
Merawat bayi adalah pengalaman pertama bagi Mila. Wajar saja jika dia masih selalu mengeluh dan belum cekatan mengurus keponakannya.
"Bau sekali pup-nya. Padahal dia belum makan nasi, tapi pup-nya sudah bau saja!" Mila bergumam.
"Haih, aku jadi tidak mengantuk. Tapi si bayi sudah tidur duluan. Huft, bagaimana ini? Besok masih ada tes terakhir. Tapi sekarang malah aku tidak bisa tidur," keluhnya.
Remaja ini berusaha mencari suatu hal yang bisa membuatnya mengantuk kembali. Tapi sayangnya, dia masih kesusahan untuk memejamkan matanya. Bahkan sampai suara detik jam saja tidak bisa membuatnya tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Mila sampai saat itu masih belum bisa tidur dan matanya mulai timbul lingkaran hitam. Tatapannya yang datar tanpa ekspresi itu sudah menunjukkan bahwa remaja ini frustasi dengan keadaan yang saat ini ia jalannya.
"Sudah jam lima, sebaiknya aku bersiap pergi ke sekolah saja," Mila beranjak dari kamar.
Sebelum keluar dari kamar, Mila menoleh ke arah keponakannya. Memastikan jika keponakannya aman di atas ranjang tanpa ada yang menjaga. "Aman kali, ya? Aku mau mandi dulu soalnya." batinnya.
Tapi baru saja beberapa detik Mila meninggalkan kamar, dia kembali lagi dan memastikan jika keponakannya benar-benar aman dan tidak menggelinding ke lantai.
"Aman nggak, ya?" Mila masih meragu.
Akhirnya si bayi yang masih pulas itu dipindahkan tempat tidurnya di atas karpet lantai yang sebelumnya sudah Mila beri alas yang hangat. Naluri keibuannya sudah keluar tanpa harus belajar lagi.
"Oke, aku pikir ini sudah aman," ucapnya yakin.
Mila memandangi keponakannya. "Bayi, kamu tidur dulu di sini dan nyenyak, ya. Bibi mau ke kamar mandi dulu, mandi dan bersiap ke sekolah, oke?"
"Oke lah, ya ...."
Segera Mila pergi ke kamar mandi, dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Rutinitas pagi hari yang selalu dilakukan Mila menjadi harus bergerak lebih cepat lagi karena ada bayi yang harus dirawat.
Selesai mandi, Mila segera berganti seragam sekolahnya. Seperti biasa dia akan memandang dirinya sendiri dari kaca yang ada di kamarnya. "Mila, hari ini adalah awal mula kamu jadi seorang ibu bagi keponakanmu. Ayo berusaha lebih kuat lagi untuk menghadapinya." Ia menguatkan diri.
Baru saja Mila mau menyuap sarapan, bayi kecilnya terbangun dan menangis dengan kencang. Mila yang belum terbiasa ini menjadi terkejut, langsung meletakkan sendoknya.
__ADS_1
"Kali ini apa lagi, bayi?" tanya Mila terburu-buru masuk ke kamar.
Satu persatu Mila mengecek keponakannya dari mulai celana yang dikenakan, topi dan lain-lain. Sudah merasa aman, Mila yakin jika keponakannya itu lapar. Segera ia berlari ke dapur untuk membuatkan susu.
"Oke, oke, ini minumnya. Kamu pasti lapar, ya ..." ucap Mila kala selesai membuatkan susu.
Baru saja teringat ketika Mila hendak memberikan mainan kepada keponakannya. "Yah, kamu buta kan, ya ... Kasihan sekali kamu. Masih kecil sudah tidak mempunyai ibu, lalu ditinggal oleh keluarga kandung dari ayahmu, kemudian kamu juga mengenali kebutuhan dini karena sakit panas. Kenapa Tuhan malah memberimu hidup jika pastinya kamu akan ...."
Ucapan Mila terhenti. Dia tidak tega melanjutkannya karena bayi malang itu adalah keponakannya sendiri. Mila langsung menghapus air matanya, berusaha untuk tetap tegar menerima keadaan keponakannya.
"Baiklah, bayi. Hari ini bibi mau memberimu nama. Semoga saja kamu suka dengan nama yang bibi berikan ini ya ...." kata Mila dengan senyumannya.
