
Suasana tenang menyelimuti waktu itu. Para guru masih belum menentukan keputusannya untuk Mila dan Richi di sekolah tersebut. Mereka harus tegas dengan peraturan, tapi juga kemanusiaannya membuat keraguan dalam diri mereka.
"Mila, kamu sudah berdiskusi sangat lama. Sayangnya, kami belum bisa memutuskannya. Tes ini sudah berakhir, bagaimana besok kita akan membuat polling dengan teman-teman yang lainnya," ucap kepala sekolah.
"Maksud Ibu, apa ya?" tanya Mila kurang paham.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa beliau membutuhkan suara siswa juga supaya tidak mengambil keputusan yang salah. Hari itu Mila di suruh pulang lebih dulu membawa keponakannya, lalu besok akan diadakan polling cepat untuk memutuskannya. Mila yang bingung, masih bertanya-tanya mengapa masih harus sampai mendengar suara para murid.
Di jalan, Mila meminta Sony memberhentikan motornya karena merasa jika pampers Richi mengembang besar.
"Son, berhenti dulu. Kita cari toilet umum deh. Aku merasa jika pampers Richi sudah penuh. Lagian juga dia belum minum susu, aku yakin dia pasti lapar," ucap Mila, pada Sony.
"Dia kan masih tidur, Mil. Udah biarin saja, minum susunya di rumah saja kenapa, sih?" protes Sony.
"Aku kasihan weh, dia harus segera ganti pampersnya. Jika seperti ini dibiarkan, bisa jadi iritasi tau!" jelas Mila.
Motor berhenti di sebuah pengisian bahan bakar, segera Mila membawa masuk Richi ke toilet dan mengganti pampersnya. Baru juga dua hari Mila menjadi ibu dadakan, tangannya sudah lemas seperti wanita yang sudah sering mengurus bayi.
"Oke, sudah selesai."
Setelah membuang pampers bekas, Mila segera keluar dari toilet. Ketika keluar dari area toilet, tak sengaja Mila bertabrakan dengan seorang pria, yang tidak lain adalah Danu, ayah kandung dari Richi.
"Aduh, hati-hati, dong, Pak. Apakah anda tidak melihat saya gendong bayi seperti ini?" tegur Mila.
Tanpa mempedulikan Mila, Danu berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Hish, dasar—" Mila hampir saja mengumpat.
Danu tidak sadar jika gadis yang ia tabrak adalah adik dari kekasihnya, Maya. Bayi itu juga adalah anak Danu dengan Maya. Namun, ikatan batin antara ayah dan anak tetaplah ada. Danu sempat berhenti sejenak dan menoleh ke arah Richi yang kala itu digendong oleh Mila.
"Kenapa aku merasa tertarik dengan bayi yang digendong gadis itu?" batin Danu. "Sialan, aku mulai kepikiran lagi dengan ucapan Maya yang telah menyembunyikan anakku!" dengusnya, melanjutkan langkahnya.
Danu belum tahu saja jika putranya mengalami cacat netra. Apa yang dialami Richi juga Danu mungkin tidak bisa menerimanya. Itu mengapa dua sahabat Maya tidak memberikan Richi kepada ayah kandungnya karena takut bayi itu tidak akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya dengan kondisinya yang kurang baik.
Detik demi detik berlalu. Malam telah tiba dan Mila kembali pusing mengurus keponakannya yang tiap malam menangis. Membuatnya terbangun dari tidurnya, dan harus begadang lagi. Pengalaman pertama itu membuat Mila mulai tertekan. Pikirnya, baru dua malam bersama dengan Richi saja sudah membuatnya pusing, dia berpikir jika nantinya bakal tidak bisa mengurusnya sampai besar.
"Haduh, diam, dong, Richi. Kenapa kamu terus menangis seperti ini? Kami jangan buat aku bingung, dong!"
"Richi, diam ya ...."
"Richi, kenapa kamu nangis terus, sih!"
Mila meletakkan Richi di ranjang begitu saja. Tangisan bayi itu semakin kencang, sampai membuat Mila bingung dan menangis. "Richi, sudah dong, jangan menangis lagi ..." pinta remaja itu dengan pasrah.
