
"Uh, pelan sedikit ..."
"Kamu jangan memperlakukan aku dengan kasar seperti ini. Aku baru saja melahirkan anakmu dua bulan lalu!"
"Uhh ... le-lepaskan leherku!"
"Danu, sakit!"
PLAK!!
Satu tamparan melayang di pipi Maya. Pipi yang mulus itu, kini memerah akibat tamparan tangan pria yang selalu saja menggagahi Maya setiap saat. Pria itu juga yang telah membuat Maya melahirkan bayi laki-laki dua bulan lalu.
"Kenapa kamu selalu seperti ini, Danu! Aku bukan binatang atau mainanmu!" teriak Maya.
"Berisik!"
PLAK!!
Sekali lagi Danu menampar Maya. Permainan yang mereka lakukan malam itu, semakin brutal saja. Danu menggagahi tubuh Maya dengan kasar sampai membuat Maya terisak. Tenaga Maya juga tidak bisa mengalah tenaga seorang pria berusia 27 tahun itu.
Setelah melakukan hubungan badan, Maya terungkap menangis di atas ranjang. Dani terus saja memarahinya karena sudah merasa Maya tidak bisa memuaskan dirinya lagi. Sehingga, membuatnya kalap harus bermain kasar. Dari mulut pria itu, terlontar kata-kata kasar yang membuat Maya semakin sakit hati.
"Kamu memang bajingan!" teriak Maya.
"Kami pikir, kamu ini siapa? Hanya karena kamu anak orang kaya, lalu bisa memperolok diriku seperti ini, ha?" Maya mulai emosi.
"Apa katamu? Aku ... bajingan? Dasar wanita rendahan!" sentak Danu, kembali menampar pipi Maya sampai bibirnya berdarah.
Tatapan sengit Maya itu membuat Danu semakin di rendahkan. Pria itu kembali memukul wajah Maya sampai Maya hampir pingsan. Beruntungnya, Maya masih bisa sadar dan mengatakan, "Kamu akan rugi jika memperlakukan aku seperti ini, Danu," desisnya.
"Kamu bahkan tidak tahu di mana anakmu sekarang, bukan? Bahkan, kamu juga tidak tahu dia itu adalah anakmu atau anak dari klienku yang lain, hm ..." senyum sinis di bibir Maya membuat Danu melepaskan cengkraman tangannya.
__ADS_1
Danu bertanya, "Apa maksudmu?" alisnya naik satu. Sangat jelas jika Danu mulai terpengaruh oleh kebohongan yang Maya katakan.
"Apa maksudnya, Maya. Katakan!" kembali Danu mencekik leher Maya. "Jika kamu tidak mengatakannya, jangan harap kamu akan melihat matahari besok pagi," Danu pun melempar tubuh Maya yang masih tanpa busana.
"Sudah aku katakan, kalau kamu tidak akan pernah bertemu dan anak itu dan mengetahui apakah anak itu adalah anak kandungmu atau tidak, jika perlakuan kamu masih seperti ini kepadaku," ungkap Maya lirih.
"Bangsatt! Mati saja kau!"
Danu tersulut emosi karena ketidak jelasan ucapan Maya. Dia pun mencekik Maya sampai wanita berusia 26 tahun tidak bisa bernafas lagi. Setelah mengetahui Maya berhenti meronta, Danu pun sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Maya,"
"Maya, bangun,"
"Maya, bangun!"
Pria berusia 27 tahun itu menempatkan jarinya di depan lubang hidung Maya. Tidak merasakan adanya hembusan nafas dari hidung mungil itu. Sontak, Danu pun langsung meloncat dari ranjang.
"Dia sudah meninggal? Dia tidak bernapas?"
"Astaga, aku membunuh orang?"
"Tidak, tidak, tidak!"
Tidak ingin sampai dirinya masuk ke dalam bui, Danu pun menghubungi kedua orang tuanya dan menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya. Hukum di negara itu masih bisa dibeli. Jadi malam itu juga, Danu dengan dibantu oleh kedua orang tuanya, menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.
Entah bagaimana cara orang tua Danu melakukannya, tapi malam itu juga, keluarga Danu membawa jenazah Maya ke rumah lamanya. Rumah yang saat ini ditempati oleh Mila. Gadis 16 tahun itu syok berat melihat jenazah kakaknya yang sudah kaku dan dingin di hadapannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kakak ... kenapa dengan Kakak saya, Pak, Bu?" Mila mulai menangis.
