
Ketika Maya berusia 10 tahun, Mila lahir di dunia. Waktu itu, neneknya masih ada dan selalu menjaga mereka berdua di saat kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ketika sang nenek hendak memandikan Mila, air yang dituangkan ke bak mandi masih panas, malah tersenggol tangannya dan mengenai tangan Maya. Mengakibatkan, Maya harus memiliki luka bekas tumpahan air panas di tangannya yang sampai dirinya dewasa tidak hilang.
Zaman sekarang, good looking adalah syarat juga untuk bekerja di sebuah perusahaan ataupun di tempat-tempat yang memang good looking sangat dibutuhkan. Ketika melihat tangan Maya, orang yang menginterviewnya, di kemudian hari pasti memberikan kabar bahwa Maya tertolak.
"Mila, aku pamit. Jaga rumah dan jangan pernah berbuat buruk di desa ini," tutur Maya kepada adiknya.
"Kak, Kenapa aku tidak ikut Kakak saja? Aku janji, aku tidak akan menyusahkan Kakak. Bawa aku bersamamu juga, Kak," Mila terus memohon.
Tatapan datar Maya itu membuat Mila perlahan melepaskan genggaman tangannya. Maya pun langsung pergi tanpa berpamitan dengan orang yang masih ada di sana. Akan tetapi, sebelum Maya pergi, Maya mengajak Mila untuk bicara berdua sebentar di kamar. Ada pesan yang sangat menyentuh bagi Mila untuk dikenang selalu.
"Aku mungkin tidak bersama lagi sekarang. Tapi, aku mohon padamu untuk jangan menangis ketika kau melihat langkah kepergianku. Ingat, Mila. Kita tidak mampu menutup mata dan telinga mereka dengan kedua tangan kita,"
"Jangan pernah buktikan bahwa dirimu adalah orang baik. Kamu tidak perlu pengakuan siapapun tentang kebaikan kamu yang pernah dilakukan. Apakah kamu masih ingat tentang aku yang menyumbangkan uang ke masjid? Lalu menghutangi beberapa ibu-ibu yang ada di desa terutama Desfi?"
"Saat aku terpuruk seperti ini, apa kamu tahu, tadi mereka menertawakan aku dengan senyum liciknya mereka. Mulai saat ini, Jangan pernah kamu lunakkan hatimu kepada orang-orang seperti mereka,"
"Mila, aku mungkin bukan contoh yang baik untukmu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi kakak yang paling baik untukmu di dunia ini. Jaga dirimu baik-baik ketika aku pergi nanti." tukas Maya.
Kata-kata itu masih Mila ingat dan mungkin akan selalu dia ingat. Nila sendiri tahu mengapa kakaknya bekerja di dunia malam menjadi kupu-kupu malam. Ada sesuatu yang terjadi antara Maya dan juga Desfi, wanita yang sebelumnya berteriak dan sangat bersemangat ketika Maya akan diusir dari desa.
Sekarang, dirinya hanya perlu bertahan hidup di rumah peninggalan orang tuanya dan menjaga amanah kakaknya. Mila mulai ikhlas dengan takdir hidup yang dia miliki.
Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Kejadian itu sudah berlalu 6 bulan yang lalu. Mila dan Maya juga jarang sekali berkomunikasi. Namun, Maya tidak pernah lupa memberikan uang kepada adiknya dalam setiap bulannya melalui Bu Nia, orang yang sangat mereka percayai.
__ADS_1
Bu Nia dan suaminya memang sangat baik kepada mereka. Mereka bukan saudara ataupun memiliki ikatan dengan keluarga Mila. Tapi memang Bu Nia sangatlah baik dan orangnya juga tulus. Beliau memiliki putra bernama Sony Kurniawan. Usianya sama dengan usia Mila. Kebetulan mereka juga satu sekolah dan satu kelas. Ketika berangkat dan pulang sekolah selalu bersama-sama.
"Mila, woy! Dah bangun belum, sih? Ayo buruan berangkat. Kita sudah terlambat ini. Hari ini terakhir tes semester akhir kita, loh!"
"Mila!"
