
"Astaga, aku kalau jadi Mila, males juga mau merawat anak haram dari kakaknya. Maya juga mau enaknya aja, malah membebani adiknya untuk merawat anaknya," ucap salah satu ibu-ibu di sana.
"Benar juga, ya. Di mana ayahnya, kenapa malah tidak keluar dari ayahnya saja yang merawatnya. Bukankah biasanya orang itu kan senang punya anak laki-laki?" sahut yang lain.
Desfi pun gatel bibirnya ingin menyahut. "Halah. Mana mungkin ayah dari anak itu mau menerima bayi yang cacat. Anaknya Maya kan buta, ceria tidak ada masa depan dong. Untuk apa merawat anak yang cacat netral seperti itu. Kalau aku sih, ogah!"
Tidak hanya menghina Richi sebagai bayi yang memiliki kekurangan fisik, Desfi juga menceritakan keburukannya Maya sampai berlebihan. Hal itu sangat membuat Bu Lurah tidak tahan dan lebih memilih untuk segera pergi dari tukang sayur di situ.
"Ibu-ibu, sudah lah, sebaiknya kalau kita tidak bisa membantu Mila merawat anak dari kakaknya, alangkah baiknya kita tidak membicarakan keburukan tentang mereka," ucap Bu Lurah. "Saya pamit ya, sudah selesai soalnya. Mari ibu-ibu ...."
Desfi menatap Bu Lurah dengan sinis. Kembali wanita ini memulai drama lagi membicarakan tentang kejelekan Maya.
"Halah, Bu lurah ini, loh. Beliau itu kan hanya teman dekat dari ibunya Maya saja. Selalu saja belain Maya seperti anaknya sendiri," ucap Desfi dengan bibirnya yang manyun.
"Iya, benar. Mentang-mentang anaknya dulu pernah menyukai Maya, ya jadi selalu bilangin Maya. Kalau gitu kenapa Bu Lurah nggak ngerawat anaknya Maya saja," sahut yang lainnya.
"Siapa juga yang mau ngerawat anak cacat seperti itu. Iya saja tidak bisa melihat dunia, bagaimana bisa menjadi anak kebanggaan." imbuh Desfi dengan kebenciannya.
Ada hal yang membuat Desfi begitu mencium Maya ketika dulu mereka berdua masih menjadi sahabat. Masalah itu masih belum terungkap mengapa keduanya menjadi berselisih dan tidak dekat lagi seperti dulu. Tapi Desfi selalu saja menceritakan tentang keburukan Maya. Tak tanggung-tanggung dia juga selalu memfitnah Maya yang bukan bukan.
***
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, seluruh siswa menatap Mila dan juga keponakannya yang saat itu baru saja turun dari motornya Sony. Berita tentang Mila yang membawa seorang bayi ke sekolah sudah tersebar, anak hasil diluar pernikahan kakaknya itu membuat Mila menjadi cemoohan beberapa siswa di sana. Tapi tidak sedikit juga yang menaruh rasa iba kepadanya.
"Mila, kamu yang sabar ya. Meski keponakan kamu ini tunanetra, kamu pasti akan menjadi Ibu sambung yang baik untuknya," salah satu siswi di sana memberikan Mila semangat.
"Iya, Mila. Kita pasti akan memberikan suara yang terbaik untuk kamu. Jika memang tidak ada yang merawat bayi ini, maka tidak ada salahnya jika kamu membawanya ke sekolah," ucap yang lain.
Mila merasa terharu karena ada teman-temannya yang memberikan semangat untuknya. Apalagi merasa tidak risih ketika dirinya membawa seorang bayi ke sekolah. Pada dasarnya memang Richi tidak rewel ketika dibawa ke sekolah sejak kemarin.
Meski Mila sudah disambut dengan ucapan baik dari beberapa temannya, ada juga yang merasa tidak suka kepada Mila karena membawa bayi di sekolah. Namanya Vera dan Dilla. Keduanya ini seangkatan Mila dan memang tidak menyukai Mila sejak pertama kali masuk ke sekolah. Mereka selalu saja mencari-cari kesalahan Mila dan mencaci jika Mila terbukti salah.
