
3 hari berlalu. Selama itu, tidak ada pengajian atau acara apapun atas meninggalnya Maya. Hati adik mana yang tidak sakit menghadapi kenyataan pahit itu. Maya benar-benar tidak dianggap di desa itu. Malahan, banyak sekali yang selalu membicarakan keburukannya, padahal orang yang mereka bicarakan juga sudah tiada.
Malam ketiga kepergian Maya, Mila terlihat termenung sendirian di teras rumah. Ditemani dengan segelas teh hangat dan juga biskuit coklat kesukaannya. Masih terbayang betapa indahnya masa kecilnya bersama dengan sang kakak.
"Woy!"
Lamunan Mila terpecah karena kedatangan Sony yang mengagetkannya. "Sony!" teriak Mila kesal. "Kenapa kamu suka sekali mengagetkan aku?"
"Habisnya, malam-malam begini bengong di depan rumah, mana sendirian lagi," kata Sony, duduk di bangku sebelahnya. "Kalau kesurupan, bagaimana? Bisa berabe," imbuhnya.
Mila menuangkan teh dari teko yang ada di atas meja. Kemudian, memberikan teh tersebut kepada Sony. Keduanya memang sudah sedekat itu karena sejak kecil juga selalu bermain bersama.
"Kenapa, sih?" tanya Sony.
"Aku hanya merasa kasihan saja dengan Kak Maya. Dia meninggal, tanpa jelas kematiannya karena apa. Lalu, tidak ada pengajian dan juga acara apa gitu untuk kematiannya," ungkap Mila, menghela napas panjang.
"Takdir. Jika memang sudah ditakdirkan, kita mau berbuat apa lagi?" celetuk Sony, menyeruput tehnya.
Setelah berbincang-bincang, Sony mengajak Mila untuk belajar bersama. Sebenarnya Sony juga tidak suka belajar. Tapi, demi mengalihkan kesedihan Mila, dia pun rela melakukan hal yang tidak disukainya.
"Belajar, yuk!" ajak remaja bersuami 17 tahun ini.
"Tumben?" sahut Mila.
"Hash, sudahlah. Ayo kita mulai belajar. Lihat, aku sudah membawa buku-bukuku," Sony menunjukkan tas hitam miliknya.
Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, Mila pun mengiyakan ajakan Sony. Mereka mulai belajar karena keduanya sedang ikut kursus menggambar. Tes akhir semester yang sudah berakhir. Tapi keduanya tetap melanjutkan kursusnya untuk menambah pengalaman supaya bisa berguna di suatu saat nanti. Apalagi antara Sony dan juga Mila memiliki keinginan membuka sebuah toko pernak-pernik furniture rumah minimalis modern.
__ADS_1
Di saat keduanya sedang sibuk datanglah Ria dengan dua orang pria yang memiliki tubuh kekar. Ria begitu takut ketika bertemu keduanya di jalan tadi.
"Mila!" teriak anak remaja lucu itu.
"Mil, noh. Kamu ada yang nyari!" tunjuk Ria kepada kedua pria itu.
"Siapa mereka?" tanya Sony.
Ria menggeleng kepala. "Aku juga tidak tahu. Tadi aku bertemu dengan mereka ketika aku mau ke sini. Mereka bertanya di mana rumahnya Kak Maya," jawab Ria sambil mengatur nafasnya.
Kedua pria itu pun berdiri di depan rumah Mila. Satu diantara dua pria itu menggendong seorang bayi dan dengan entengnya menenteng stroller yang berukuran tidak kecil.
"Apa kamu adiknya Maya?" tanya seorang pria yang tidak menggendong bayi.
"Iya," jawab Mila lirih. Tentu saja Mila mengangguk karena takut kedua pria itu tidak mendengar suaranya.
Mila, Sony dan Ria saling menatap. Mereka tidak tahu apa yang dimaksud boleh kedua pria bertubuh kekar yang berdiri di depan mereka. Hal penting yang ingin dikatakan Rio membutuhkan orang dewasa sebagai saksi. Rio meminta orang tua Sony datang ke rumah Mila. Dengan cepat, Sony berlari ke rumahnya sampai larinya terbirik-birik karena saking takutnya.
"Si-silahkan duduk," kata Mila, mempersilahkan kedua pria itu untuk duduk.
