
Araa merenung di balkon kamarnya, menatap indahnya rembulan yang bersinar tepat di atasnya
Terbayang kembali diingatannya ketika dirinya berkunjung ke rumah mertua.
Bukanlah sambutan hangat yang Araa terima tapi sikap dingin dan acuh dari mertuanya.gak ada yang menganggap kehadirannya sama sekali waktu itu.
Lain halnya ketika Haeun yang berkunjung,mereka menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita,memasak berbagai macam masakan lalu menyiapkan kamar khusus untuk Haeun dan Jay.
Ya,mertuanya dengan senang hati membiarkan Jay dan Haeun satu kamar tanpa status pernikahan.
Sungguh lucu memang,bukannya memarahi dan mengingatkan anaknya status pernikahan tapi malah mendukung perbuatannya.
Hal besar apa yang sudah Haeun lakukan pada mertuanya?apakah materi benar-benar bisa membeli harga diri mereka?
Apakah salah Araa jika dia gak bisa memberikan cucu?walaupun hasil tesnya menunjukkan bahwa Araa subur.
Lalu kenapa Jay gak mau diperiksa?apakah selama ini Jay yang mandul?makanya dia menolak untuk diperiksa karena takut semua orang tau.
Tapi,waktu itu bukankah Haeun bilang dia sedang mengandung anak Jay?lalu siapa yang mandul disini sebenarnya?
"sedang apa disitu?"
Kedatangan dokter Chen gak lagi membuat Araa terkejut.
Sepertinya Araa sudah terbiasa dengan kedatangannya yang selalu tiba-tiba bahkan langkah kakinyapun gak terdengar.apa mungkin dia melayang?
"sudah makan malam?"
Araa mengacuhkan pertanyaan dokter Chen dan tetap berdiam diri ditempat semula.
Hatinya masih merasa sakit dengan ucapan dokter yang satu ini.
"hah....apa nona Min Araa Shim marah?"
Araa tetap gak bergeming hanya melirik sekilas lalu duduk dan kembali menatap ke atas langit.
"hah.... sepertinya aku harus habiskan minuman ini sendirian"
Ucapnya sambil duduk disamping Araa dan meletakan dua botol soju di atas meja.
"hah....mau pamer?kenapa gak minum di tempat lain?"
Araa ketus.
"kalau gak mau ya sudah,aku mau bawa pulang"
__ADS_1
Araa menarik tangan dokter Chen.
"apa aku boleh minum?"
Mata Araa penuh harap.
"memangnya kamu pikir aku bisa habiskan ini sendirian?"
"aah kak dokter memang sangat pengertian"
Araa langsung merampas botol yang hendak dokter Chen bawa.
Disaat seperti ini minum memang hal yang bagus untuknya.
Hari ini Araa merasa sangat kacau,dia masih gak percaya atas apa yang terjadi.
Bagaimana bisa dia berada di tahun 2020?
Apakah ada lubang yang menariknya ke tahun ini?
Setelah kepalanya terbentur kerasa gak ada satu ingatanpun dibenaknya selain bayangan gelap.
Kali ini dokter Chen membiarkan Araa minum bukan tanpa alasan,dia tau kalau saat ini suasana hati Araa sedang gak baik.
"dokter apa kamu percaya reinkarnasi atau semacam teleportasi?"
Tanya Araa mulai melantur,padahal dia baru meneguk dua sloki.
"entahlah,memangnya kenapa?"
Dokter Chen menatap Araa.
Araa mendekatkan wajahnya dan terus berusaha membelalakan matanya yang menyipit.efek alkohol sudah mengendalikan tubuhnya.
Dokter Chen mencoba menahan tawa melihat kelakuan Araa.
Entah apa yang terjadi padanya?tapi apapun yang Araa lakukan selalu bisa membuatnya bahagia.selama ini dia sudah cukup tertutup dengan wanita manapun,perlakuannya terhadap pasienpun ada batasannya tapi terhadap Araa dokter Chen sendiri gak tau kenapa dia memperlakukan Araa sangat spesial bahkan Araa bukanlah pasiennya.mereka juga baru bertemu beberapa kali.
