Perfect Mom (Aunt)

Perfect Mom (Aunt)
Usaha Mila


__ADS_3

Desfi menatap bayi itu dengan tatapan menghina.


"Apa kamu bilang tadi? Bayi ini buta? Lalu kamu ingin aku mengurusnya ketika kamu tinggal sekolah?" tanya Desfi dengan pandangan mata yang tidak mengenakkan.


Mila mengangguk penuh harap.


"Dih, najis!" ujar Desfi.


"Kamu meminta tolong kepadaku mengurus bayi yang lahirnya hasil dari zina? Bisa-bisa aku malah ikutan sial lagi. Dia aja lahir pembunuh ibunya, bagaimana dengan aku yang mengasuhnya?" Desfi lagi-lagi menghina.


"Apa katamu?" Sony menyulut.


"Anak kecil, diam kau! Lebih baik kalian bawa saja dia ke panti asuhan. Lagian kalian juga masih sekolah sok-sokan ngurus bayi. Sudahlah, baru saja di panti asuhan biar nanti ada yang mengadopsi dan syukur saja kalau ada yang mau adopsi," lanjut Desfi, memalingkan pandangannya.


Tanpa mengatakan apapun, Mila langsung pergi membawa Richi. Hatinya begitu terluka ketika mendengar ucapan Desfi itu. Disusul lah oleh Sony yang bingung karena Mila pergi begitu saja. Sementara itu, Desfi tersenyum puas karena ucapannya.


"Desfi, tidak baik kamu bicara seperti itu. Mau bagaimanapun juga begitu tidak bersalah, bayi itu masih murni dan suci," tegur salah satu ibu Lurah yang ada di sana.


"Aduh, astaga Bu Lurah. Semua orang pasti sudah tahu Maya itu semasa hidupnya seperti apa. Jadi siapa yang mau merawat bayi itu, mana bayinya juga cacat lagi!" ketus Desfi.


Bu Lurah memang tidak suka yang nanya perdebatan. Beliau pun meninggalkan kumpulan ibu-ibu yang sedang membeli sayur itu menyusul perginya Mila dan Sony.


Sementara itu, Mila menangis karena ada orang yang begitu tega mengatakan keburukan tentang keponakannya.


Hiks, hiks hiks ...

__ADS_1


"Mila, kamu menangis?" tanya Sony lirih.


Mila terkejut dengan hadirnya Sony di sisinya. "Ini sudah jam berapa? Sebaiknya aku bawa saja Richi ke sekolah."


"Apa? Kamu sudah gila ya? Bagaimana bisa dia ikut bersama kita sekolah? Nanti yang ada malah kami nggak boleh masuk kelas dan nggak boleh ikut tes akhir tahu!" tegas Sony terkejut.


Sangat frustasi karena waktu juga sudah mepet, Mila memaksakan diri untuk membawa keponakannya ke sekolah bersamanya. Bu Lurah yang sebelum menyusul, tidak bisa mengejar Mila dan Sony karena mereka sudah naik motor lebih jauh.


Selama di jalan menuju sekolah, Mila terus berpikir bagaimana cara bicara dengan para guru dan wali kelasnya tentang keponakannya. Membuat Mila hanya diam saja, padahal sebelumnya, Mila selalu banyak cerita ketika di atas kendaraan.


Mengingat kembali tentang kakaknya yang pergi dengan tragis, membuat Mila semakin down saja. Membuat butiran bening mengalir dari sudut matanya dan menetes ke pipi keponakannya yang merah merona.


Benar saja apa yang dipikirkan oleh Mila akhirnya terwujud. Sepasang mata yang berjumlah lebih dari satu sedang tertuju padanya dengan pasangan yang sinis, heran dan juga bingung. Namun, Mila terus saja melanjutkan langkah kakinya menuju ke ruang guru supaya bisa memberikan keterangan mengapa dirinya membawa bayi ke sekolah.


Semua murid mulai bergeming, bahkan apa yang dikatakan mereka saja sampai terdengar jelas di telinga Mila. Tapi dengan sekuat hati dan tenaga, Mila berusaha acuh demi menjaga kewarasannya.


"Bu Lusi, apa saya boleh bicara dengan Bu Lusi?" tanya Mila kepada wali kelasnya.


