Perfect Mom (Aunt)

Perfect Mom (Aunt)
Pria Baru


__ADS_3

Ketika ia terus mondar-mandir, tak sengaja ada seorang lelaki yang menabraknya. Seorang pria yang memiliki kaki jenjang dan keluar aura wibawanya. Pria ini menatap Mila dengan tatapan yang tak biasa.


"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," ucap Mila menundukkan kepala.


Pria itu tersenyum tipis. "Seharusnya saya minta maaf karena saya yang sudah menabrak kamu. Saya permisi." pria itu pergi begitu saja setelah meminta maaf pada Mila.


Mila merasa aneh dengan pria itu, terlihat pria itu berhenti setelah melangkah beberapa meter dari Mila berdiri. Disusul oleh seorang pria lain dari belakang dengan pakaian formal. "Terlihat sangat menyeramkan juga mereka." gumam Mila.


Dua pria itu berhenti tak jauh dari Mila berada. Pria yang sebelumnya menabrak Mila, meminta pria yang bersamanya untuk tetap mengawasinya.


"Pak, mengapa anda meminta saya mengawasi gadis kecil seperti dia? Apakah dia ...."


"Kamu awasi saja dia. Jangan sampai dia membuang anak itu lagi. Ingat, gadis itu adalah kunci kita untuk membuat Danu," sela pria yang barusan menabrak Mila.


Pria itu bernama Reval Dio Prayoga, seorang pengusaha yang meneruskan perusahaan keluarganya. Memiliki latar belakang yang tidak biasa dan memiliki usaha lain seperti hotel dan restoran berbintang.


Kemudian, pria yang satunya adalah asistennya Reval, bernama Melky Gunawan. Usianya sama dengan usia Reval. Melky sendiri sudah bekerja sejak awal Reval mengambil alih semua kendali usaha keluarga Prayoga.


"Tapi gadis itu terlalu muda untuk anda. Memangnya ... untuk apa Ba—" ucapan Melky terhenti kala melihat tatapan tajam dari Reval.


"Lakukan saja apa yang aku katakan. Jangan lupa untuk mengajaknya bekerja menjadi office girl di hotel atau restoran kita, supaya dia bisa menghidupi keponakannya," perintah Reval.


"Baik, Pak."


Kedua pria itu keluar dari rumah sakit. Saat itu juga, Mila juga melihat dokter selesai memeriksa Richi. Segera Mila menanyakan kondisi keponakannya yang sejak tadi sudah membuatnya gelisah.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan keponakan saya?" tanya Mila dengan kekhawatirannya.


Dokter tersebut menghela nafas pelan. "Ananda mengalami dehidrasi, demam dan harus di rawat inap dulu. Jika besok sudah membaik, maka boleh dibawa pulang," katanya.


Tidak ingin membuat kesalahan yang sama, Mila setuju saja apa yang dianjurkan oleh dokter padanya. Segera Mila mengurus administrasi dan tidak lupa menghubungi Sony dan kedua orang tuanya jika dirinya berada di rumah sakit malam itu.


Sampailah Mila di ruang inap yang Richi gunakan. Melihat kaki kecil Richi diinfus membuat hati Mila teriris. Jiwa keibuannya mulai muncul setelah merasa benci kepada Richi karena telah membuatnya stress.


"Maafkan aku, Richi. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu di panti asuhan dan membiarkanmu kehujanan,"


"Aku benar-benar menyesal. Seketika aku menjadi orang yang jahat karena tega membuangmu. Maafkan aku, jangan pernah membenciku ketika kamu dewasa nanti, Richi,"


"Maafkan aku ...."


Malam itu, Mila mengungkapkan semua perasaannya selama 6 bulan merawat Richi sendirian. Tanpa orang tua, tanpa suami dan tanpa orang berpengalaman yang mendampingi setiap saat. Benar Bu lurah dan kedua orang tua Sony, tetap saja bagi Mila, dia hanya sendiri merawat Richi.


***


Pagi hari sebelum waktunya berangkat sekolah, Bu Mal sudah datang bersama dengan Sony. Mereka berdua bertukar tempat jaga karena Mila harus sekolah. Sony menelepon Mila memberitahu bahwa dirinya sudah berada di parkiran.


