
"keluarkan aku dari sini,kalian sudah mengurungku semalaman"
"maaf nona selama gak ada jaminan atau wali anda yang datang kami gak bisa mengeluarkan anda"
"apa ini?kalian menghukum orang yang salah,cepat keluarkan aku"
Araa terus meronta dan membuat kebisingan di pagi hari.
"apakah ada yang bisa kamu hubungi,tentunya selain orang tuamu"
Hanya ini yang bisa polisi lakukan.karena menghubungi orang yang sudah meninggal tentu hal yang gak mungkin.
"Ha..."
Araa berusaha mengingat nama salah satu orang yang kemarin ada di rumah Joon.
"Ha-jaeyun...ya Ha-jaeyun...."
"apa Ha-jaeyun,maksudmu tuan Ha?hahaha.....hei coba dengar dia minta kita menghubungi tuan Ha,hahaha...."
Seluruh polisi yang ada di ruangan tertawa.
"apa yang salah,kenapa kalian tertawa?"
"dengarkan aku nona,siapapun pasti mengenal tuan Ha,tapi takutnya tuan Ha gak mengenal kamu.dia itu orang yang terkenal jadi jangan buat lelucon dengannya dia orang yang terpandang,apa kamu mengerti?"
"tapi kemarin malam aku di rumahnya,aku pikir aku meninggalkan tanda pengenal disana"
"terserah kamu nona,kami sangat sibuk jadi jangan bercanda dengan kami"
Karena nama tuan Ha gak bisa membantu Araa mencoba mengingat nama dokter yang kemarin merawatnya.
"dok... dokter Chen,ya kalian coba hubungi dokter Chen"
"haiiss.... wanita ini"
Polisi segera menghubungi dokter Chen.
Dan berharap dokter Chen segera membawa wanita itu dari kantor polisi.
Polisi merasa Araa adalah wanita gila,bukan cuma mengaku kalau dia Araa wanita yang jelas-jelas sudah meninggal tapi dia juga menyebut nama Min Hyuk Shim yang juga sudah meninggal.
Apa otaknya sudah rusak?semua nama yang dia sebut sudah meninggal,selain itu dia juga berani menyebut nama tuan Ha yang sangat terkenal untuk menjadi jaminannya.
Mendengar kata kantor polisi tentu saja dokter Chen terkejut dan segera pergi ke kantor polisi untuk melihat wanita mana yang sudah berani menyebut namanya.
"hah rupanya kamu"
Hanya itu yang keluar dari mulut dokter Chen.
Baru saja kemarin mereka bertemu dan hari ini dia harus menjadi jaminan di kantor polisi untuk wanita yang sama.
__ADS_1
Di dalam mobil Araa hanya bisa diam ketika dokter Chen bertanya alamat tujuan padanya.
Jika rumah ternyaman milik orang tuanya sudah gak ada maka kemana Araa harus pergi?ke tempat Jay?tentu saja gak mungkin.
"katakan kemana aku harus mengantarmu?"
Araa menyebar pandangan dijendela mobil.
Kemana orang tuanya pergi?kenapa gak ada kabar sama sekali jika mereka pindah?lalu kenapa polisi itu malah menghukumnya?
Banyak hal yang sama sekali gak Araa mengerti.
Dan sekarang kemana Araa harus pergi??gak ada seorangpun yang Araa kenal selain orang tua dan suaminya,kalaupun harus menemui teman kuliah Araa harus menghubungi mereka satu persatu tapi sayangnya saat ini jangankan handphone bahkan kontak merekapun Araa gak punya.
"turunkan aku di persimpangan jalan yang ada didepan itu saja"
"biar aku antar kamu sampai depan rumah"
"gak perlu dokter,rumah temanku ada disekitar situ dan gak bisa dilewati mobil"
"oh,baiklah"
Mobil itu berhenti tepat di persimpangan.
"terimakasih atas bantuannya"
"aku pergi"
Sesungguhnya dokter Chen sangat sibuk dan dia melewatkan beberapa pasien di rumah sakit demi menjadi jaminan wanita yang gak jelas.
