PERNIKAHAN KU ( DOKTER LUISA 2)

PERNIKAHAN KU ( DOKTER LUISA 2)
TEMBAKAN FRANDA


__ADS_3

Tiba - tiba saja Luisa berhenti berkata - kata dan kini hanya bisa menatap tajam ke arah Juan."


"Ya laki - laki tersebut adalah Ronald, Ronald adalah anak dari orang telah di bunuh oleh ayah mu, bukan hanya itu saja, sebelum di bunuh, dia meminta ibu ku untuk berperan menjadi selingkuhan ayahnya, jadi semua kejahatan yang telah dilakukan tersusun dengan sempurna, dan di tutup dari anaknya


"Itu tidak mungkin Juan, papa tidak akan sekejam itu Juan."


Luisa mengatakan hal tersebut dengan menggelengkan kepalanya.


"Tuan Maksimo, laki - laki asing yang menikah dengan wanita pribumi dan mendirikan perusahaan obat - obat terlarang, saat ini beliau juga sudah membuang mu bukan? kau tau tuan Maksimo memiliki banyak harta namun dia sama sekali tidak menginginkan mu menjadi anaknya lagi."


Deg


Di saat itulah Luisa mengerti betapa ke dua orang tuanya adalah orang tua yang sangat kejam.


"Mereka bisa melakukan hal itu terhadap anak kandungnya sendiri, apalagi dengan orang lain seperti Ronald dan juga dengan ku? sebenarnya aku dan Ronald adalah korban dari keluarga besar mu Luisa."


"Tapi yang membedakan aku memilih untuk menata hati ku agar tidak memiliki dendam yang bisa membuat hancurnya jiwa ku sendiri, namun Ronald tetap memilih untuk menuntaskan dendamnya dengan mencari mu, memperkosa mu, berpura - pura baik dan mencintai mu, dan dengan perlahan membunuh batin yang pada akhirnya bisa berakhir pada kematian fisik."


Seketika itu juga Luisa terduduk dan menangis.


"Aku tidak akan pernah mengetahui semua ini jika kau tidak menceritakan hal ini Juan, sekarang justru aku memikirkan bagaimana nasib Jovan yang masih bersama dengan laki - laki kejam itu."


"Kau tidak perlu memikirkannya lagi Luisa, karena kini anak kita ada di hadapan mu!"


Terdengar teriakan dan seketika pintu terbuka, di saat yang sama Luisa bangkit dari tempat duduknya dan langsung melihat Ronald mengarahkan pistolnya ke kepala Jovan yang saat ini berada di dalam pelukannya.


"Ronald, hentikan, kau gila!"


Juan yang melihat kegilaan Jovan langsung ikut mengangkat pistolnya.


"Ya Juan aku memang gila, gila karena aku ingin membalas dendam, gila karena aku ingin membunuh semua orang yang telah terlibat di dalam pembunuhan kedua orang tua ku, tidak seperti kau kau memilih untuk diam!"


"Aku tidak mau memiliki sakit jiwa seperti mu Ronald, aku memutuskan segalanya demi kelangsungan hidup ku agar lebih baik."


Seketika itu juga Ronald tertawa.


"Ya lebih baik, namun untuk makan saja kau masih mengemis kepada ku!"


"Kau!"


Kini ke dua laki - laki itu saling menatap dengan tajam.


"Mas Ronald aku mohon lepaskan Jovan mas, aku mohon."

__ADS_1


Luisa mengatakan hal tersebut dengan berderai air mata.


"Aku tidak akan melepaskan anak ini Luisa, jika kematian anak ini membuat mu menderita maka tak segan - segan aku akan membunuhnya."


"Jangan mas, aku mohon jangan."


Dengan kuat Luisa menggelengkan kepalanya, Luisa terus memohon untuk melepaskan Jovan dari tangannya, dan di saat yang sama Juan tiba - tiba menerjang tubuh Ronald dan hal tersebut membuat Jovan langsung terlepas dari ke dua tangannya.


Kesempatan yang tidak akan di lewatkan oleh Luisa dengan langsung berlari mengambil Jovan dan membawanya ke dalam pelukan.


