
"Mila, kamu tenang dulu. Duduklah, jangan panik dan hadapi semuanya dengan tenang," pinta Pak Sugi, mengisyaratkan Mila untuk duduk.
"Tapi, Pak. Bayi ini … apa maksud dari semua ini coba?" Mila kembali sedih mengingat kematian kakaknya yang tragis.
Cobaan yang dihadapi Mila sungguh berat. Dari kehilangan sang ayah sewaktu dirinya masih kecil. Lalu, kehilangan ibunya ketika dirinya sedang membutuhkan hangatnya kasih sayang seorang ibu. Tidak lama, menyaksikan kakaknya sedang berbuat asusila di kamarnya sendiri.
Diusirnya sang kakak, sudah membuat pukulan keras bagi Mila setelah ditinggal kedua orang tuanya meninggal. Sekarang, dirinya harus dipertemukan dengan cobaan lagi.
"Anak ini mengalami kebutaan karena sakit panas dua minggu lalu. Tapi tidak ingin menjadi orang yang munafik. Jujur saja, kami keberatan mengurus anak ini karena dia cacat," ungkapan Rio membuat semua orang di sana tercengang, termasuk Mila.
"Cacat? Tunanetra? Tapi ...." ketika pak Sugi ingin menanyakan alasan lainnya mengapa Rio dan Juno menyerah bayi itu, dua pria bertubuh kekar itu langsung menyerahkan bayi tersebut dan langsung pergi.
"Eh, maksudnya apa ini? Tolong kalian jangan seperti ini!" seru pak Sugi.
Mila duduk lemas di bangkunya. Kemudian, Bu Mal yang menerima bayinya Maya mendekatinya. Dengan suara lembutnya, Bu Mal mengatakan kepada Mila jika dirinya mau membantu gadis itu merawat keponakannya.
"Mila, kamu tenangkan dulu hatimu, ya. Malam ini, biarkan bayi ini bersama Ibu. Kamu tidurlah lebih awal," ucap Bu Mal. "Kalian berdua juga. Besok kalian tes semester terakhir, 'kan? Ayo, istirahat dan kita akan bahas mengenai bayi ini lagi besok," imbuhnya.
Setelah Rio dan Juno pulang, bayinya Maya tetap berada di rumah Mila. Bu Mal dan suaminya tidak bisa membawanya pulang begitu saja karena mereka juga belum persiapan. Sony, sebagai dahaga Mila pun menyemangatinya untuk tetap bisa menerima keponakannya.
Pukul satu dini hari, bayi itu menangis kencang sampai membuat Mila terbangun. Segera Mila menguatkan susu untuk keponakannya supaya tidak menangis lagi.
"Aduh, bagaimana ini caranya? Oke, ada petunjuk penyajian disini—"
Mila membuatkan susu seusia dengan saran yang tertera di dus susu tersebut. Dia juga harus pergi ke dapur untuk memasak air. Langkahnya menjadi panik, tangannya menjadi latah karena suara tangisan bayi itu semakin keras.
Oeee ... oeee ...
Remaja ini sudah berusaha sebaik mungkin supaya bisa tepat waktu membuatkan keponakannya susu. Tangannya juga terkenal percikan air panas, jarinya juga tidak sengaja menyentuh panci panas. Membuatnya frustasi karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Ini, ini, ayo minumlah. Sudah, jangan menangis ..."
__ADS_1
Bayi itu terdiam ketika mulutnya penuh dengan dot botolnya. Namun, saat susu tersebut habis diminum olehnya, bayi itu menangis kembali, kali itu menangis lumayan cukup keras.
"Kenapa botolnya juga hanya satu? Aku kerepotan sendiri kalau seperti ini," Mila mulai panik lagi.
"Oke, kamu tunggu di sini. Aku akan membuatkan susu lagi untukmu." kata Mila, pergi ke dapur lagi.
Suara tangisan itu semakin keras. Ketika hendak menuang air panas ke botol, karena saking paniknya, tidak sengaja air panasnya mengenai kakinya.
"Ahh!"
"Hih, panas sekali,"
Butiran air bening mengalir dari sudut matanya. Ia hanya mengelapnya jika sesekali air itu menetes membasahi pipinya.
