
Hari minggu, beberapa teman sekolah yang selalu mengajak Richi bermain sedang menjenguknya. Meski tunanetra, Richi bisa merespon semua orang yang ada di sisinya dengan tawa yang manis. Melihat keponakannya banyak yang mencintai, membuat Mila semakin menyayanginya.
Kehadiran teman-teman sekolah membuat Mila sangat senang. Bahkan mereka juga tidak lupa membawakan bekal untuk Mila makan selama berada di rumah sakit. Entah itu makanan kering ataupun makanan ringan semuanya dibawa oleh teman-teman. Karena Richi, Mila juga mendapatkan suatu kebaikan.
***
Pukul delapan malam waktunya jam besuk telah habis. Sony berpamitan mengajak Bu Mal sekalian untuk pulang karena malam itu Mila bisa menunggu Richi di rumah sakit.
"Apa tidak masalah nih, kamu nunggu sendirian?" tanya Bu Mal.
"Richi sudah tidur juga, Bu. Tenang saja, pasti Mila bisa mengatasinya dengan baik. Disini juga kan banyak perawat yang nanti akan membantu jika Mila mengalami kesulitan ketika merawat Richi," jawab Mila dengan tenang.
Bu Mal mengusap lengan Mila dengan lembut, senyum hangatnya seperti senyum ibu yang bangga terhadap anaknya. Lalu mengajak Sony pulang dan besoknya akan bergantian dengan Mila lagi menjaga Richi.
"Oh, ya. Bu, besok ibu tidak perlu datang pagi. Besok saya ingin izin sekolah saja. Kebetulan wali kelas sudah mengizinkan aku untuk ikut ujian susulan, jadi ..." ucapan Mila belum selesai, Bu Mal sudah meletakkan jari telunjuknya ke bibir mungil Mila.
"Jika kamu seperti ini, kamu bisa membuat toleransi yang diberikan oleh kelapa sekolah bisa hilang. Kamu harus sekolah besok, ya. Ibu akan berusaha lebih pagi lagi datangnya," ucap Bu Mal dengan lembut.
Mila hanya tersenyum saja dengan perhatian Bu Mal. Tapi remaja ini sudah sangat yakin jika dirinya akan mengambil libur demi menjaga keponakannya. Setelah mengantar Sony dan Bu Mal sampai di depan pintu, Mila kembali ke ruang inapnya Richi dan melihat bayi berusia 7 bulan itu sudah tertidur pulas.
Ketika mau duduk, seorang perawat datang membawakan satu porsi makanan yang dibungkus dalam styrofoam dan satu porsi kopi hangat untuknya.
"Apa ini, suster?" tanya Mila.
"Ini titipan dari seseorang. Tadi menitipkan ini untuk Mbak Mila. Tolong dimakan dan dihabiskan, ya. Menjaga bayi akan menguras tenaga. Kamu yang masih muda sangat luar biasa bisa merawat bayi dengan kekurangannya selama 6 bulan," ucap perawat tersebut dengan senyuman.
"Kalau boleh tahu, siapa yang menitipkan ini kepada suster? Apakah dia seorang pria atau seorang perempuan?" tanya Mila penasaran.
Perawat itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum kemudian pergi. Mila membuka bingkisan tersebut dan mendapatkan apa yang ia cari. Sebuah surat kecil yang terselip di sana membuat Mila yakin jika pemberi itu memiliki niat.
'Makanlah, gadis kecil sepertimu membutuhkan asupan yang banyak supaya lebih kuat lagi menghadapi masa depan. Jalan di depan sana berlubang, kuatkan mentalmu.'
__ADS_1
Isi surat kecil tersebut.
"Makan ini masih hangat semua. Apa ada racun di dalamnya?" gumamnya. "Tidak. Aku tidak boleh memiliki prasangka buruk. Waspada boleh, tapi ini makanan dan harus dimakan."
Prasangka buruk akan menjadi doa, bagi Mila. Ia tak peduli siapa yang sedang berbuat baik padanya, hanya syukur yang bisa Mila panjatkan saat itu. Melihat Mila makan dengan lahap, pria yang mengintipnya dari luar merasa senang. Senyum tipisnya tersemat, lalu pria itu langsung pergi.
Malam semakin larut. Mila merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di ruangan tersebut. Seperti biasa, bayi akan terbangun di waktu tengah malam dan malam itu Richi menangis. Mila terbangun dan membuatkannya susu, kemudian kembali tidur ketika Richi sudah tenang.