"awalnya aku gak percaya apa itu teleportasi tapi aku yakin yang menimpaku hari itu adalah teleportasi.aahh....apakah aku punya kekuatan tersembunyi? jangan-jangan aku seorang pahlawan yang akan menyelamatkan dunia?apa aku bukan wanita biasa?haahh Jay pasti akan merasa bersalah karena sudah meninggalkanku demi wanita pelacur itu,dia pasti menyesal sekarang.tapi aku gak bisa balas dendam.hiks hiks....orang tuaku selalu mengajarkan aku untuk menjadi wanita yang baik dan sabar,aku gak boleh dendam sama siapapun dan aku gak boleh membalas perbuatan orang lain padaku,ibuku bilang segala perbuatan itu akan ada balasannya.tapi mereka juga sudah keterlaluan padaku masa aku diam saja,aku juga harus mendorong wanita itu ke meja biar dia tau bagaimana sakitnya"
Araa terus nyorocos gak karuan dan dokter Chen hanya bisa menjadi pendengarnya saja agar Araa merasa lebih tenang karena bisa meluapkan semua unek-unek dipikirannya.
Sesekali Araa menangis disela ocehannya lalu marah-marah kembali.
Selain dirinya sendiri mungkin gak akan ada lagi yang mengerti tentang apa yang Araa rasakan saat ini.
__ADS_1
"ayo tidur,kamu sudah mabuk"
Araa menepis tangan dokter Chen.
"siapa yang mabuk?aku gak mabuk kok,aku baik-baik saja hanya saja hatiku masih sakit,sakit sekali.apa dokter mau membalaskan dendamku?"
"ayo masuk"
Dokter Chen terpaksa menggendong tubuh Araa dan membawanya masuk.
Araa terus memberontak tapi kekuatan wanita mabuk tentu bukanlah apa-apa.
"tolong balaskan dendamku ya,aku kan gak boleh balas dendam.sebenarnya dimana ayah dan ibuku?apakah mereka baik-baik saja?selain mereka aku gak punya siapa-siapa lagi"
Perlahan dokter Chen meletakan tubuh Araa diatas tempat tidur lalu menyelimutinya.
"DOKTER...."
Araa meraih kerah kemeja dokter Chen hingga membuatnya hampir terjatuh menindih tubuhnya,untunglah kedua tangannya bisa menopang bobot tubuhnya.tapi wajahnya sekarang sangatlah dekat dengan wanita yang ada dibawahnya.
Deg Deg
Jantungnya berdebar hebat, seketika otaknya seakan gak berfungsi,kata hatinya seakan mendorongnya untuk mencium bibir yang ada dihadapannya itu
Glek
Tenggorokannya terasa kering,hingga membuatnya sulit untuk menelan ludah.
"aku tau dokter orang baik tapi dokter bisa menyuntik mati Haeun dan Jay pura-pura saja kalau itu kesalahan"
Araa mencolek hidung dokter Chen yang terpaku menatapnya.
"tolong carikan ayah dan ibuku,aku mau bertemu mereka,aku sangat......"
Perlahan cengkraman tangan Araa melemah,dia tertidur.
"bagaimana bisa pikiranku sekotor itu,ciihh...."
Dokter Chen segera memalingkan wajahnya.
Ditatapnya wajah polos Araa yang terlelap seperti bayi.
"apakah kamu benar-benar gak tau apa yang terjadi padamu?tentang orangtuamu yang sudah meninggal dan tentang dirimu yang seharusnya sudah gak ada di dunia ini?jangankan kamu aku sendiri juga gak tau kenapa kamu bisa ada di tahun ini"
Dokter Chen benar-benar gak tau harus berbuat apa.
__ADS_1