"Pakai ini, Bu Mal. Sebelum jam besuk, kalau tidak menggunakan kartu ini, tidak boleh masuk," setelah sampai parkiran, Mila memberikan kartu penunggu dan mengalungkan di leher Bu Mal.


"Ya Allah, kenapa sampai bisa masuk rumah sakit, sih? Memangnya Richi sakit apa?" tanya Bu Mal khawatir.


"Demam karena dehidrasi. Mila memang kurang becus menjaganya. Tapi Mila janji, Mila akan berusaha untuk menjaga Richi lebih baik lagi dari sebelumnya," jawab Mila dengan raut wajahnya yang murung.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Jangan pernah menyerahkan diri sendiri. Jika kamu lelah, letih dan tidak berdaya itu suatu kewajaran karena kamu belum memiliki pengalaman," tutur Bu Mal. "Kamu pulang saja dulu. Ibu sudah membuatkanmu sarapan juga. Pulang sekolah nanti, kita baru gantian. Eh, kamu kerja ya ... ya sudah, kamu boleh kesini kalau sudah pulang kerja," lanjut Bu Mal.


Mila menjelaskan kepada Bu Mal jika dirinya akan libur kerja untuk hari itu. Remaja ini juga tahu diri karena Bu Mal belum memiliki persiapan jika harus menunggu Richi sampai malam hari.


"Memangnya boleh kalau libur mendadak?" tanya Sony.


"Nah, tuh. Memangnya boleh?" timpal Bu Mal.


"Tidak tahu juga. Tapi akan diusahakan supaya pulang sekolah bisa langsung menggantikan posisi ibu," Mila begitu yakin.


Tak ingin membuang waktu lagi, Mila dan Sony pulang meninggalkan Bu Mal menunggu Richi. Sepanjang perjalanan, Mila terus memikirkan keponakannya yang terbaring di rumah sakit.


Meninggalkan Richi di rumah sakit membuat fokus Mila terganggu. Kegiatan belajarnya sampai tidak fokus terhadap pelajaran dan malah terus memikirkan keponakannya. Hari itu juga banyak sekali yang menanyakan keberadaan bayi mungil yang biasanya setiap Sabtu dibawa oleh Mila ke sekolah.


"Oh, keponakan kamu di rumah sakit? Sakit apa dia? Jadi sepi nih, biasanya jam istirahat gendong-gendong dia. Sekarang sepi tidak ada Richi," celetuk salah satu siswa yang memang selalu mengajak Richi bermain.


"Iya, benar. Aku bahkan juga tidak tahu kalau Richi sakit. Memangnya dia sakit apa, Mil?" sahut Ria.


"Halah kalian ini. Tanya terus seperti wartawan. Jadi Richi itu sakit demam karena dehidrasi. Kalian jangan lupa jenguk, loh, ya!" seru Sony menjelaskannya.


Mila hanya diam saja, terlihat sedih dan benar-benar tidak bersemangat. Sampai pulang sekolah tiba saja, raut wajah Mila sama sekali tidak ada rasa senangnya. Sony yang sedari tadi bersamanya pun sama sekali tidak diajak bicara.


Hari itu Mila meminta izin kepada pemilik rumah makan untuk mengambil libur. Sang pemilik rumah makan pun tentu orang baik, beliau mengizinkan Mila untuk libur sampai keponakannya keluar dari rumah sakit. Bahkan pemilik rumah makan tersebut membawakan bekal untuk Mila makan ketika menunggu Richi di rumah sakit.


Kebaikan dari pemilik rumah makan itu mengingatkan hal kemarin malam yang membuat Mila hampir saja kehilangan Richi. Mila sangat yakin jika kebaikan dari orang-orang itu juga karena dirinya Richi yang mengalami cacat netra.

__ADS_1


'Apa yang aku perbuat kemarin malam itu sungguh keterlaluan. Aku sangat yakin jika semua ini karena Richi, orang-orang menjadi begitu baik kepadaku,' batin Mila.


Pelajaran itu akan Mila selalu ingat. Ketulusan tetap akan berbuah manis meski prosesnya tidak semanis hasilnya.


__ADS_2