"Ini, minumlah. Tapi tolong kamu jangan menangis. Aku jadi bingung mau bagaimana lagi,"
Bayi itu malah menolak susu tersebut. Mila sudah berusaha membuat keponakannya minum, tapi tetap saja bayi itu tidak mau minum.
"Astaga, aku harus bagaimana? Kamu menangis, aku sudah membuatkan susu untukmu, tapi kamu tidak mau meminumnya," ujar Mila, mulai menangis lagi.
"Lalu aku harus bagaimana lagi? Kamu mau apa bayi?!"
Mila duduk di ujung kasurnya, tertunduk lesu karena dia tidak tahu bagaimana cara mengurus bayi. Malam itu, Mila hanya bisa menangis dan membiarkan keponakannya menangis juga.
Sekitar 10 menitan tangisan bayi itu tidak berhenti, Sony pun datang mengetuk pintu rumahnya. Sony datang membawa beberapa perlengkapan bayi yang dimiliki adiknya semasa masih hidup dulu.
"Sony? Untuk apa kamu datang?" tanya Mila, kala membukakan pintu ingin Sony.
Sony memperlihatkan apa yang dia bawa. Kemudian main masuk saja ke rumah sebelum Mila mempersilahkannya. Hal itu semakin membuat Mila marah saja, keadaannya sedang buruk malah Sony datang begitu tanpa permisi.
"Sony, kenapa kamu main masuk aja, sih? Kalau ada orang yang salah paham bagaimana? Jam berapa ini, heh?!" kesal Mila.
__ADS_1
"Halah tenang saja. Jam segini juga tidak bakal ada orang yang tahu. Lagipula kita juga tidak ngapa-ngapain. Kenapa harus takut?" Sony berkilah.
"Astaga, Sony. Ini bukan masalah kita nggak ngapa-ngapain. Ini tentang norma dan etika. Orang juga bakal curiga jika kita berduaan seperti ini di rumah." tegas Mila.
Semakin Mila melarang, Sony malah semakin nekat. Dia malah beralasan bahwa tidak akan ada yang tahu dan dirinya hanya akan sebentar di rumah Mila. Sony juga mengatakan jika dengan menutup pintunya saja sudah berarti aman.
"Apa katamu?" Mila sudah emosi.
"Kamu bilang kita akan aman jika pintu ditutup? Kamu ini waras atau gila, Son?"
Sony menjadi heran kenapa sahabatnya itu menjadi marah kepadanya. Jarang sekali bila bisa marah kepada Sony karena memang Mila tahu Sony itu orangnya yang bagaimana.
"Kamu kok, gini? Nggak seperti biasanya deh, kamu marah-marah seperti ini padaku." Sony masih menguji kesabaran Mila.
Mila menghela nafas kasar. Lalu mengusir Sony dan memintanya untuk tidak datang malam-malam lagi dikemudian hari. Mila membanting pintu dengan kasar, kemudian berjongkok di balik pintu dan menangis.
"Mil, kamu kenapa, sih? Bayi itu menangis dan aku hanya ingin membantumu saja. Tidak lebih!" Sony masih berusaha.
"Pulanglah, Son. Aku bisa mengurus bayi itu sendiri. Lebih baik kamu pulang karena besok kita masih ada tes akhir. Pergilah, Son!" usir Mila.
Mila kembali menangis. Dia masih belum siap dengan apa yang terjadi kepadanya. Meninggalnya sang kakak dan juga meninggalkan seorang bayi membuat Mila pergi itu frustasi. Belum berjalan seminggu saja, Mila sudah merasa terbebani dengan adanya bayi itu.
Suara tangisan bayi itu kembali terdengar keras. Mila menghampirinya dan berusaha untuk mencari tahu kenapa keponakannya itu terus-menerus menangis, padahal dirinya sudah memberikan susu kepadanya.
"Bayi, kamu kenapa menangis terus, sih? Aku juga mau istirahat, besok masih ada tas terakhir yang harus aku jalani," Mila sampai melemah suaranya.
"Kumohon berhentilah menangis dan lekaslah tidur lagi. Please, jangan menangis lagi, bayi ...."
Wajah Mila tersentak di sisi tubuh bagian keponakannya. Kemudian merasa ada bau-bau yang menyengat dari arah sana. Mila yang penasaran itu pun mengecek bau apa yang muncul dari arah tubuh bagian belakang keponakannya itu.
"Bayi, jadi kamu pup ...."
__ADS_1