Perfect Mom (Aunt)

Perfect Mom (Aunt)
Mila Mulai Stress


__ADS_3

Acara polling untuk pemungutan suara Mila membawa keponakannya ke sekolah telah dimulai. Semua murid masuk ke lapangan sekolah dan mulai memberikan suaranya. Sepanjang acara, Mila terus berharap supaya semua orang mendukung dirinya membawa Richi bersama selama melanjutkan sekolahnya. Hanya sisa 1 tahun lagi Mila sekolah di sana. Jadi, Mila berharap lebih bisa mendapatkan apa yang diharapkan.


Selama satu jam setengah, akhirnya keputusan akan diumumkan. Mila yang saat itu sedang memberikan susu kepada Richi menatap papan tulis besar yang sudah kepala sekolah siapkan.


"Mila," panggil wali kelas, Bu Lusi.


Dengan lembut, Bu Lusi mengatakan, "Apapun hasilnya, kamu harus terima dengan lapang dada, ya. Apa yang menjadi keputusan hari ini, semoga bisa memberikan dampak positif pada kita semua." lanjutnya.


Kepala sekolah mengumumkan bahwa Mila boleh membawa Richi ke sekolah hanya di hari Jumat dan sabtu saja. Selain hari itu, akan ada yang membantu Mila mengurus Richi secara bergantian. Tergantung Richi mau atau tidaknya. Jika tidak, nanti akan dibicarakan lagi dengan orang tua Sony, yakni Pak Sugi dan Bu Mal.


Meski sedikit kecewa karena hanya bisa membawa Richi setiap hari Jumat dan Sabtu, tetap saja Mila sudah bersyukur karena ia tidak bingung lagi kenapa harus menitipkan Richi.


"Jika boleh saya bertanya, mengapa saya hanya boleh membawa Richi ke sekolah setiap hari tertentu? Lalu setiap hari Senin sampai Kamis, kemana saya harus menitipkan Richi?" tanya Mila, menuai protes.


"Halah, udah syukur pihak sekolah dan teman yang lainnya mau membantu mengurus bayi. Bersyukur aja lah!" celetuk Vera.


Mila menyetujui dan berterima kasih kepada semua karena sudah memberikan kesempatan yang baik bagi dirinya juga dengan keponakannya. Mila mendapat dukungan dari guru dan teman-teman yang lain, itu sudah sangat membahagiakan baginya.


Mulai saat itu, Mila selalu membawa Richi ke sekolah setiap hari Jumat dan Sabtu. Sementara hari Senin sampai Kamis selalu dititipkan pada Bu Mal dan Bu Lurah secara bergantian.


***


6 bulan berlalu.


Selama enam bulan itu, Mila benar-benar sibuk sekali. Sebelum berangkat sekolah harus merawat Richi terlebih dahulu, pulang sekolah juga seperti itu sampai pagi lagi. Remaja ini mulai stress dan keadaan yang ia alami saat itu. Tubuhnya mulai kurus dan tidak terawat karena harus mencari, nafkah sekolah dan juga merawat Richi.


Mila bekerja serabutan di rumah makan setiap pulang sekolah sampai jam 10 malam. Begitu juga Richi di bawa olehnya selama Mila bekerja. Beruntung sekali pemilik warung sangat baik kepada Mila, yang memperbolehkan ia membawa Richi.


Malam itu, malam di mana Mila sangat lelah sekali. Richi terus saja menangis dan membuat Mila marah pada keponakannya.

__ADS_1


"Richi, cukup! Kenapa kamu terus saja menangis? Bibi pusing terus mendengar kamu menangis," keluh Mila.


"Sebentar lagi ada ujian semester. Bibi harus belajar, Richi. Kamu diam sebentar, ya ..."


Tapi Richi memang sedang mengujinya malam itu. Mila yang sudah lelah bekerja, Richi mengalami demam tinggi. Kebetulan malam itu pak Sugi dan bu Mal sedang tidak ada di rumah. Mau ke rumah pak lurah juga tidak mungkin.


"Richi!"


"Tak bisakah kamu diam sebentar saja?"


"Aku tuh, capek, pusing. Kenapa sejak tadi kamu terus saja menangis? Apa maumu?"


