
"selamat pagi"
Sapa Araa ketika kedai itu dibuka.
"jam berapa kamu sampai?"
Pemilik kedai terlihat senang ketika melihat kegigihan Araa di hari pertamanya kerja.
"baru saja"
Ujar Araa sambil mengatur nafas pelan.
"masuklah dan bersihkan meja,lalu sapu lantai"
"baik"
Pagi ini Araa sengaja sarapan roti lapis dan segelas susu agar staminanya gak kendor.
"beberapa hari ini wilayah kita dipakai syuting film jadi kedai kita akan ramai ketika jam makan siang dan selesai syuting mereka juga akan menghabiskan waktu malam dengan minum-minum disini.apakah kamu gak apa-apa jika kerja lembur di hari pertama kerja?"
"gak masalah"
"baguslah,aku suka kalau pegawaiku semangat seperti kamu"
Araa terus mengumbar senyum di bibirnya.
Sudah tentu Araa harus bekerja keras,selain sulit mendapatkan pekerjaan di zaman sekarang Araa juga masih harus membalas hutang budi dokter Chen padanya.
"selamat datang,silahkan duduk"
Pelanggan pertama yang Araa layani adalah dua orang pria yang mengenakan jas, kelihatannya mereka akan pergi bekerja.
"kami pesan dua kopi karamel dan roti lapis"
"baik,mohon ditunggu"
Begitulah keramahan Araa pada para setiap pelanggan yang membuat pemilik kedai merasa puas dan bangga.
Selama Araa bekerja senyum ramahnya gak pernah lepas dari bibir mungilnya.
Menjelang siang hari kedai mulai ramai di kunjungi pelanggan, seperti yang pemilik kedai katakan kebanyakan dari pelanggan yang datang adalah para kru film yang sedang beristirahat.
Beberapa dari mereka ada yang hanya memesan segelas kopi,ada juga yang memesan makan siang.
Percakapan mereka hanya berkutat di film dan skenario,itu yang Araa dengar samar-samar.
Araa juga mendengar bahwa Catering yang biasanya mereka pakai selama syuting tutup sementara karena kehabisan bahan segar dan harus menunggu dikirim dari pemasok dalam beberapa hari.
Alhasil mereka memilih tempat makan terdekat dari lokasi syuting agar syuting tetap berjalan dan selesai tempat waktu.
"hei Joon,ayo duduk"
Araa terdiam.
"Joon??"
Nama itu masih sangat jelas dalam ingatan Araa.
Araa mencoba menoleh perlahan.
"ya ampun, ternyata benar dia,sedang apa dia di sini?"ujar Araa pelan sambil menutup mulut.
__ADS_1
Kemudian Araa baru tersadar maksud dari ucapan Joon ketika dia ada di rumahnya kala itu.
"jadi dia beneran artis?mampus..."
Gerutu Araa tanpa henti.
"hei pelayan..."
Araa berpura-pura gak mendengar dan menyibukkan diri dengan mengelap meja kasir.
"heeii....apa kamu tuli?"
Teriakan seorang pria yang semakin kencang.
Araa melirik pelayan kedai mereka terlihat sibuk melayani pelanggan yang lain dan mereka semua melihat ke arahnya.
Araa terpaksa balik badan dan menghampiri meja dimana Joon duduk.
"ada yang bisa aku bantu?"
Tanya Araa masih mencoba bersikap ramah dan mengulas senyum terpaksa.
Joon terus menatap Araa yang saat itu berusaha menyembunyikan wajahnya dengan sedikit menunduk.
"mau pesan apa?"
"dalgona coffe satu dan capuccino satu"
Ujar sutradara.
"baik, mohon ditunggu"
Araa lekas-lekas balik badan, sementara Joon masih menatap Araa dan mengingat wajah Araa yang gak asing baginya.
"aahh aku tau,kamu adalah wanita....."ujar Joon tiba-tiba membuat mereka yang satu meja dengannya terkejut.
"ada apa Joon?"
Tanya sutradara heran.
"selamat menikmati"
Araa bergegas pergi setelah meletakkan pesanan di meja.
"apa kamu mengenalnya?"