Bu Lusi yang masih syok dengan apa yang terjadi di depannya itu mempersilahkan Mila dan Sony untuk duduk. Mira juga menginginkan para guru mendengarkan apa yang hendak ia katakan kepada Bu Lusi sebagai wali kelasnya.


Perlahan demi perlahan, Mila mencoba untuk menceritakan secara detail bagaimana dirinya sampai membawa bayi tersebut, yang tidak lain adalah keponakannya sendiri. Meski itu sangat menyakitkan bagi Mila karena harus mengingat apa yang terjadi kepada Maya, sang kakak, gadis berusia 17 tahun ini tetap mempertahankan supaya air matanya tidak menetes.


"Kenapa kamu tidak taruh saja ke panti asuhan, Mila. Sebenarnya kamu tidak keberatan dengan adanya bayi itu, apalagi kata beri itu juga memiliki suatu kekurangan," ucap kepala sekolah.


"Kami hanya takut, akan ada gosip-gosip yang tidak benar di luar sana tentang sekolah ini. Kami pihak guru juga masih memiliki hati nurani tentang kisah Kakak kamu yang sangat menyedihkan ini. Tapi ini sudah peraturan sekolah, mana boleh kamu membawa seorang bayi ke sekolah," lanjut kepala sekolah.

__ADS_1


Mila sampai harus memohon kepada kepala sekolah dan Bu Lusi selaku wali kelasnya untuk memberikan waktu sampai Mila mendapatkan pengasuh untuk keponakannya. Tepat hari itu adalah tes terakhir semester 2 untuk kelas sepuluh dan juga sebelas, maka beberapa guru dan kepala sekolah akan merundingkan sembari mengasuh bayi itu sampai tes berakhir. Sebab, masih ada guru yang lain yang menjadi pengawas dan melakukan tugasnya.


"Jadi, hari ini keponakan saya boleh ikut saya sekolah, Bu?" tanya Mila, tidak percaya.


"Hanya untuk hari ini saja, Mila. Kedepannya, kami akan mempertimbangkan lagi apa yang terbaik untuk kamu dan juga keponakan kamu ini," Bu Lusi sampai membelai wajah Richi dengan lembut.


Bu Lusi adalah guru yang terkenal sangat lembut dan penyayang. Beliau sudah menikah sekitar 25 tahun tapi belum dikaruniai seorang anak. Tapi memiliki dua anak asuh yang saat ini sudah kuliah semuanya. Tentu saja melihat bayi yang tidak berdosa itu pasti akan luluh hatinya.


Kebutaan yang dialami oleh Richi juga membuat sebagian guru menjadi iba. Mila diberi kesempatan untuk hari itu membawa Richi bersamanya. Tapi belum dibutuhkan untuk kedepannya bagaimana karena mengingat Mila masih harus sekolah 1 tahun lagi di sekolah tersebut.


Selama tes berlangsung, Richi sangat tenang dan tidak mengganggu para guru yang sedang berdiskusi. Sampai mereka bingung hendak memutuskan keputusan yang harus bagaimana terhadap Mila dan juga Richi.


Tes semester kedua berakhir dengan lancar. Sony berlari ke arah kelas Mila dan mengajaknya untuk ke ruang guru melihat Richi dan mendengar bagaimana keputusan yang hendak diputuskan oleh dewan guru.


"Mila!" panggilnya dengan berteriak.


Mila menoleh.


"Hei, apa kamu mau ke ruang guru?" tanya Sony basa-basi.


"Tentu saja, Son. Aku juga ingin mendengar apa yang diputuskan oleh dewan guru untuk Richi. Semoga saja keputusannya sangat adil bagiku untuk kelangsungan sekolahku setahun mendatang," harap Mila dengan raut wajahnya yang cemas.


Tak hanya Sony yang akan mengantar Mila ke ruang guru, Ria sebagai teman baik mereka berdua juga akan ikut serta karena merasa jika dirinya memang harus mendukung apa yang Mila lakukan selagi itu hal kebaikan.


"Aku ikut kalian, ya. Kenapa juga kalian tidak mengajakku, weh?" tanya si bawel Ria, mengemasi tasnya.

__ADS_1


Mereka bertiga memang melakukan tes semester tidak salam satu ruangan. Jadi Ria harus berlarian menuju ruangan Mila dan ikut serta ke ruang guru.


__ADS_2