Ada apa sebenarnya?apakah data kematian itu palsu atau tes DNA nya yang salah?
Dia bertekad harus memecahkan teka teki ini.
Araa benar-benar sangat berterimakasih pada dokter Chen,hari ini jika bukan karena dokter Chen Araa mungkin masih berada didalam sel.
Di persimpangan jalan ini sebenarnya gak ada satupun rumah temannya,Araa hanya gak mau merepotkan dokter Chen lagi dan lagi.
"aku harus kemana?"
Araa benar-benar gak punya tujuan sama sekali.
Tapi Kemanapun tujuannya hari ini,Araa hanya akan mengikuti langkah kakinya.
"lelahnya"
Selama satu jam Araa berjalan tapi masih belum menemukan tujuan.
Araa mencoba melepas rasa lelahnya dengan duduk dipinggir jalan sembari meluruskan kedua kakinya lalu menutup wajahnya dengan dua telapak tangan, menyembunyikan air matanya dari orang lain.
"bukannya kamu bilang mau ke rumah teman?kenapa diam disini?"
__ADS_1
Araa terperanjat.
"dokter Chen? ke-kenapa dokter masih disini?"
Dokter Chen melihat wajah Araa merah,ada bulir air mata yang belum sempat dia hapus dari sela matanya.
"kamu ini selain gila juga aneh,aku baru bertemu wanita seperti kamu"
"aku?mak-sud dokter?"
"jadi wanita itu harus gak tau diri,kenapa harus berpura-pura kuat dan berbohong padaku,sungguh menyebalkan"
Araa mengerti apa yang Dokter Chen katakan.tapi rasanya gak nyaman baginya jika terus merepotkan orang lain yang baru bertemu,Araa gak bisa jujur kalau dia memang gak memiliki teman dan terlunta-lunta,Araa tentu masih punya harga diri.
Kruuk
Araa menahan perutnya sambil tersenyum malu.
"haaiisss.....aku gak mau pasien gratisku bertambah,ayo"
Walaupun cara bicara dokter Chen sedikit menyebalkan tapi dia adalah orang baik pertama yang selalu ada untuk Araa.
Selama Araa makan,Dokter terlihat sedang mengobrol di telepon.entah siapa yang dia telepon malam begini.
"aku ucapkan terimakasih banyak untuk semuanya, dokter bisa turunkan aku....."
"di persimpangan jalan?hari ini aku sudah cukup direpotkan olehmu,jadi kamu cukup diam dan ikuti apa yang aku katakan, mengerti?"
Araa diam seribu bahasa.
Dia pasrah jika dokter Chen menjualnya ke tempat prostitusi,jika itu bisa membayar semua hutang budi padanya.
Mobil putih itu berhenti didepan sebuah rumah kecil yang bertuliskan "disewakan".
"aku gak punya cukup uang untuk membawa kamu ke hotel besar,satu malam disana bisa untuk sebulan disini"
Araa masih terdiam.dia hanya mengikuti setiap langkah dokter Chen.
Seorang wanita kira-kira berusia empat puluh tahun keluar dari dalam rumah dan menyapa dokter Chen.
"maaf jadi merepotkan malam begini"
"gak masalah,apa dia pacarmu"
"BUKAN...."
Dengan cepat dokter Chen menjawab.
"baiklah,semua peralatan yang ada didalam bisa kamu gunakan,tadinya aku ingin membawanya pindahan tapi suamiku terlalu baik dia membelikan semua perabotan rumah yang baru,jika kamu terlambat sedikit saja rumah ini mungkin sudah aku jual"
"baguslah,apa boleh kami melihat kedalam?"
__ADS_1
"tentu,ayo masuk"
Dokter Chen mengikuti wanita itu masuk dan Araa mengikuti dokter Chen.mereka seperti anak TK yang sedang baris masuk kedalam kelas.begitu rapih dan teratur.