***
Senin pagi, suasana masih sunyi karena belum buka jam besuknya. Mila membuka matanya dan melihat keponakannya yang masih tidur di ranjangnya. 'Hm, dia masih lelap. Sebaiknya aku mandi dulu, jika nanti ada pemeriksaan dan aku belum mandi, bakal lebih sulit menghadapi Richi.' batinnya.
Mila meninggalkan Richi sebentar untuk mandi. Di kamar mandi pun Mila juga tidak bisa berlama-lama karena takut Richi akan bangun dan mencarinya. Apalagi dengan kekurangan yang Richi miliki, Mila sangat takut jika Richi sampai jatuh dari ranjang.
Lima menit berlalu, Mila sudah selesai mandinya. Ia melihat jika Richi sidak membuka matanya dan duduk dengan tenang di ranjangnya.
"Hei, Richi. Kamu sudah bangun, ya? Selamat pagi, ganteng ...."
Deg!
Deg!
Richi memanggil Mila dengan sebutan Mama. Sebutan keramat itu membuat remaja ini membeku sejenak. Butiran air kecil mulai menetes di sudut matanya.
"Richi, apa yang—"
"Mama,"
"Mama,"
Richi kembali memanggil Mila dengan sebutan Mama. Bahkan bayi itu juga merentangkan tangannya, sesekali meraba-raba mencari dimana Mila berada.
__ADS_1
"Nak, disini," ucap Mila meraih tangan kecil keponakannya. "Iya, Mama disini, Sayang. Mama disini." tanpa bersuara, Mila mengais penuh haru.
Tersadar jika keponakannya adalah penyandang cacat netra, Mila semakin tertampar karena ia berarti harus menjadi ibu yang sempurna bagi keponakannya. Teringat kembali apa yang membuat Richi masuk rumah sakit saat itu.
Malam itu selalu menjadi pengingat bagi Mila sendiri. Hampir saja menjadi kejam karena tak bisa mengontrol emosinya. Pagi itu Mila memeluk erat Richi dan menciumnya. Rasa sayangnya meningkat ketika Richi menyebutnya dengan panggilan 'Mama'.
Pemeriksaan pagi dilalui dengan tenang. Hasilnya juga sudah keluar satu jam setelah pemeriksaan. Richi diperbolehkan pulang siang itu juga dan dimintai kontrol tiga hari kedepannya.
"Um, dokter. Jika saya boleh tahu, dimana saya bisa membayar biaya pengobatan Richi selama menginap di sini?" tanya Mila.
Dokter menunjukkan tempatnya. Mila menitipkan Richi yang saat itu tidur setelah minum obat pada perawat yang selalu membantunya selama di rumah sakit.
"Saya mau membayar, dong," ucap Mila.
"Baik, Ibu. Pasien atas nama siapa dan di rawat di rumah apa? Hmm, jika saya boleh tahu, Ibunya membawa surat yang dokter berikan atau tidak?"
"Oh, ini?" tanya Mila.
"Benar, Ibu. Boleh saya cek terlebih dahulu?"
"Silakan ...." ucap Mila memberikan dua lembaran yang sudah dokter berikan padanya.
Setelah menunggu, Mila dipanggil kembali dan diberi tahu jika seluruh biaya rumah sakit sudah dibayarkan. Mila yang merasa belum membayar pun menjadi bingung.
"Sudah dibayar? Tapi saya belum membayarnya. Kira-kira ... siapa yang membayarnya, ya?" tanya Mila.
Lagi-lagi Mila hanya mendapat selembar kertas kecil dengan gaya tulisan yang sama dengan tulisan di setiap ada makanan yang dititipkan pada perawat untuknya.
'Kamu tidak perlu tahu siapa saya. Cukup rawat anak itu dengan baik. Jika sudah waktunya tiba, saya sendiri yang akan mengunjungimu. Kebetulan juga, saya baru menerima laporan tentang nomor rekening kamu. Setiap bulan saya akan mengirimkan kamu uang sampai kamu lulus sekolah nanti. Berhentilah bekerja dan urus anak itu dengan sebaik-baiknya. Ketika kamu lulus kuliah nanti, saya akan datang padamu dan memberikan hadiah untukmu dan juga anak itu.'
Hanya itu yang tertulis di kertas kecil tersebut.
__ADS_1