Kami masih mengingat betapa baiknya orang tua kalian kepada kami semuanya. Jadi, kamu bisa tetap tinggal di desa ini," ucapnya.
"Iya, benar! Kamu masih bisa tinggal desa ini kalau kamu tidak mengikuti jejak Kakakmu itu," sahut yang lain.
"Kasihan sekali Ibu Mal dengan Pak Muh kalau begini. Semasa hidupnya Bu Mal dan juga Pak Muh, 'kan orang baik. Tidak menyangka saja Putrinya malah bertingkah seperti ini,"
"Benar juga. Jika kita tidak mengingat kebaikan orang tua kalian berdua, dan yang pasti memang ini rumah kalian, Jadi kami tidak mungkin mengusir kalian berdua. Yang berbuat salah yang harus diusir, dong!" seru seorang wanita yang seumuran dengan Maya.
Maya tidak ingin meninggalkan kampung tersebut dengan meninggalkan masalah bagi adiknya. Meski hubungan keduanya tidak hangat seperti dulu lagi, tetap saja Maya selalu memikirkan nasib adiknya di masa depan.
Pagi itu, antara perangkat desa Maya dan juga ibu-ibu yang penting di desa tersebut sedang melakukan diskusi di rumah Maya. Keputusan yang diambil oleh Maya adalah, dirinya akan tetap pergi dari kampung itu dan meminta perangkat desa untuk memantau adiknya, Mila.
"Kak, kenapa aku harus tinggal sendiri? Sejak kecil kita selalu berdua. Kenapa Kakak malah mau pergi sendiri dan meninggalkan aku di sini?" tanya Mila.
"Mil, itu jauh lebih baik daripada kamu ikut sama aku. Sudahlah, kamu juga sudah besar. Kamu pasti bisa mandiri di rumah. Masalah biaya kehidupanmu aku bisa menanggungnya sampai kamu lulus sekolah nanti," jawab Maya.
"Maya, sebenarnya Pak Lurah dan juga bapak-bapak perangkat desa di sini menyesal jika sampai harus mengusir kamu dari desa ini. Tapi apa yang kamu lakukan ini memang berdampak negatif bagi desa kita," ucap Pak Sugi, tetangga Mila dan Maya.
"Pak Sugi dan Bu Nia jangan seperti ini. Saya tahu konsekuensinya akan pekerjaannya saya ambil ini. Tolong jaga adik saya dan juga bimbing adik saya dengan baik karena saya telah memberikan contoh yang buruk kepadanya," ucap Maya lirih.
"Maya, semoga diluaran sana ... kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang layak," sahut Bu Lurah dengan lembut. "Kamu ini adalah wanita yang cerdas, baik dan juga pekerja keras. Kamu ini memiliki gelar S1. Apakah kamu tidak ingin mencoba pekerjaan yang lain, yang sepadan dengan pendidikan yang pernah kamu tempuh?" lanjut beliau.
__ADS_1
Maya hanya bisa menjelaskan bahwa dirinya sudah sangat susah payah menjadi pekerjaan yang benar-benar layak baginya. Bahkan bekerja serabutan pun ia lakukan. Hanya saja, tangan Maya yang cacat itu selalu membuatnya gagal setelah interview. Apa yang membuat tangan Maya menjadi cacat?