Perjalanan Itu Seasik Roller Coaster

Perjalanan Itu Seasik Roller Coaster
Part 12


__ADS_3

Konflik bathin ini terjadi pada diriku sendiri. Disini awal bermula semuanya, entah memang itu berasal dari pikiranku atau memang feelingku benar akan hal ini. Entahlah sejauh seusia saat sekarang aku hanya perlu percaya pada apa yang aku rasakan, meski terkadang sakit yang kurasa namun memang itu benar terjadi apa adanya. Sekuat apapun ia menyembunyikan, namun aku juga secara tidak langsung bisa memahami bahkan merasakan bahwa itu benar terjadi adanya.


Suatu hari Rian berkunjung ke kantorku, entahlah tiba-tiba tidak ada kabar diam-diam dia berkunjung. Memberi senyuman tipis di bibirnya seolah-olah tidak ada yang di sembunyikan. Seolah-olah semuanya tidak ada yang berubah, alhasil dengan tatapan yang polos ku timbal balik tatapannya dan kuberikan senyuman. Dia mencoba mengajakku mengobrol lalu mengajakku makan siang ketika jam istirahat tiba. Aku pun mengiyakan, berharap dia mau meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat dibelakangku. Entah kenapa sakit rasanya ketika dibohongi oleh orang yang kita sayangi. Dan bahkan dia datang seolah-olah semua tidak terjadi apa-apa. Hah, dasar manusia tak punya hati


Jujur, hubungan ini sungguh sudah berubah. Tidak semanis saat di awal, tidak seceria ketika awal bertemu dan bertatap muka. Aku menyadari akan hal itu, dengan teganya orang yang aku sayangi tiba-tiba membohongiku dengan segala caranya. Dan bertingkah laku seolah tidak terjadi apa-apa. Sudah ketahuan belangnya sih menurutku. Meski cuma sekedar masalah shift pekerjaan tapi kenapa harus berlaku bohong. Ujarku di dalam hati, oke baiklah kembali lagi kumpulkan saja satu persatu kebohongan-kebohongan yang ia lakukan baik di sengaja ataupun tidak di sengaja.

__ADS_1


Biarlah orang berkata apa, yang jelas hanya aku yang mampu merasakan ini semua. Usai jam makan siang, seperti biasa Rian berpamitan pulang kepadaku. Tak ada konten jam makan siang, tak ada waktu untuk berfoto ketika makan siang. Makan siang yang penuh dengan rasa kekalutan dalam diri, rasa ingin cepat usai dan pulang ke kantor untuk meneruskan segala pekerjaan yang menumpuk. Pulanglah ia ke kotanya, berpamitan dan aku melihat dia agak sedikit memahami perubahannya. Mungkin dia paham akan itu, mungkin juga merasa biasa saja.


Entahlah, baru satu kebohongan saja rasanya sudah sesakit ini. Apa kabar semisal memang terbongkar kebohongan-kebohongan lainnya, tapi mungkin waktu belum membuat terbongkar itu semua. Terkadang jikalau kita memang tidak mencari tau, sesuatu itu akan bermunculan sendiri baik dengan cara yang disengaja atau bahkan yang tidak di sengaja. Dan aku mengikuti alur itu, alur permainan Rian. Sampai sejauh mana dia bertahan akan semua kebohongan-kebohongan itu.


Karena rasanya wagu saja ketika kita yang kepenatan kenapa harus oranglain mengerti juga. Dan aku rasa itu privasi masing-masing pribadi, tidak perlu diceritakan secara keseluruhan maupun secara sepintas. Di tahankan saja, di jalani, yakin semua akan bermunculan satu persatu rasa penat itu.

__ADS_1


Tiba-tiba hape ku berdering, kulihat bahwa Rian menghubungiku. Dia memberi kabar bahwa ia telah sampai di kotanya, dan kukatakan untuk segera mandi dan istirahat. Jalan yang jauh musti lelah dan capek, apalagi ditambah rute jalan pegunungan. Ku respon dan ku jawab dia dengan caraku biasanya. Tak berlebihan, karena aku sadar sesuatu yang berlebihan juga tidak baik rasanya. Sayangnya berlebihan bisa jadi sakitnya juga nanti jadi terlalu.


Rian juga tak lupa memberi kabar bahwa dia mendapati shift kerja jam malam. Dan akupun mengiyakan berusaha untuk menghafal shift kerjanya. Dengan rasa yang tidak percaya aku mencoba menghubungi admin di kantor Rian. Kuminta semua jadwal shift kerja Rian, untung saja akrab jadi aku bisa dengan mudahnya mendapatkan itu semua.


Next part 13 yes🙌

__ADS_1


__ADS_2