"Susu tak mau, digendong terus saja menangis,"


Malam itu kebetulan hujan deras. Sudah saking lelahnya Mila mengurus bayi dan harus menjalani hidupnya sebagai seorang pelajar. Setan telah menguasai pikirannya. Dia menggendong Richi dan membawa semua pakaiannya keluar dari rumah di kala hujan deras mengguyur.


Sepeda yang ia kayuh, terhenti di sebuah gedung kecil yang ada papan namanya, 'Panti Asuhan Kasih Bunda'. Yah, malam itu Mila membawa Richi ke panti asuhan dengan pikirannya yang kacau.


Tatapan mata yang tajam menatap panti asuhan, kemudian menatap keponakannya yang masih menangis di gendongannya, terlihat jelas jika gadis ini memang sedang kena mentalnya. Apa yang ia alami, sudah membuat gadis ini tak bisa berpikir dengan jernih.


"Kamu tinggallah di sini. Maafkan aku Richi, kak Maya, tapi aku sudah lelah dengan semua ini," ucap Mila lirih.


Dengan tega, Mila meninggalkan Richi di depan gerbang panti asuhan. Richi si bayi tunanetra hanya bisa menangis merasakan bahwa dirinya benar-benar sudah dilepas oleh Bibinya. Bayi ini semakin keras menangis, lalu kelelahan dan akhirnya tertidur.


Setengah jam Mila meninggalkan Richi di depan panti asuhan tersebut. Tapi ketika Mila sudah mau memasuki gapura desanya, ia baru tersadar jika yang ia lakukan itu adalah salah.


"Astaga, apa yang aku lakukan ini?"


"Bagaimana jika pengurus panti tidak segera membuka pintu? Ini masih hujan dan Richi ..."

__ADS_1


Sepedanya berhenti, ingin kembali tapi bimbang, ingin lanjut pulang dan tidak peduli, tapi malah semakin sakit hati. Setelah mengingat enam bulan ke belakang, bagaimana rasa tidak mudahnya merawat Richi sekaligus mencarikannya kebutuhan, akhirnya naluri sebagai seorang ibu dan hati nuraninya mulai mengalahkan amarahnya.


"Ash, sial!"


Mila kembali ke panti asuhan dengan mengayuh dengan cepat, tidak peduli sesakit apa wajahnya kena air hujan. Sesampainya di panti asuhan, Mila masih melihat Richi ada di sana. Kali itu bajunya basah kuyup karena hujannya disertai angin dan Richi tetap basah.


"Richi, Richi ..."


"Richi, bangun, Nak__"


"Richi!"


Tidak tahu Richi ini tertidur atau pingsan, tanpa berpikir panjang lagi, dia membawa Richi ke rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dengan mengayuh sepeda tuanya.


"Apa yang aku lakukan? Aku meninggalkan bayi berusia 7 bulan di depan panti asuhan dengan kondisi hujan deras disertai angin?"


"Wanita macam apa aku ini. Kenapa aku sampai begitu tega?"


"Richi, maafkan Bibi. Maaf kan Bibi yang tega meninggalkan kamu, Richi—"


Setelah memakan waktu setengah jam, akhirnya Mila sampai juga di rumah sakit. Malam itu, pukul dua pagi Mila membawa Richi. Pihak rumah sakit sampai terharu dengan perjuangan yang Mila lakukan.


"Suster, tolong keponakan saya. Tolong, cepat!"


"Saya tidak tahu dia pingsan atau tidur. Tapi dia tidak bangun sejak tadi. Ini, saya juga membawa baju untuknya. Tolong gantikan bajunya juga. Suster, tolong ...."


Perawat di sana sangat cekatan. Tidak membedakan pasien dan segera memberikan perawatan kepada Richi. Sementara Mila masih mondar-mandir di depan IGD berharap keponakannya baik-baik saja.


Sakit hati karena seketika dirinya berubah menjadi monster jahat, membuat Mila tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi hal buruk bagi Richi. Mila terus saja menyalahkan dirinya sampai ia lupa mengabari Sony dan juga bu Lurah.

__ADS_1


__ADS_2