"Kamu jangan merasa senang dulu, Mila. Aku tidak akan mungkin membiarkan seorang siswa merusak reputasi sekolah dengan membawa bayi ke sekolah," ujar Vera menghampiri Mila.
Melihat kedatangan Vera dan juga Dilla, Sony langsung menjadi garda terdepan supaya keduanya ini tidak membuat Mila semakin stress karena Mila sudah dihadapkan dengan merawat bayi yang belum pernah Mila lakukan sebelumnya.
"Kalian berdua kalau tidak menyukai Mila, lebih baik jangan mencari masalah dengannya. Kalian juga bisa tidak memberikan suara baik kepada Mila dan bayi ini pun, tidak mempengaruhi kita," desis Sony.
"Heh, miskin. Cuma anak tukang karpet saja berlagak. Itu baik juga cacat, akan ada baiknya itu baik ada di panti asuhan," cetus Vera dengan tatapannya yang menohok.
"Apa katamu? Katakan lagi, Ver," Mila tidak terima dengan pernyataan Vera. "Meskipun keponakan aku ini cacat, apakah dia merugikanmu? Tidak 'kan?"
Di antara Mila dan juga Vera terlibat perdebatan yang dibumbui oleh Dilla. Beberapa teman yang menyanjung Mila tadi memilih untuk menjauh saja daripada akan terkena masalah juga. Keributan itu membuat Richi terbangun, menangis dan sulit untuk ditenangkan. Hal itu membuat Vera semakin kesal.
__ADS_1
"Oh, astaga. Berisik sekali, Mila. Bawa bayi sialan ini menjauh dariku!" teriak Vera.
"Apa katamu?" Mila tidak terima.
"Bayimu ini berisik sekali. Cepat bawa pergi sana. Bayi itu menjijikkan!" imbuh Dilla.
"Kalian berdua mulutnya memang ... tenangkan dia dulu Son, kau akan mengurus dua manusia bermulut sampah ini!" Mila memberikan Richi kepada Sony, tapi sayangnya, ketika Sony hendak menerima Richi, kepala sekolah datang dan menegur mereka.
Kali itu hanya Vera dan Dilla saja yang dihukum karena tidak mungkin bagi kepala sekolah menghukum Mila. Kepala sekolah dari kejauhan sudah tahu siapa yang memulai keributan terlebih dahulu. Tentu saja Vera dan Dilla tidak terima karena mereka merasa melakukan itu karena dipancing dulu oleh nilai yang membawa bayi ke sekolah.
"Pak, nggak bisa gitu dong! Kita ini kan protes karena demi kebaikan sekolah ini juga," protes Vera.
"Iya, Pak. Di luar sekolah juga mungkin tidak semua orang tahu siapa orang tua dari bayi ini 'kan? Coba bapak bayangkan, bagaimana kalau suatu hari nanti ada jurnalis yang membuat berita tentang seorang siswi yang melahirkan bayi tanpa bapak di sekolah ini? Coba bapak pertimbangan lagi deh," timpal Dilla.
Kepala sekolah tetap tidak terpengaruh oleh perkataan dari Vera dan juga Dilla. Bagaimanapun juga beliau sudah melakukan riset kemarin dan memastikan bahwa Richi benar-benar anaknya Maya, bukan Mila. Dari sana, membuat Vera dan juga Dilla merasa tidak adil perlakuan kepala sekolah.
"Ver, aku merasa jika kepala sekolah ini memiliki hubungan khusus dengan Mila," Dilla memprovokasi Vera supaya Vera semakin membenci Mila.
"Tidak hanya kepala sekolah saja, Ver. Bahkan wali kelas kita saja berpihak kepada Mila. Kita juga tahu story kakaknya Mila itu apa 'kan? Aku yakin banget kalau Mila ini mengikuti jejak kakaknya menjadi seorang wanita malam!" tegas Dilla.
Pernyataan Dilla memang masuk ke telinganya Vera. Tapi Vera tidak ingin menambah masalah hanya karena memikirkan tentang masalah Mila dan hubungan guru-guru di sekolah. Vera hanya ingin Mila mendapat pelajaran minimal dipermalukan di sekolah dan sampai keluar dari sekolah.
__ADS_1