Pria bernama Juno, tidak terlihat garang seperti Rio. Kedua pria yang berusia 28 tahun itu adalah teman Maya ketika mereka bekerja di salah satu club' malam. Keduanya adalah kenalannya Maya sejak 5 tahun silam. Jadi memang hubungan ketiganya sudah sangat erat. Bahkan sampai Rio, juga Juno pun mau membantu Maya dengan menyembunyikan bayinya dari Danu dan juga keluarganya.
"Kalian berdua tidak perlu takut kepada kami. Jadi, untuk apa kalian berdiri sangat jauh dari kami? Jika ada orang yang melihat, apa yang mereka pikirkan tentang kami?" suara Juno ternyata lebih lembut dari Rio.
Ria menelan ludah. Sebenarnya sejak awal pertemuan, Ria ini sudah terpana dengan Juno. Tapi, karena Rio terus berada disampingnya, membuat Juno terlihat ikut garang juga.
"Lihatlah, sebenarnya yang gendong bayi itu wajahnya lumayan cakep. Tapi sayangnya dia memiliki codet di pipinya," Ria berbisik kepada Mila.
__ADS_1
"Hush, kamu ini kalau ngomong—"
"Apa? Memangnya aku berkata salah? Buka matamu wahai adinda ..." Ria langsung memotong ucapan Mila. Lalu, melebarkan mata Mila supaya bisa menatap Juno.
Memang di sebelah pipi kiri Juno terdapat bekas luka yang lumayan terlihat. Luka itu membuat tampang Juno seperti garang dan juga menakutkan. Tapi overall Juno masuk dalam kategori pria tampan. Suasana menjadi sangat canggung. Mila pun mempersilahkan keduanya untuk duduk terlebih dahulu. Terutama jodoh yang sedang menggendong seorang bayi kecil.
"Um, silahkan duduk, O-Om," kata Mila, dengan tangan mempersilahkan.
"Terima kasih," ucap kedua pria bertubuh kekar itu.
Mila dan Ria saling menatap. Keduanya tidak menyangka jika Juno dan Rio bisa mengucapkan kata terima kasih. Benar-benar sangat diragukan dengan penampilan yang seperti preman.
Tidak lama kemudian, datanglah Bu Mal dan juga Pak Sugi datang menemui Rio dan Juno. Pak Sugi dan Bu Mal sendiri juga merasa ngeri ketika bertemu dengan mereka. Tapi Pak Sugi dan Bu Mal memberanikan diri karena Rio dan juga Juno juga sopan kepada mereka.
"Baik, ada apa, ya? Kok, malam-malam seperti ini bertamu di rumah gadis yang sudah hidup mandiri," tanya Pak Sugi, dengan bahasa yang sedikit kurang dimengerti oleh semuanya yang ada di sana.
"Begini, Pak. Saya tidak mau basa-basi karena ini akan membuat waktu kita semakin lama tersita," Rio mulai membuka pembicaraan.
"Perkenalkan nama saya Rio. Ini teman saya namanya Jono. Kami adalah teman dari Maya Lessa. Seminggu sebelum Maya meninggal dunia, kami bertiga bertemu dan mendiskusikan sesuatu yang sangat penting," ucap Rio.
"Bayi ini adalah anaknya Maya dan kekasihnya yang tidak mau bertanggung jawab. Sebenarnya tidak sepenuhnya tidak mau bertanggung jawab. Hanya saja ..." ucapan Rio terhenti karena tidak kuasa ketika mengatakannya.
Namun, di sela-sela ketegangan itu Mila kalap. Rio belum menjelaskan semuanya, tapi gadis berusia 16 tahun itu berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam bayi yang ada di gendongan Juno. "Apa maksudnya ini? Sejak kapan Kak Maya hamil?" tanya gadis itu.
Pak Sugi meminta Bu Mal dan Ria untuk menenangkan Mila terlebih dahulu. Harus didengarkan dengan baik apa yang akan diungkapkan oleh Rio kepada mereka semua. Cobaan yang dihadapi Mila sungguh berat. Dari kehilangan sang ayah sewaktu dirinya masih kecil. Lalu, kehilangan ibunya ketika dirinya sedang membutuhkan hangatnya kasih sayang seorang ibu. Tidak lama, menyaksikan kakaknya sedang berbuat asusila di kamarnya sendiri.
Diusirnya sang kakak, sudah membuat pukulan keras bagi Mila setelah ditinggal kedua orang tuanya meninggal.
__ADS_1