"Nak, kami adalah keluarga dari kekasihnya Maya. Bolehkah kamu memanggil perangkat desa dan juga tetangga sebelah?" ayahnya Danu berusaha untuk tetap tenang. "Kami harus menyerahkan jenazah Maya secara baik-baik kepada mereka," imbuhnya.
__ADS_1
Ada hal yang mengganjal di hati Mila. Tapi, melihat jenazah kakaknya membuatnya tidak tega. Dengan perasaan hati yang kacau, Mila berlari memanggil Pak Sugi dan Bu Mal. Begitu juga dengan Sony yang segera berlari ke rumah Mila.
"Astaghfirullah hal'adzim, Maya?" Bu Mal terkejut melihat tubuh Maya yang sudah terbujur kaku. "Maya ..." imbuhnya dengan air Maya yang mulai merembes.
Di sampingnya, Mila tertunduk lemas. Tidak tahu harus berbuat apa lagi dan bersikap bagaimana. Mila menatap wajah kakaknya yang sudah pucat. Teringat masa-masa indah semasa kecil bersama sang kakak.
"Bu, apa yang terjadi dengan Maya? Kenapa bisa meninggal seperti ini?" tanya Bu Mal kepada Ibunya Danu.
"Bu, sabar. Kami akan menjelaskan ketika para desa juga sudah sampai di sini. Kamu juga tidak ingin mengulang apa yang kita akan katakan nanti," jawab ayahnya Danu.
Mendengar jawaban itu, membuat Bu Mal menjadi curiga. Heran saja dengan jawaban yang tidak mengenakkan hati. "Bagaimana bisa kalian berkata seperti itu kepada kami. Mengapa jika memang kamu harus dengar lebih du—" ucapan Bu Mal belum selesai, Pak Sugi dan Sony datang membawa Pak Lurah dan juga Bapak RT, RW.
Seperti yang sudah direncanakan, kedua orang tua Danu Wisma Prayoga ini menjelaskan hal yang bukan sebenarnya. Seolah, menyalahkan Maya karena berbuat asusila dengan pria lain sampai membuat putra mereka marah. Cerita yang di karang oleh Pak Sugi ini rupanya dipercaya semua orang di sana kecuali Mila dan Sony.
"Apa benar ceritanya seperti itu, Pak, Bu? Kenapa saya merasa jika apa yang kalian bicarakan ini sungguh susah untuk di pikir logika, ya?" Mila memberanikan diri untuk bertanya.
Sayangnya, pak lurah meminta Mila untuk diam dan tidak ikut campur. Di situlah Mila semakin kesal. Mila marah kepada pak lurah yang memintanya untuk diam dan mengatakan bahwa dirinya tidak harus ikut campur. Padahal yang meninggal di depan matanya itu adalah kakak kandungnya sendiri.
"Pak, kenapa Bapak berkata seperti itu?" protes Mila dengan suara yang mulai gemetar. "Yang terbujur aku saat ini adalah Kakak kandung saya sendiri. Bagaimana bisa saya tidak ikut campur dalam masalah ini?" lanjutnya.
"Saya mau jenazah Kak Maya di otopsi!" tegas Mila.
Seketika kedua orang tua Danu pun terkejut. Mereka tidak menyangka saja jika Mila akan melontarkan kata tersebut. Tentu saja akan terbongkar rahasia kematiannya Maya jika aparat desa menyetujui keinginan wilayah yang ingin mengotopsi jenazah kakaknya.
"Kenapa diam? Jika memang tidak ada kesalahan, harusnya Kakak saya harus di otopsi supaya jelas alasan Kakak saya bisa meninggal!" Mila kembali menegaskan.
"Alasan apa lagi? Haduh gadis muda ini sungguh tidak memiliki sopan santun," ibunya Danu mulai membual.
"Apa maksud Ibu? Mila adalah gadis yang sangat baik. Kenapa Ibu berkata seperti itu? Wajar saja jika dia berkata seperti ini karena yang meninggal ini adalah kakaknya. Kakak kandungnya," sahut Bu Mal tidak terima ketika ibunya Danu menghina Mila.
Situasi pun menjadi ricuh. Bu Mal dan ibunya Danu malah bertengkar sendiri. Karena pada dasarnya Maya sudah tidak memiliki orang tua, maka pak lurah memutuskan untuk segera dimakamkan. Mila dan keluarga Sony tidak setuju. Tapi mereka juga tidak bisa berkutik karena tidak memiliki kekuasaan. Pada akhirnya malam itu Maya pun dimakamkan.
__ADS_1