Luisa dan Jovan yang saat ini ketakutan melihat adegan baku hantam antara Ronald dan juga Juan.


"Hentikan, kalian bisa semakin terluka dengan apa yang telah kalian lakukan ini."


Luisa mengatakan hal tersebut dengan penuh air mata, namun seakan - akan perkataan Luisa tenggelam di dalam perkelahian mereka.


Dan di saat yang sama tiba - tiba saja Ronald melepaskan tembakan kepada Juan, tembakan tersebut mengenai ke dua kaki Juan.


"Kau lihat Juan aku juga bisa membunuh mu saat ini juga."


"Mas Ronald hentikan!"


"Diam kau wanita ******, setelah laki - laki mati baru aku akan membunuh mu!"


Sungguh saat itu suasana sangat tegang dan mencekam, tidak ada yang bisa Luisa lakukan kecuali hanya menangis dan terus menangis.


"Sekarang kau akan mati Juan, terima lah semuanya.


Ronald bersiap menembakkan pistolnya, namun tiba - tiba saja terdengar suara tembakan dari arah belakang Ronald.


Seketika itu juga Ronald tertembak, karena tembakan dari belakang tersebut tepat mengenai kepalanya.


"Franda."


Satu wanita berdiri di belakang Ronald, ya Franda yang telah melayangkan tembakan tepat ke kepala Ronald.


"Franda, apa yang telah kau lakukan?"


"Dia laki - laki jahat Luisa, aku pernah tidur dengannya lebih dari satu kali dan saat hamil aku di minta untuk mengugurkan kandung ku, rasa bersalah yang sangat dalam membuat aku ingin membunuhnya sejak lama, dia adalah laki - laki dengan tipu muslihat yang sangat luar biasa."


Franda mengatakan hal tersebut dengan menangis dan terduduk.


"Kini aku sudah membunuhnya, ya aku puas, karena dia telah memaksa ku meminum obat penggugur janin."

__ADS_1


Franda mengatakan hal tersebut dengan berderai air mata.


"Luisa aku mohon sekarang pergilah yang jauh dengan Jovan, mulai hidup baru mu."


Juan tiba - tiba saja mengatakan hal itu.


"Tidak, aku tidak mungkin meninggalkan kalian dalam keadaan seperti ini.


Luisa mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya dengan sangat kuat.


"Aku dan Franda akan mengurusnya, percaya dengan kami, semua akan baik - baik saja, pergilah Luisa, pergilah."


Juan mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam ke arah Luisa yang kini juga menatapnya.


"Juan.."


"Pergilah, kami akan mengatasinya dengan baik."


Sekali lagi Juan meyakinkan Luisa untuk segera meninggalkan rumah tersebut.


Berat hati Luisa untuk pergi dari orang - orang yang telah membantunya, namun karena desakan dari Jovan lah yang membuat Luisa pada akhirnya berdiri sambil mengangkat Jovan.


"Aku pergi, maafkan aku yang tidak bisa membantu apapun."


"Pergilah, dan jangan pernah menoleh ke belakang."


Luisa hanya bisa menganggukkan kepalanya dan langsung berlari keluar dari dalam rumah dengan membawa Jovan kecil di dalam gendongan tangannya.


Luisa berlari dan terus berlari sambil menangis, Luisa mengikuti semua yang di pesankan Juan bahwa dirinya tidak boleh menengok ke belakang ke arah rumah tersebut ketika sudah keluar.


"Aku harap kalian baik - baik saja."


Kata - kata itu yang pada akhirnya terucap dari mulut Luisa saat dirinya sudah berada di jalan besar.


Luisa masuk ke dalam taksi dan memejamkan ke dua matanya.


Tuhan jika memang engkau mengizinkan aku untuk memulai hidup baru, tunjukan aku sekarang dimana akan tinggal.


"Pak bandara ya."


Begitu membuka mata, Luisa mengatakan arah tujuan selanjutnya bersama dengan Jovan


Hai - hai dokter Luisa sesi 2 selesai yah😇, di tunggu dokter Luisa sesi ke 3

__ADS_1


__ADS_2