Tanya sutradara kembali karena melihat pandangan Joon yang gak berpaling sedikitpun dari Araa.
"mungkin Joon kurang istirahat jadi dia salah orang.iya kan Joon?"
Hyeon menyiku tangan Joon.
"jangan membuat gosip baru"
Ucap Hyeon dengan nada yang sangat pelan sekali.
"aahh ya, akhir-akhir ini aku memang kurang istirahat"
Joon segera tersadar.
Hyeon benar gosip tentang dirinya dan Hyeon masih di posisi paling atas,dia harus jaga sikap agar gak ada gosip baru yang beredar tentang dirinya.
__ADS_1
"istirahatlah yang cukup karena peran kamu di sini sangat besar.jangan sampai membuat fans mu kecewa"
Sutradara sangat mengerti apa yang Joon rasakan sebagai publik figur.
Joon mulai sedikit acuh dengan kehadiran Araa, begitupun Araa.
Lagian mereka bertemu juga baru sekali.
Menjelang sore.
Araa baru bisa beristirahat dan makan siang secara bergiliran itupun menunggu para kru pergi dan kembali syuting.
"kalian tau gak kalau Joon itu penyuka sesama jenis?"
"masa sih?"
"iya,bahkan dia ada sesuatu dengan manajernya"
"pantas saja selama ini dia gak pernah di gosipkan dekat dengan artis wanita?"
"sayang banget ya,padahal dia itu termasuk pria idamanku"
Begitulah yang terjadi di dapur kedai ketika para karyawan bersantai.
Mereka bergosip dengan bahagianya,gak pernah ingin mencari tau tentang fakta yang sebenarnya.mereka hanya menikmati gosip yang beredar dan akan menjadi pembicaraan hangat ketika mereka senggang.
"kalian tau kan ayahnya?dia itu duda sejak lama,kelainan yang di miliki Joon mungkin turun dari ayahnya sendiri.itulah mengapa mereka gak pernah dekat sama wanita"
"aku pernah lihat foto rumah Joon di koran. rumahnya gede banget dan kabarnya rumah Joon gak boleh di masuki orang termasuk ayahnya,dan Joon udah lama tinggal bersama dengan manajernya.kebayang gak mereka ngapain aja tiap malam,iiihh....serem ya"
Walaupun Araa belum tau pasti kebenaran tentang gosipnya Joon tapi apa yang mereka katakan ada benarnya,rumah Joon memang gak boleh di masuki sembarangan orang apalagi kamarnya.
Bagi Araa kamar ternyaman yang jadi impiannya sekarang adalah kamar Joon.
Jujur Araa sedikit rindu suasana kamar Joon yang tenang,rindu suara gemuruh air terjun, gemerisik ranting pohon,rindu memandang air kolam yang jernih,rindu suasana alam yang ada dibelakang kamar Joon.
Seandainya Araa bisa memiliki rumah semewah itu mungkin Araa juga akan melarang orang asing datang ke kamarnya.
Jika suasana hati kacau tempat terbaik adalah belakang kamar Joon.menikmati sunset sambil memandang air terjun dengan secangkir kopi.
"haah.... menyenangkan sekali rasanya"
Gumam Araa dengan bayangan kamar Joon yang memenuhi pikirannya.
Membayangkannya saja membuat Araa merasa ada di sana.
**
Jam tujuh malam.Para kru film selesai syuting.
Mereka kembali ke kedai dan menikmati beberapa botol Soju sambil berbincang santai.
Sesekali mereka tertawa renyah ketika membicarakan wanita.
Lain halnya dengan Joon yang hanya menyimak dan tersenyum.
"mungkin gosip tentang Joon dan manajernya itu benar? buktinya dia sama sekali gak tertarik membahas wanita"
Araa terus memperhatikan Joon yang terlihat bosan.
Araa langsung memalingkan wajahnya ketika Joon menoleh ke arahnya dan menatap Araa tajam.
__ADS_1
Tatapan yang pernah dia lakukan pada Araa yang berujung pengusiran dirinya dari rumah itu.
Joon bangun dari duduknya dan menghampiri Araa yang berpura-pura membersihkan piring dengan lap.