"Namamu adalah Richi Lessa. Lessa adalah nama belakang ibumu, bayi. Meski bibi juga tidak tahu arti nama Lessa, tapi bibi tidak ingin kamu sampai melupakan ibu kandung kamu, oke?"
"Setuju, Pak Richi?"
Mila tertawa kecil menyentil hidung keponakan yang baru saja ia beri nama 'Richi'. Sementara bayi itu nampak tersenyum ketika Mila memanggil namanya.
Setelah drama di pagi hari mengurus bayi dan sarapan yang harus terburu-buru, Mila dilanda kebingungan karena tidak mungkin meninggalkan Richi di rumah sendirian. Dia pun berencana untuk menitipkan Richi kepada bu Mal dan juga suaminya.
Ketika Mila keluar rumah, Sony sudah berada di depan rumahnya. Dia nampak murung ketika menyambut Mila dan Richi.
"Kamu sudah disini saja, Son? Sejak kapan?" tanya Mila.
"Sekitar 5 menit yang lalu," jawab Sony, sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Mila melongok ke rumah Sony, dia tidak melihat mobil Bu Mal dan suaminya tidak ada di parkiran rumahnya. Masih mencari-cari dimana mobil tetangga baiknya itu berada, sampai ditegur oleh Sony yang melihat kebingungan. "Hei, kau mencari siapa?" tanyanya.
"Mobil orang tuamu tidak ada. Ke mana?" Mila balik bertanya.
Sony nampak murung kembali.
__ADS_1
"Ada apa denganmu, kenapa tidak menjawab pertanyaanku dan malah murung seperti itu?" Mila sungguh memiliki kesabaran yang setipis tisu masih dibagi menjadi tiga lapis.
Sony menghela nafas panjang. "Mereka pulang kampung, nenekku meninggal. Huh, karena aku masih tes, jadi aku ditinggal. Padahal aku—"
"Apa? Orang tuamu pulang kampung?" Mila memotong ucapan Sony. "Astaga, terus bagaimana dengan Richi?" remaja ini menjadi panik.
"Hah, kenapa kamu begitu panik? Apa kamu mengkhawatirkan aku? Lalu, siapa Richi?" timpal Sony menatap tajam Mila.
Plak!
Mila menampar Sony, seperti biasa memang Mila selalu ringan tangan jika dengan sahabat sejak kecilnya itu. "Richi ya keponakanku ini, bego!" ketusnya.
"Richi? Sejak kapan nanya jadi Richi?" Sony semakin tidak paham.
"Hah, sudahlah. Aku sedang pusing, Son!" sentak Mila, kebingungan.
"Kau pusing kenapa? Minum obat kalau pusing," sahut Sony.
"Ini bukan masalah pusing karena sakit," jelas Mila kesal.
"Lalu apa?" tanya Sony.
Mila berbalik arah menghadap Sony. "Jika kedua orang tuamu tidak ada di rumah, makasih apa yang akan mungkin jaga Richi, Son!"
Sony baru saja ingat tentang bayi itu yang tidak mungkin dibawa ke sekolah. Mereka akhirnya mulai kebingungan mencari solusi tentang Richi yang harus dibawa atau mencari orang yang mau mengasuhnya.
Akhirnya Mila mencari pengasuh untuk Richi selama dirinya sekolah. Dia sudah berkeliling ke desa tapi tidak ada mau yang merawat Richi karena mereka tahu bahwa bayi itu adalah anaknya Maya.
Terakhir Mila hendak meminta bantuan dari teman kakaknya dulu, yakni Desfi. Wanita itu teman sejak kecilnya Maya. Keduanya memiliki hubungan baik secara terlihat, tapi tidak secara batin.
"Mbak Des, Masa iya mbak tidak mau membantuku mengurus bayi dari sahabatnya mbak Desfi sendiri. Aku mau sekolah tapi tidak ada yang merawatnya selama aku sekolah, mbak,"
__ADS_1
"Aku mohon dengan mbak Desfi, tolong saya sekali Ini saja sampai Pak Sugi dan Bu Mal pulang nanti. Jika mereka sudah pulang, pasti aku tidak akan menitipkan bayi ini kepada mbak Desfi," Mila sampai memohon.
Apakah Desfi mau membantu?