
Saat ini semua yang telah di ucapkan oleh Luisa menjadi tanda tanya besar di dalam dirinya
Bagaimana bisa seseorang adik yang tidak pernah diakui oleh kakaknya sendiri? dan bagaimana bisa seseorang adik yang kehidupannya sangat berbeda dengan sang kakak yang bergelimang harta.
Luisa mengatakan hal tersebut dengan menggelengkan kepalanya, dan pada akhirnya Luisa memilih untuk tetap melanjutkan aktivitasnya dengan cara menemani Jovan sepanjang hari ini.
"Apa yang perempuan itu lakukan malam ini ?"
Ronald mengatakan hal tersebut kepada salah satu pelayan karena hingga tengah malam Ronald tidak melihat Luisa masuk ke dalam kamar.
"Ini Luisa berada di kamar Jovan pak."
"Seret dia kemari sekarang juga!"
"Baik pak!"
Salah satu pelayan yang mendapatkan perintah seperti itu langsung meninggalkan kamar dan membawa Luisa dengan paksa keluar dari dalam kamar Jovan.
"Lepaskan!"
Luisa yang saat ini sudah berhasil di bawa kembali ke dalam kamar langsung di hempaskan begitu saja di atas tempat tidur.
"Kenapa kau tidak kembali ke kamar ini Luisa!"
"Aku ingin menemani Jovan mas!"
"Tugas mu setiap malam adalah bersama dengan ku, bukan bersama dengan Jovan, Jovan sudah mendapatkan satu suster yang akan siap menjaganya, jadi kau tenang saja."
Luisa hanya terdiam, namun karena hatinya masih sangat marah dengan apa yang telah di lakukan oleh Ronald, Luisa tidak mau menatap wajah suaminya sendiri.
"Kau marah Luisa!"
Dengan cepat Luisa langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak mas."
"Tatap wajah ku jika memang kau tidak marah!"
Ronald mengatakan hal tersebut dengan lantang di hadapan Luisa.
"Luisa!"
__ADS_1
Untuk ke dua kalinya Ronald mengatakan hal tersebut kepada Luisa.
"Aku tidak marah mas!"
Luisa mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam ke arah Ronald.
"Layani aku malam ini."
Deg
Seketika itu juga Luisa seperti tersedak dengan setiap kata - kata Ronald.
"Mas, .."
"Kenapa kau tidak mau melayani suami mu sendiri?"
Sungguh saat ini Luisa tidak bisa berkata - kata lagi dengan setiap hal yang dikatakan oleh Ronald.
"Mas, aku, aku.."
"Kau pilih aku meminta para pengawal yang melepaskan semua pakaian mu, atau kau dengan sukarela melepaskan semua itu sendiri?"
Deg
"Aku mohon untuk semua pengawal mu ini pergi, dan aku akan melakukan hal ini dengan penuh hormat bukan dengan paksaan seperti yang akan kau lakukan kepada ku."
Dengan menahan tangis Luisa mengatakan hal tersebut kepada Ronald.
"Kalian pergilah!"
Ronald mengatakan hal tersebut kepada semua pengawal, dan para pengawal satu per satu pun meninggalkan kamar.
"Lakukan sekarang seperti apa yang kau katakan kepada ku!"
Dengan menarik nafasnya dalam - dalam Luisa menganggukkan kepalanya.
Satu per satu pakaian yang dikenakan mulai di tanggalkan.
"Ini yang kau inginkan mas?"
"Mendekatlah."
__ADS_1
Deg
Untuk kesekian kalinya ada perasaan takut ketika Ronald mengatakan hal tersebut kepada Luisa.
"Luisa apakah kau tidak mendengar perkataan ku?"
"Aku tau apa yang harus aku lakukan dan aku mendengarkan semua."
Luisa mengatakan hal tersebut sambil mendekatkan dirinya ke arah Ronald.
Seperti biasa Ronald hanya memainkan dan menyentuh semua area - area sensitif Luisa tanpa melakukan penyelesaian terhadap apa yang telah dia lakukan.
"Pergilah, dan pakai baju mu lagi."
Terjadi untuk kesekian kalinya ketika Luisa mencapai titik puncak dan Ronald hanya menggantungkan semua hal yang telah dia lakukan.
Rasa pedih kini masuk ke dalam relung hati Luisa untuk yang ke sekian kalinya.
Dengan cepat Luisa mengambil semua pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Tidak, aku tidak boleh melakukan hal itu lagi, aku tidak mau!"
Dengan sekuat tenaga saat ini Luisa berusaha untuk menahan setiap hasratnya yang sangat meledak - ledak.
"Semuanya boleh terjadi lagi, aku tidak boleh kalah dengan nafsu ku sendiri, aku tidak boleh melakukan perbuatan yang menjijikkan ini, ya menjijikkan karena aku memiliki suami namun dia seakan - akan melakukan hal ini dengan senjata."
Luisa mengatakan hal tersebut lalu berlari untuk menguyur semua badannya dengan air dingin.
"Mas, apakah kau sebenarnya memiliki kelainan? atau kau memang sengaja membuat ku menderita dengan semua hal yang saat ini kau lakukan terhadap ku!"
Di bawah guyuran air dingin, dengan mencengkram ke dua tangannya sendiri, Luisa mengatakan hal tersebut sambil menangis.
Untuk pertama kalinya Luisa harus menahan hasrat yang tidak terselesaikan dan itu semua adalah ulah suaminya sendiri.
"Aku tidak akan pernah melakukan masturbasi lagi, ya tidak akan pernah, meskipun dengan sekuat tenaga aku harus menahannya."
Air mata yang mengalir dengan deras dan bercampur dengan air dingin kini menguasai tubuh Luisa yang saat ini sedang bergetar hebat.
Ya getaran yang hebat akibat ulah Ronald sang suami yang sengaja memberikan sentuhan namun tidak menyelesaikan sampai akhir demi untuk membuat Luisa menderita.
"Untuk kesekian kalinya aku membuat mu menderita Luisa, aku tidak perlu melakukan kekerasan, namun hal ini jauh menyakiti mu dari kekerasan fisik yang mungkin juga bisa aku lakukan kepada mu."
__ADS_1
Ronald mengatakan hal tersebut dengan tersenyum tipis sambil terus memperhatikan cctv tersembunyi yang sengaja dia letakkan di dalam kamar mandi, untuk bisa melihat Luisa menderita dengan semua hal yang telah dia lakukan.