"Aku bingung jika kamu menangis terus seperti ini. Aku sudah memberimu susu, sudah mengganti popokmu, juga menggendongmu sebentar. Mengapa kamu masih menangis, sih?" air mata yang mengalir dari sudut mata Mila tidak bisa berhenti.
Tangisan Richi didengar oleh Sony malam itu. Ingin sekali bagi Sony membantu Mila mengurus Richi, sayangnya Mila sudah memberikan wanti-wanti supaya dirinya tidak datang ke rumah Mila tengah malam.
"Huh, tangisannya semakin keras. Bagaimana Mila bisa melarangku masuk ke rumahnya, sedangkan aku ingin sekali membantunya?" gumam Sony.
Remaja pria ini terus saja mondar-mandir di kamarnya dengan perasaan panik karena memang dirinya mengkhawatirkan teman sejak kecilnya itu. Alasan Mila menolak bantuan Sony juga bukan karena Mila tidak suka dibantu. Dia hanya keadaannya sudah berbeda saja dari dulu.
__ADS_1
Dahulu, keduanya masih kecil. Makanya bu Mal dan pak Sugi masih mengizinkan Sony dan Mila selalu bersama, bahkan sering sekali mandi berdua. Kini, Mila juga merasa dirinya sudah remaja dan setahun lagi sudah lulus SMA. Ia belajar dari kakaknya yang dimana usia segitu sudah harus membatasi diri dari siapapun juga termasuk Sony meski keduanya menjadi teman baik sejak kecil.
Namun Sony sendiri belum paham mengapa Mila banyak melarangnya saat itu. Apalagi Mila juga pernah mengatakan kepada Sony, jika dia tidak ingin nama kedua almarhum orang tuanya kembali tercoreng, sama seperti apa yang dilakukan Maya.
Pagi hari ketika hendak berangkat sekolah. Seperti biasa Sony menunggu Mila di depan rumahnya sambil duduk diatas motor. Tidak lama setelah dirinya menunggu hampir tujuh menitan, Mila keluar bersama dengan Richi digendongnya.
"Pagi," sapa Sony.
"Hm," jawab Mila singkat.
"Semalam Richi nangis terus, ya. Kenapa dia?" tanya Sony niat basa-basi.
Sayangnya, niat basa-basi Sony mendapat respon tidak baik dari Mila. Wajah remaja cantik itu menjadi kesal karena soalnya mempertanyakan apa yang sudah diketahui jika memang bayi itu akan kebanyakan menangis di malam hari.
"Aku salah bertanya, ya? Mukamu jadi ditekuk gitu, maaf deh ...." ucap Sony lirih.
"Kamu ... kamu sudah tahu kalau bayi itu memang akan sering menangis. Apalagi di waktu malam hari dan tepatnya di tengah malam. Memang harus masih ditanyakan lagi, hah? Apa kamu tahu menanyai aku dengan bagaimana kabarku tidurku malam ini, gitu?" desis Mila.
"Um, oke. Bagaimana kabarmu dan bagaimana tidurmu malam ini?" tanya Sony dengan senyuman terpaksa.
"Diam!" sentak Mila. "Sebagai kita berangkat ke sekolah karena hari ini adalah hari penting bagiku dan juga Richi." dengusnya.
Tidak ingin Mila semakin kesal, Sony langsung mengiyakan, menghidupkan motornya dan segera memacunya ke sekolah. Pak Sugi dan Bu Mal masih belum pulang, jadi tidak ada yang bisa bantu Mila saat ini.
Selama di jalanan desa, banyak sekali yang menatap Mila membawa keponakannya bersih beda motor bersama dengan Sony. Terutama ibu-ibu yang sedang mengerubungi tukang sayur pagi itu. Ada yang tidak suka dengan hadirnya keponakan Mila, anaknya Maya, tapi ada juga yang iba dengan nasib Mila saat itu. Mereka mulai berbisik tentang Mila yang negatif dan juga positif. Terlebih lagi dengan Desfi yang sangat membenci Mila, mulai menghasut ibu-ibu yang ada di sana.
__ADS_1