Rumah Sony ini memang bersebelahan dengan rumahnya Mila. Setiap harinya mereka menghabiskan waktu bersama untuk belajar dan juga bermain. Meski ada beberapa warga yang mengingatkan kepada Bu Mia untuk menjauhkan Mila dari Sony, tetap saja keduanya masih lengket saja. Bu Nia juga memberikan kepercayaan kepada keduanya untuk menjaga persahabatan mereka. Apalagi menjaga dari suatu hal yang buruk, yang akan merusak citra keluarga dan juga desa.
Klek~
Pintu terbuka.
"Kamu kenapa berisik sekali, sih? Lagipula kita juga selalu berangkat jam segini 'kan?" kata Mila dengan ketus.
"Makin lama kamu tuh seperti nenek-nenek dan kakek-kakek yang selalu ngomel. Sudahlah, lagian kamu sendiri juga tahu kalau aku tuh tidak pernah bisa belajar sebelum tas dimulai. Malah nantinya aku jadi bingung, Sony!" sahut Mila.
"Ck, ayo!" Sony menarik tangan Mila dan memaksanya untuk segera naik ke motor miliknya.
Suara knalpot dari motor jadul itu terkesan memang suasana masih sangat jadul. Keluarga Sony ini bukan keluarga yang kaya. Tapi bisa dibilang memang kebutuhannya tercukupi.
"Motornya belum jadi ganti?" tanya Mila ketika di jalan.
"Masih sayang aja sama motor ini, Mil. Ini juga kan kesayangannya Bapak. Mana mungkin aku jual terus aku pakai buat beli yang baru," jawab Sony.
__ADS_1
"Ya, kamu kan bisa beli pakai tabungan kamu sendiri. Lagian, Bapak kamu juga tidak mungkin lah mengizinkan kamu untuk menjual motor ini. Namanya motor kesayangan juga!" timpal Mila.
"Nanti saja kalau kita sudah kelas tiga, hahaha. Aku pasti akan membeli motor yang keren dah ...." ujar Sony, percaya diri.
Ketika mereka berada di lampu lalu lintas, ada seseorang yang membuang bekas botol mineral sembarangan sampai mengenai kepalanya Mila. "Aw!" jerit Mila.
"Kenapa, Mil?" tanya Sony panik.
Tanpa menjawab, Mila turun dari motornya Sony dan memungut botol mineral tersebut. Mila masih ingat siapa yang membuang sampah sembarangan itu. Gadis yang mandiri ini, kemudian menghampiri sang pemilik sampah dan melempar kembali botol mineral itu.
"Nih, aku balikin!" serunya. "Lain kali kalau malas untuk buang sampah di tempatnya, taruh tempat sampah di mobil anda! Dasar!" setelah berkata seperti itu, Mila kembali dan naik ke motor Sony.
Seorang pemilik dari botol mineral tersebut menjadi bingung. Karena sebenarnya yang melempar adalah kakaknya bukan dirinya. Kakaknya pun hanya tertawa karena adiknya yang menuai ganjaran dari kakaknya yang membuang sampah sembarang. Namun, kedua sang adik memotret wajah Mila untuk tanda pengingat jika dirinya kembali lagi ke Kota itu.
Sementara itu, lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Semua kendaraan pun melaju cepat tergesa-gesa supaya sampai di tujuan dengan tepat waktu. Dimanapun tempatnya, pasti ketika pagi hari jalanan akan macet dan ramai sekali karena banyak orang yang akan memulai beraktivitas.
"Kenapa kamu membuang botol itu ke orangnya? Bagaimana kalau botol ini kena orang lain?" tanya Sony.
"Orang seperti mereka itu sesekali harus diperlakukan dengan apa yang aku lakukan tadi. Mereka sombong sekali, bisa beli mobil, tapi tidak bisa membeli bak sampah yang bisa di taruh di mobil," ketus Mila.
"Hahahaha, bagaimana bisa sampah ada di mobil. Yang ada nanti mobilnya bau lah!" seru Sony.
"Tapi mereka juga salah karena telah membuang sampah ke jalanan seperti itu apalagi lampu merah. Untung saja aku yang kena. Coba kalau anak-anak atau bayi yang kena botol mineral itu," Mila semakin ketus.
__ADS_1
Sony hanya mampu diam dan mengalah saja karena tidak mungkin dirinya berdebat dengan seorang Mila. Gadis yang memang perih yang ini juga sangat pintar jika bicara. Pemikirannya yang sangat bijak ini yang membuatnya bisa mengekspresikan diri di manapun tempatnya.